بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Dari Deschooling Menuju Humanizing Education Berbasis Tauhid:
Sintesis Kritis atas Gagasan Prof Daniel Mohammad Rosyid dan M. Isa Ansori tentang Pendidikan yang Memanusiakan
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Mentor Budaya Mutu, SPMI dan ISO 21000
“Banyak schooling, tapi belum tentu banyak pendidikan. Saatnya menata ulang belajar agar lebih manusiawi, beradab, dan bertauhid.”
Setiap kali bicara pendidikan, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada sekolah. Ada gedung, guru, ruang kelas, murid, kurikulum, ujian, rapor, ijazah, lalu wisuda. Seolah-olah pendidikan memang hanya ada di sana.
Padahal, jauh sebelum anak mengenal papan tulis, ia sudah belajar dari tatapan sayang ibunya, suara lembut ayahnya, kebiasaan di rumah, obrolan tetangga, masjid, pasar, sawah, jalanan, bahkan dari luka kecil dan kegagalan yang ia alami sendiri.
Kita kadang lupa, anak tidak hanya belajar ketika duduk manis di bangku kelas. Ia juga belajar ketika melihat ayahnya bekerja keras, melihat ibunya bersabar, menyaksikan video di medsos, mendengar guru menasihati dengan lembut, atau justru ketika merasa dibully oleh lingkungannya. Semua itu pendidikan. Hanya saja, belum tentu tercatat dalam rapor.
Tulisan Prof Daniel Mohammad Rosyid tentang deschooling terasa seperti mengingatkan kita pada hal sederhana yang sering terlupakan: pendidikan itu bukan cuma sekolah. Sekolah hanyalah salah satu bagian dari pendidikan, bukan satu satunya.
Namun, tanggapan M. Isa Ansori juga penting. Ia seperti mengingatkan kita agar tidak terlalu cepat membongkar rumah lama, sebelum memastikan ada tempat baru yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih manusiawi untuk anak-anak belajar. Benar bahwa sekolah sering terlalu kaku. Tetapi benar juga bahwa kebebasan belajar tanpa relasi yang sehat, tanpa bimbingan, tanpa adab, bisa melahirkan kekacauan baru.
Maka, pertanyaannya bisa bergeser, bukan lagi: apakah sekolah perlu dihapus? Tapi yang lebih penting adalah: bagaimana pendidikan dapat kembali memanusiakan manusia?
Ketika Pendidikan Terlalu Sekolah-Sentris
Kritik Prof Daniel punya kekuatan karena ia menyentuh penyakit yang sering kita abaikan. Pendidikan kita terlalu sekolah-sentris. Anak dianggap sudah belajar kalau ia duduk di kelas. Guru dianggap sudah bekerja kalau menyelesaikan administrasi. Orang tua dianggap sudah mendidik kalau beres urasan SPP sekolah. Negara merasa berhasil dalam pembangunan kalau angka partisipasi sekolah naik.
Tentu semua itu penting. Sekolah penting. Guru penting. Sarpras penting. Kurikulum juga penting. Tapi, bukankah pendidikan jauh lebih luas daripada itu?
Belajar kadang muncul ketika anak membantu ibunya berjualan di pasar, ikut ayahnya memperbaiki motor atau atap genting yang bocor, mengurus adik, menanam pohon, membuat kesalahan, lalu merenung. Di sana ada pengalaman. Di sana ada makna. Di sana ada hikmah. Di sana ada kehidupan.
Dalam hal ini, gagasan Prof Daniel dekat dengan Ivan Illich yang mengkritik ketergantungan masyarakat modern pada institusi sekolah. Ia juga sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara yang melihat pendidikan sebagai tuntunan terhadap kodrat anak, bukan proses mencetak manusia seperti barang pabrik. Anak bukan bahan baku industri. Anak adalah manusia yang sedang tumbuh.
Kritik terhadap standardisasi juga sangat relevan. Setiap anak berbeda (individual differences), tetapi sekolah sering memakai ukuran yang sama. Standar yang sama. Yang cepat dipuji. Yang lambat dicap bermasalah. Yang pandai matematika dianggap cerdas. Yang pandai berlari dan memanjat pohon, pandai merawat tanaman, menggambar, bertani, berdagang, atau menenangkan temannya sering tidak masuk radar prestasi.
Namun kritik ini juga perlu dijaga agar tidak berlebihan. Tidak semua sekolah adalah pabrik. Banyak sekolah justru menjadi tempat aman bagi anak yang rumahnya tidak ramah. Banyak guru menjadi teman dan penyelamat bagi murid yang tidak didengar di keluarganya. Banyak anak miskin mengenal buku, perpustakaan, bahasa, dan harapan hidup justru dari sekolah.
Karena itu, deschooling sebaiknya tidak dipahami sebagai ajakan anti-sekolah. Yang perlu dikritik bukan keberadaan sekolah, melainkan ketika sekolah merasa dirinya sebagai satu-satunya wajah pendidikan.
Relasi yang Ikut Sakit
Di sinilah tanggapan M. Isa Ansori memberi warna lain. Ia membaca masalah pendidikan dengan teori Transactional Analysis dari Eric Berne. Dalam teori ini, manusia sering saling berinteraksi melalui tiga posisi: Parent atau sisi orang tua, Adult atau sisi orang dewasa, dan Child atau sisi anak-anak.
Parent adalah sisi diri yang suka mengatur, menasihati, melindungi, atau kadang menghakimi. Adult adalah sisi diri yang berpikir jernih, menimbang keadaan, berdialog, dan mengambil keputusan secara sadar. Sedangkan Child adalah sisi diri yang spontan, ingin bebas, merdeka, kreatif, tetapi kadang juga mudah takut, impulsif, atau sekadar mengikuti perintah. Ketiganya ada dalam diri setiap orang, termasuk guru, murid, orang tua, dan kepala sekolah.
Kalau dimaknai secara sederhana, sekolah sering bertindak sebagai Parent yang terlalu mengatur. Punya standar. Guru menjadi pemberi instruksi. Murid menjadi Child yang harus patuh. Relasi seperti ini mungkin membuat kelas tampak tenang dan teratur, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang berpikir.
M. Isa mengingatkan bahwa membebaskan anak dari sekolah yang kaku belum tentu membuatnya dewasa. Bila struktur lemah, dan kemampuan Adult tidak terbangun, anak bisa jatuh pada kebebasan yang impulsif. Anak bebas memilih, tetapi tidak tahu arah. Ia punya internet, tetapi tidak bisa memilih konten yang sehat. Ia punya akses informasi, tetapi tidak punya kemampuan memilah makna.
Poin M. Isa tentang keluarga juga penting. Kita sering berkata, “kembalikan pendidikan kepada keluarga.” Kalimat ini tidak salah, tetapi belum selesai. Sebab tidak semua keluarga menjadi tempat pulang yang aman. Ada keluarga yang harmonis penuh kasih, tetapi ada juga yang penuh tekanan. Ada rumah yang menumbuhkan, ada rumah yang melukai.
Karena itu, bila keluarga ingin dikembalikan sebagai pusat pendidikan pertama, keluarga juga perlu dikuatkan. Orang tua perlu belajar mendampingi anak, membangun komunikasi yang sehat, memberi teladan, dan menciptakan rumah yang aman bagi pertumbuhan jiwa anak. Mereka tidak cukup hanya menjadi penyedia biaya sekolah, tetapi perlu hadir sebagai pendidik pertama yang menuntun anak mengenal nilai, tanggung jawab, dan arah hidup.
Pendidikan yang Memanusiakan
Dari dua pandangan ini, saya melihat jalan terbaik bukan sekadar deschooling, tetapi humanizing education berbasis tauhid.
Pendidikan yang memanusiakan bukan hanya soal membuat anak lebih bebas. Bukan juga sekadar membuat kelas lebih menyenangkan. Dalam perspektif Islam, memanusiakan manusia berarti mengembalikan manusia kepada fitrah, adab, tanggung jawab moral, dan orientasi tauhid.
Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang adab, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi tentang worldview Islam, dan Dr Adian Husaini tentang pendidikan beradab terasa relevan. Pendidikan Islam juga membutuhkan ruh keilmuan yang hidup. Di sinilah warisan Ulama kharismatik Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki memberi cahaya. Dalam tradisi ilmu yang beliau jaga, ilmu tidak boleh berhenti sebagai kecerdasan, apalagi sekadar alat mencari status. Ilmu harus melahirkan adab, tawadhu, khidmah, cinta kepada guru, dan kedekatan kepada Allah. Tanpa ruh seperti ini, pendidikan bisa tampak maju, tetapi kehilangan keberkahan.
Kalau pendidikan dibangun di atas pandangan sekuler-industrial, manusia mudah dilihat sebagai sumber daya. Ia dinilai dari produktivitas, kompetensi, dan daya saing. Semuanya berguna, semua penting, tentu saja. Tetapi manusia lebih luas dari daftar kompetensi kerja.
Dalam worldview Islam, manusia adalah hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Ia belajar bukan hanya agar pintar, tetapi agar tahu diri, tahu adab, tahu tanggung jawab, dan tahu arah kemana harus pulang.
Karena itu, humanizing education berbasis tauhid bukan hanya membuat anak percaya diri, guru lebih ramah, sekolah lebih fleksibel, dan orang tua lebih hadir dalam proses belajar anak. Lebih dari itu, ia menata ulang orientasi pendidikan: dari sekadar mengejar sukses dunia menuju keselamatan hidup dunia dan akhirat; dari sekadar kompetensi menuju adab; dari sekadar kebebasan menuju tanggung jawab.
Bukan Membongkar, Tapi Menyembuhkan
Pendidikan kita hari ini seperti rumah besar yang terlalu sibuk mengecat dinding, tetapi lupa memeriksa fondasi. Kita bicara kurikulum baru, platform baru, asesmen baru, teknologi baru. Memang semua itu penting. Tetapi kalau relasi di dalamnya tetap dingin, adab tetap lemah, guru tetap dibebani administrasi, keluarga tetap menyerahkan semuanya kepada sekolah, dan ilmu tetap dipisahkan dari tauhid, maka perubahan hanya berganti nama.
Deschooling penting sebagai kritik. Ia mengguncang kesadaran kita bahwa belajar tidak boleh dikurung oleh tembok-tembok tinggi di sekolah. Transactional Analysis juga penting karena mengingatkan bahwa pendidikan adalah relasi. Tetapi keduanya perlu dituntun oleh orientasi yang lebih dalam: tauhid.
Jadi, sekolah tidak harus dibubarkan. Yang perlu dilakukan adalah menyembuhkannya. Keluarga juga jangan hanya dipuji sebagai tempat pendidikan pertama, tetapi perlu benar-benar dikuatkan. Teknologi pun tidak perlu dimusuhi, asal kita tahu cara menggunakannya dengan adab.
Peran guru juga tidak boleh direduksi menjadi operator kurikulum. Dalam tradisi pendidikan Islam, guru adalah mu‘allim, murabbi, muaddib, dan teladan. Ia bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menumbuhkan manusia. Dan tentu saja pekerjaan ini tidak bisa digantikan oleh mesin, secanggih apa pun mesin itu.
Pendidikan masa depan harus menghubungkan ilmu dengan praktik kehidupan. Anak belajar bukan hanya untuk menjawab soal, tetapi untuk menjawab berbagai ujian hidup. Ia belajar matematika agar jujur dalam ukuran dan timbangan. Ia belajar bahasa agar santun dalam berbicara. Ia belajar sains agar kagum pada ciptaan Allah. Ia belajar sejarah agar rendah hati membaca tingkah laku perjalanan manusia.
Sebagai penutup, pendidikan yang baik bukan yang paling lengkap dokumen standarnya, bukan yang paling tebal kurikulum, atau paling tinggi gedungnya. Pendidikan yang baik adalah yang membuat manusia semakin manusia: merdeka pikirannya, sehat relasinya, halus adabnya, kuat tanggung jawabnya, dan lurus orientasi hidupnya kepada Allah.
Itulah makna humanizing education berbasis tauhid. Bukan sekadar membebaskan manusia dari sekolah yang kaku, tetapi menuntun manusia agar tidak kehilangan dirinya di tengah hingar bingar dunia.
Referensi
Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. Muslim Youth Movement of Malaysia.
Arif, M. (2020). Konsep etika guru perspektif Abuya As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki dan relevansinya di era milenial. Fikrotuna: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam, 12(2).
Berne, E. (1961). Transactional analysis in psychotherapy: A systematic individual and social psychiatry. Grove Press.
Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian pertama, pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). Herder and Herder.
Husaini, A. (2010). Pendidikan Islam: Membentuk manusia berkarakter dan beradab. Cakrawala Publishing.
Illich, I. (1971). Deschooling society. Harper & Row.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice Hall.
Rogers, C. R. (1969). Freedom to learn: A view of what education might become. Charles E. Merrill.
Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan kapitalisme Barat. Tsaqafah, 9(1), 15–38.
Instagram: @mutupendidikan




