• +628123070905
  • mutupendidikan.info@gmail.com

Budaya Mutu

Sistem Manajemen Mutu Sekolah

Mengenal Sistem Penjaminan Mutu Sekolah

“Mengenal Sistem Penjaminan Mutu Sekolah”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah-sekolah harus dilakukan secara terus-menerus. Walaupun demikian, proses pendidikan tidak  boleh berhenti hanya menunggu penyempurnaan sistem, sarana, dan sumber daya manusia.

Sebagai institusi pendidikan, sekolah selalu menjadi perhatian utama untuk terus diperbaiki dan dijaga kualitas proses pembelajarannya. Pengelolaan sekolah harus dilakukan secara efektif, yakni mampu menciptakan proses belajar pada diri siswa. Dalam upaya pengelolaan sekolah secara efektif diterapkan  Manajemen Berbasis sekolah (School-Based Management).

Silahkan diunduh file PowerPoint (PDF) dibawah ini:


PowerPoint (PDF):

Mengenal SIstem Manajemen Mutu Pendidikan


Realisasi Manajemen Mutu berbasis sekolah sangat berkaitan erat dengan pelaksanaan otonomi daerah, tentang pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepemerintah daerah dalam wujud otonomi daerah.

Tujuan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
  1. Agar sekolah lebih berdaya
  2. Sekolah makin akrab dengan masyarakat
  3. Tercipta iklim belajar mengajar yang makin bermutu
  4. Kepala sekolah mempunyai otonomi yang luas
  5. Sekolah dan guru-gurunya menjadi lebih sejahtera
Pilar Penyangga MBS
  1. Pemberdayaan
  2. Transparansi
  3. Standardiasi mutu
  4. Partisipasi masyarakat
  5. Akuntabilitas

Peningkatan mutu akademik, sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pendidikan, merupakan proses dalam rangka pembangunan sumber daya manusia.

Peningkatan mutu akademik harus dilakukan secara terarah, terencana, dan insentif sehingga mampu menyiapkan bangsa Indonesia dalam memasuki  era globalisasi yang sarat persaingan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu akademik, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, pengadaan buku dan alat pengajaran, perbaikan sarana dan prasarana, serta peningkatan mutu manajemen sekolah.

ACUAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
  • Reliability, yaitu ketepercayaan pemakaian jasa pendidikan .
  • Assurance, yaitu keterjaminan program pendidikan yang ditawarkan.
  • Tangible, yaitu kebersihan, kesehatan, kerapian, keteraturan dan kenyamanan lingkungan pendidikan.
  • Empaty, yaitu perhatian terhadap aspirasi dan kebutuhan pelanggan pendidikan.
  • Responsiveness, yaitu tanggap terhadap keluhan pemakai jasa pendidikan.
DEFINISI KUALITAS

Kualitas merupakan tingkat (degree) atau taraf atau derajat melakukan kabaikan sesuatu. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1999:677), kualitas atau mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, keadaan , taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan dan sebagainya).

Menurut Garvin (Giri, 2008:2), ada lima macam perspektif kualitas yang dapat menjelaskan mengapa kualitas diartikan beraneka ragam, sebagai berikut .

  1. Transcendental approach, kualitas dipandang  sebagai innate excellence, dimana kualitas dapat dirasakan, diketahui, tetapi sulit didefiniskan dan dioperasionalisasikan.
  2. Product-based approach, bahwa kualitas merupakan atribut ataupun spesifikasi secara kuantitatif dan dapat diukur.
  3. User-based approach, bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya sehingga pelayanan yang paling memuaskan preferensi seseorang merupakan pelayanan yang paling berkualitas tinggi.
  4. Manufacturing-based approach, mendasari diri pada supply dan terutama memerhatikan praktik-praktik perekayasaan dan manufaktur serta mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian dengan persyaratan.
  5. Value-based approach, memandang kualitas dari segi nilai dan harga.
TIGA KOMPONEN DASAR KUALITAS PELAYANAN.
  1. Kualitas teknis atau hasil. Apa yang pelanggan terima dalam interaksinya dengan perusahaan jelas sangat penting untuk mereka dan pada penilaian kualitas mereka.
  2. Kualitas fungsional atau yang diberikan dengan proses. Selain itu pelanggan juga dipengaruhi oleh bagaimana mendapat pelayanan atau bagaimana dia mengalami proses produksi dan konsumsi yang simultan, yang merupakan dimensi dari kualitas, yang sangat terkait dengan hubungan pembeli dan penjual sehingga disebut kualitas fungsional.
  3. Citra perusahaan. Biasanya penyedia layanan tidak dapat bersembunyi dibalik nama merek.

Bedasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas  merupakan derajat keunggulan suatu produk (barang/jasa), baik yang tangible maupun yang intangible yang bersifat relative dan dinamis.

Dalam pandangan modern, kualitas bersifat relatif karena kriterianya tergantung pada konsumen atau pihak-pihak yang memanfaatkan produk itu.

Pengertian relatif mengandung maksud bahwa barang atau jasa sesuai dengan tujuan penggunaannya. Suatu produk yang berkualitas tidak sekedar berfungsi sesuai peruntukannya tetapi juga harus memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain sesuai dengan harapan konsumen.

 DIMENSI KUALITAS

Ketika orang mengatakan suatu produk berkualitas, maka alasan mereka biasanya tidak tunggal. Misalnya, pelanggan transportasi bus mengatakan bahwa perusahaan angkutan itu berkualitas.

Alasan mengatakan berkualitas boleh jadi karena busnya nyaman, supirnya tidak ugal-ugalan, harganya relatif murah, tepat waktu dan lainnya. Dengan kata lain, kualitas bus jasa angkutan bus memiliki banyak dimensi sehingga dipersepsikan berkualitas oleh konsumen atau pelanggan.

SEPULUH DIMENSI KUALITAS PELAYANAN
  1. Reliability mencakup dua hal pokok, yaitu konsitensi kinerja dan keandalan.
  2. Responsiveness berfokus pada sikap kesediaaan dan kesiapan dari karyawan untuk menyediakan pelayanan.
  3. Competence berarti memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan.
  4. Access meliputi kemudahan untuk dicapai atau dihubungi.
  5. Courtesy melibatkan kesopanan, rasa hormat, pertimbangan dan keakraban dari tiap karyawan.
  6. Communication berarti menjaga pelanggan tetap mendapatkan informasi dalam bahasa yang pelanggan mengerti dan mendengarkan pelanggan.
  7. Credibility melibatkan sikap dapat dipercaya, jujur, mendapatkan perhatian pelanggan dengan sikap yang terbaik.
  8. Security merupakan bebas dari kata bahaya, risiko, maupun keraguan.
  9. Understanding/knowing the customer berarti berusaha untuk mengerti kebutuhan pelanggan.
  10. Tangibles meliputi bukti fisik dari pelayanan.
DIMENSI KUALITAS PRODUK YANG BERBENTUK BENDA
  1. Kinerja, seberapa baik suatu produk melakukan apa yang harus dilakukan.
  2. Features, pernik-pernik yang melengkapi atau meningkatkan fungsi dasar produk.
  3. Keandalan, berkaitan dengan kemampuan produk untuk bertahan selama penggunaan yang biasa.
  4. Kesesuaian, seberapa baik produk tersebut sesuai dengan standar.
  5. Daya tahan, ukuran umur produk, dan teknologi modern memungkinkan teknologi ini.
  6. Kemudahan perbaikan, produk yang digunakan untuk jangka waktu tertentu, sering harus diperbaiki.
  7. Keindahan, kualitas produk tidak saja tergantung dari kemampuan fungsional, tetapi juga keindahan.
  8. Persepsi terhadap kualitas, dimensi ini tidak didasarkan pada produk itu sendiri tetapi pada citra atau reputasinya.
DIMENSI PADA KUALITAS JASA
  1. Tidak Berwujud, dapat dilihat pelanggan saat jasa sedang dikerjakan, fasilitas, pegawai, perlengkapan dan peralatan.
  2. Keandalan, sama seperti produk berupa barang, jasa juga harus andal.
  3. Responsif, pelanggan tidak ingin harus menunggu untuk dilayani.
  4. Kepastian, pelanggan mengharapkan personel jasa sopan dan terpelajar.
  5. Empati, personel jasa harus menunjukkan perhatian yang tulus pada para pelanggan dan kebutuhan mereka.
PENTINGNYA KUALITAS

Kualitas adalah sesuatu yang sangat penting bagi organisasi. Kualitas bukan hanya sekedar persoalan reputasi organisasi, melainkan juga bentuk pertanggung jawaban moral produsen kepada konsumen.

Dengan suatu peningkatan kualitaslah produsen mampu memuaskan konsumen. Dengan produk yang berkualitas maka masyarakat konsumen akan terhindar dari produk-produk yang merugikan dan membahayakan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Kualitas dianggap penting Bagi organisasi karena:
  1. Meningkatkan reputasi organisasi
  2. Penurunan biaya
  3. Peningkatan pangsa pasar
  4. Pertanggungjawaban produk
  5. Dampak internasional
  6. Penampilan produk atau jasa
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Istilah penjaminan mutu (quality assurance) pada awal dipakai dalam dunia bisnis. Penjaminan mutu dimaksudkan untuk menciptakan budaya peduli mutu. Penjaminan mutu dibutuhkan institusi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Penjaminan mutu bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam aktifitas program kerjanya dan semua aspek-aspeknya melalui proses evaluasi dan perbaikan diri secara terus menerus.

Manajemen mutu merupakan satu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan berintegrasi yang diarahkan dalam rangka, yaitu;

  1. Memenuhi pelanggan secara konsisiten.
  2. Mencapai peningkatan terus-menerus dalam setip aspek aktivitas organisasi.

Mutu pendidikan didefinisikan sebagai tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem Pendidikan Nasional. Definisi tersebut terjemahan dari aspek proses dan produk pendidikan, sebagai berikut.

  1. Proses pendidikan, yaitu upaya sistematis oleh institusi dan perorangan dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah sesuai dengan konsensus nasional melalui undang-undang Sistem Pendidikan nasional.
  2. Proses pendidikan, yaitu segala yang dihasilkan dalam pendidikan melalui persekolahan yang menjadi harapan masyarakat dan sesuai konsensus nasional.

Sistem penjaminan mutu pendidikan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem penjaminan mutu. Aplikasi standar dalam sistem pendidikan mencakup dua kegiatan besar.

  1. Peningkatan mutu yang dilandaskan dengan target mutu yang sekolah harapkan.
  2. Mengukur mutu pencapaian kinerja untuk mengetahui tingkat pemenuhan standar berdasarkan target program yang telah ditetapkan.

Jaminan mutu internal (internal quality assurance) adalah kearah penjaminan yang dapat memenuhi mutu yang dijanjikan dan diharapkan masyarakat. Kegiatan penjaminan mutu difokuskan pada proses membangun kepercayaan dengan cara pemenuhan segala persyaratan atau standar minimum sesuia yang diharapkan oleh pelanggan

Baca juga: Pengantar Total Quality Management

Secara umum dapat dikemukakan, sistem penjaminan mutu pendidikan dikembangkan untuk tujuan sebagai berikut;

  1. Sebagai acuan dalam memetakan mutu pengelolaan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota, sekolahan dan pembelajaran.
  2. Proses dan produk SPMP dapat meyakinkan bahwa pendidikan dan pembelajaran telah dapat diupayakan secara terus-menerus memuaskan bagi peserta didik, orang tua siswa dan masyarakat, sumberdaya pendidikan sekolah, dan para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan.
  3. Menentukan model fasilitasi peningkatan kinerja sekolah, meliputi sistem pembelajaran, manajemen berbasis sekolah dan pemberdayaan masyarakat pendidikan pada masyarakat luas dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.

Tujuan akhir penjaminan mutu pendidkan adalah tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dicita-ciakan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang dicapai melalui penerapan SPMP.

Tujuan antara yang hendak dicapai melalui sistem penjaminan muu pendidikan ini adalah terbangunnya sistem penjaminan mutu pendidikan, sebagai berikut.

  1. Terbangunnya budaya mutu pendidikan formal, non formal dan informal.
  2. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan non formal pada satuan atau program  pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dab pemerintah.
  3. Diterapkannya secara nasional acuan mutu dalam pejaminan mutu pendidikan formal dan non formal.
  4. Terpetakannya secara nasional mutu pendidikan formal dan non formal yang dirinci menurut provinsi, kabupaten atau kota dan satuan atau program pendidikan.
  5. Terbangunnya sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan tersambung yang menghubungkan satuan program pendidikan, penyelenggara satuan atau atau program  pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah.
PRINSIP DASAR SISTEM PENJAMINAN MUTU SEKOLAH /PENDIDIKAN
  1. Keberlanjutan
  2. Terencana dan sistematis, dengan kerangka waktu dan target-target capaian mutu yang jelas dan terukur dalam jaminan mutu pendidikan formal dan non formal.
  3. Menghormati otonomi satuan pendidikan formal dan non formal
  4. Memfasilitasi pembelajaran informal masyarakat berkelanjutan dengan regulasi Negara yang seminimal mungkin.
  5. SPMP merupakan sistem terbuka yang terus disempurnakan secara berkelanjutan
Sistem Penjaminan Mutu Sekolah mengacu pada mutu kehidupan manusia sekurang-kurangnya mencakup:
  1. Mutu keimanan, ketakwaan, akhlak, budi pekerti dan kepribadian.
  2. Kompetensi intelektual, estetik, psikomotorik,kinestetik, vokasional, serta kompetensi kemanusiaan lainnya sesuai dengan bakat, kompetensi dan minat masing-masing.
  3. Muatan dan tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang mewarnai dan memfasilitasi kehidupan.
  4. Kreativitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan.
  5. Tingkat kemandirian serta daya saing dan kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya

Pengukuran kecepaian standar mutu acuan dilakukan setelah audit kinerja, akreditasi, sertifikasi dan bentuk lain pengukuran capain mutu pendidikan.

Audit kinerja dilakukan dengan cara monitoring. Akreditasi merupakan salah atu pengukuran ketercapaian standar acuan mutu pendidikan yang dilakukan secara eksternal oleh badan akreditasi. Sedangkan sertifikasi merupakan pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian standar mutu yang berkaitan dengan standar pendidik.

Penjaminan mutu pendidikan informal dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat dapat melakukan upaya penjaminan mutu pendidikan informal secara perorangan, kelompok maupun kelembagaan.

PENDEKATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN SISTEM PENJAMINAN MUTU SEKOLAH
  1. Perbaikan secara terus-menerus
  2. Penentuan standar mutu.
  3. Perubahan kultur.
  4. Perubahan organisasi.
  5. Mempertahankan hubungan dengan pelanggan

Demikian uraian singkat tentang Sistem Penjaminan Mutu Sekolah. bermanfaat.

خَيْرُالناسِأَنْفَعُهُمْلِلناسِ

____________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

IG: @mutupendidikan

Konsultasi, Online / Offline Training, Pelatihan & In-house Training

Karakter & Budaya Mutu SPMI

Membangun Karakter & Budaya Mutu SPMI

“Membangun Karakter & Budaya Mutu SPMI”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mutu Tidak Terletak pada “Dokumen”

Membuat produk dan jasa yang bermutu, seperti jasa pendidikan tentu saja tidak mudah. Tidak cukup dengan hanya membuat sistem dokumen mutu yang terdiri dari kebijakan SPMI, standar, prosedur maupun manual mutu.

Mutu tidak terletak pada tinta diatas kertas. Mutu ada pada diri pribadi-pribadi manusia yang menjadi penggerak roda organisasi.

Mutu terletak pada nilai-nilai, emosi, sikap dan kepribadian anggota organisasi secara keseluruhan. Semua level dalam organisasi memiliki andil penting dalam mewujudkan arti sebuah mutu.

Semua anggota organisasi harus memiliki kepedulian, perilaku dan sikap yang sesuai untuk membangun sebuah mutu.

Pentingnya Karakter & Sikap Positif

Dalam membangun mutu, yang perlu dibangun adalah sikap masing-masing individu anggota organisasi.

Secara definisi, pengertian sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang relatif permanen mengenal aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. 

Komponen-komponen sikap terdiri dari pengetahuan (kognitif), perasaan-perasaan (afektif), dan kecenderungan untuk bertindak (psikomotorik).

Contoh bentuk sikap-sikap yang positif (mendukung mutu) antara lain sikap peduli, kreatif, bertanggung jawab, jujur, melayani, responsif, proaktif dll.

Sedangkan sebaliknya, contoh sikap-sikap yang negatif (tidak sesuai dengan mutu) seperti sikap acuh, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, pasif, kaku dll.

Peran Pemimpin dalam Membangun Sikap

Bagaimana terbentuknya sikap dari seorang karyawan? Sikap seorang karyawan dapat terbentuk dari pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan dan lingkungan pendidikan yang mereka peroleh sebelumnya.

Organisasi tempat kerja, bisa juga membentuk sikap kerja melalui proses rekruitmen, seleksi, pelatihan, pembinaan serta pengkondisian dengan sistem mutu yang ada.

Peran utama ada pada faktor pemimpin. Pemimpinlah yang memberi arahan, motivasi, teladan, reward & Punishment.

Dengan arahan pemimpin dan didukung sistem manajemen mutu yang baik, perilaku karyawan akan dapat dibimbing kearah budaya mutu secara konsisten dan konsekuen.

Perilaku mutu yang dilakukan secara terus menerus lama kelamaan akan menjadi habit (kebiasaan). Kebiasaan yang dilakukan oleh seluruh karyawan akan menjadi budaya, dan bila budaya tersebut semakin kuat akan menjadi karakter organisasi.

Membangun mutu dengan karakter yang sesuai, bisa dipastikan jauh lebih efektif dan efisien. Bagaimana pendapat Anda?

Baca juga: Membangun Budaya Mutu Organisasi

Demikian uraian singkat tentang Membangun Karakter & Budaya Mutu SPMI. Semoga bermanfaat dan sukses Mutu Pendidikan Indonesia.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

_____________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

IG: SDM Unggul Indonesia Maju

Konsultasi, Online / Offline Training, Pelatihan & In-house Training

Mutu dan proses Benchmarking Lembaga Pendidikan

Mutu & Benchmarking untuk Lembaga Pendidikan

“Mutu & Benchmarking untuk Lembaga Pendidikan”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tujuan utama dari Benchmarking adalah untuk mengenal dan mengevaluasi proses ataupun produk saat ini sehingga menemukan cara-cara atau  “Praktek Terbaik” untuk meningkatkan proses maupun kualitas produk.

Benchmarking dapat dilakukan untuk produk,  proses produksi, jasa maupun sistem dalam suatu organisasi/perusahaan.

Benchmarking dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan “Tolok Ukur” atau “Patokan”. Benchmarking adalah proses mengidentifikasikan “Best Practice” terhadap suatu produk/jasa dan proses produksinya hingga produk tersebut dikonsumsi.

Benchmarking memberikan gambaran yang diperlukan untuk membantu manajemen dalam memahami proses dan produknya baik dengan cara membandingkannya dengan Industri yang sejenis maupun dengan industri-industri yang lain.

Tahapan Proses Benchmarking

Proses Benchmarking adalah proses yang mencoba melihat/mempelajari faktor luar (produk lain, organisasi lain, sistem lain) untuk mengetahui bagaimana pihak lain mencapai tingkat kinerja dan memahami proses-proses kerja yang mereka gunakan.

Benchmarking dapat menjelaskan apa yang terjadi dibalik keberhasilan/ kinerja baik proses ataupun produk yang dibandingkan. Apabila diimplementasikan dengan benar, Benchmarking dapat membantu suatu organisasi/lembaga untuk meningkatkan prestasi/ kinerja organisasinya maupunpun proses-proses didalamnya.

Jenis-jenis Benchmarking

Benchmarking dapat dilakukan kedalam organisasi (secara Internal), yang dilakukan adalah membandingkan kinerja beberapa kelompok atau tim di dalam Organisasi.

Sedangkan Benchmarking eksternal adalah membandingkan kinerja suatu organisasi dengan organisasi lainnya atau antar Industri. Benchmarking dapat pula dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :

  • Strategic Benchmarking, adalah Benchmarking yang mencoba mengamati bagaimana orang atau organisasi lain mengungguli persaingannya.
  • Product Benchmarking, adalah yaitu Benchmarking yang membandingkan produk atau layanan pesaing dengan produk sendiri untuk mengetahui letak kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) produknya.
  • Process Benchmarking, adalah Benchmarking yang membandingkan proses-proses kerja.
  • Functional Benchmarking, adalah Benchmarking yang melakukan perbandingan pada Fungsional kerja tertentu untuk meningkatkan operasional pada fungsional tersebut.
  • Financial Benchmarking, adalah Benchmarking yang membandingkan kekuatan finansial untuk mengetahui daya saingnya.
  • Performance Benchmarking, adalah Benchmarking yang membandingkan kinerja pada produk atau jasa.
4 tahapan penting Benchmarking :
  • Memahami secara detail proses produksi atau produk saat ini.
  • Menganalisis/ mempelajari proses produksi atau produk lainnya yang berkinerja baik.
  • Membandingkan proses produksi atau produk sendiri dengan proses produksi atau produk yang berkinerja baik.
  • Menerapkan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan untuk memcontoh/ mendekati proses produksi ataupun produk yang berkinerja baik tersebut.

Baca juga: Pengendalian Proses Statistik

Benchmarking untuk Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan, baik pendidikan tinggi, sekolah dan madrasah, juga sangat dianjurkan untuk melakukan proses benchmarking. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kegiatan benchmark perlu diselenggarakan sebagai salah satu program Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

Dalam lingkungan yang semakin disrupsi saat ini, lembaga pendidikan tidak boleh cepat merasa puas dengan prestasi yang telah dihasilkan selama ini. Lengah sedikit, maka akan ketinggalan dalam memberikan layanan terbaik untuk stakeholdernya.

Dengan mengimplementasikan proses benchmarking, manajemen akan memperoleh bahan-bahan yang valid untuk pengambilan keputusan untuk melakukan continuous improvement.

Pakar Benchmarking, Robert Camp dalam bukunya, mengemukakan Metodologi Benchmarking yang terdiri dari 12 Tahapan, antara lain :

  1. Memilih Subyek Benchmarking, misal benchmarking tentang:
    • Proses belajar mengajar di PT lain.
    • Proses Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat.
    • Proses Penerimaan Mahasiswa baru
    • Proses Layanan Perpustakaan
    • Proses layanan Perpustakaan online
    • Kuliah jarak jauh (distance learning)
    • Proses pengelolaan keuangan
    • Proses kerjasama luar negeri dll
  2. Menentukan Proses-proses yang akan di teliti
  3. Mengidentifikasikan Mitra/partner yang berpotensi untuk dibandingkan
  4. Mengidentifikasikan sumber-sumber data
  5. Mengumpulkan data-data
  6. Menentukan kesenjangannya yang terjadi
  7. Menetapkan perbedaan proses
  8. Target kinerja yang diharapkan
  9. Melakukan Komunikasi dengan berbagi pihak terkait
  10. Penetapkan Tujuan
  11. Menerapkan/ implementasi
  12. Meninjau ulang dan penyesuaian ulang

Baca juga: Kunjungan Bisnis & Pendidikan ke Jepang

Pertanyaan Diskusi:
  1. Sejauh mana lembaga pendidikan perlu melakukan kegiatan Benchmarking?
  2. Proses-Proses apa saja yang menurut saudara perlu dilakukan bencmarking?
  3. Apa saja kendala yang mungkin dihadapi ketika melakukan Benchmarking lembaga pendidikan?

Untuk memahami lebih dalam tentang metodologi Benchmarking, berikut dapat di unduh/ download ppt materi berikut ini:

Klik Link dibawah ini:

Demikian uraian singkat tentang Mutu & Benchmarking untuk Lembaga Pendidikan, semoga bermanfaat dan berkah selalu.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

______________________________

mutupendidikan.com

Kunjungi: Pelatihan & Pendampingan

IG: @mutupendidikan

Pelatihan SPMI dan Budaya Mutu Pendidikan

Membangun Budaya Mutu Organisasi

“Membangun Budaya Mutu Organisasi”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Budaya Mutu merupakan sistem nilai dari sebuah organisasi yang menghasilkan keadaan lingkungan yang kondusif dalam pembentukan perbaikan yang berkelanjutan dalam segi mutu. 

Budaya Mutu terdiri dari nilai-nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang mengedepankan mutu. Lembaga pendidikan seperti Perguruan Tinggi, Sekolah dan Madrasah, yang ingin menerapkan manajemen Total Quality, penting sekali untuk membangun budaya mutu sedini mungkin.

Silahkan diunduh file PowerPoint berikut:

_________________________________

Belajar Mudah dengan PowerPoint (PDF):

Membangun Budaya Mutu

Follow Instagram: @mutupendidikan

_________________________________

Poin-Poin Bahasan:

Budaya Mutu & Peran Penting Pemimpin

Perubahan budaya adalah salah satu tantangan yang paling sulit bagi banyak organisasi. Budaya organisasi akan sulit untuk dirubah /diperbaiki tanpa perubahan  terlebih dahulu dari seorang pemimpin. Sebagaimana Ki Hajar Dewantoro mengajarkan:

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”

Petuah tokoh pendidikan ini menjelaskan bagaimana peran penting figur pemimpin. Pemimpin memainkan peran sentral dalam membangun budaya mutu. Bawahan sudah tentu punya kecenderungan meniru perilaku pemimpin sebagai “role model“.

Pemimpin yang punya kepedulian pada mutu, akan ditiru oleh para bawahan. Sebaliknya pemimpin yang acuh pada kegiatan menjaga mutu akan ditiru pula oleh para bawahan.

Contoh & Pengertian Budaya Mutu
  • Secara luas terbagi dalam filosofi manajemen
  • Menekankan pada sumber daya manusia organisasi
  • Menyelenggarakan  acara perayaan  organisasi/ ritual.
  • Pengakuan dan penghargaan bagi karyawan yang sukses
  • Jaringan internal yang efektif untuk mengkomunikasikan  budaya
  • Aturan perilaku informal 
  • Sistem nilai yang kuat
  • Standar kinerja yang lebih tinggi
  • Karakter organisasi  yang didefinisikan.
Strategi Membangun Budaya Mutu
  • Mengidentifikasi perubahan /perbaikan yang dibutuhkan
  • Masukkan perubahan yang direncanakan secara tertulis
  • Mengembangkan rencana untuk membuat perubahan
  • Memahami proses transisi emosional
  • Mengidentifikasi orang-orang dan mendukung mereka
  • Mengambil pendekatan hati dan pikiran
  • Menerapkan strategi courtship
  • Mendukung program Budaya Mutu

________________________________________

Pertanyaan:
  1. Bagaimana lembaga pendidikan ditempat Anda membangun budaya mutu?
  2. Bagaimana pendapat Anda tentang kutipan berikut: “Your Culture is Your Brand“.
  3. Tantangan apa yang dihadapi lembaga pendidikan dalam membangun budaya mutu?

________________________________________

Langkah Mempertahankan Budaya Mutu
  • Mempertahankan kesadaran mutu sebagai kunci penting
  • Pastikan bahwa ada banyak bukti kepemimpinan manajemen
  • Memberdayakan dan mendorong pengembangan diri dan inisiatif diri karyawan
  • Kenali dan hargai perilaku yang cenderung memelihara dan mempertahankan budaya mutu

Baca juga: Membangun Mutu dengan Karakter

Bagaimana ulasan selanjutnya? Silahkan diunduh tautan PowerPoint (ppt) diatas.

Demikian uraian singkat tentang Membangun Budaya Mutu Organisasi. Semoga bermanfaat & Salam Mutu Pendidikan.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

___________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

Pemberdayaan Karyawan & Sistem Manajemen Mutu

TQM, Motivasi dan Pemberdayaan Karyawan

“TQM, Motivasi dan Pemberdayaan Karyawan”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pemberdayaan karyawan (Employee Empowerment) merupakan filosofi dan strategi yang digunakan organisasi untuk memberi ruang bagi dosen/ guru/ karyawannya membuat keputusan dan berperilaku sesuai tujuan organisasi.

Pemberdayaan karyawan mampu membuat karyawan lebih punya rasa bangga dan ownership terhadap pekerjaan mereka.

Dengan pemberdayaan karyawan, ada ruang untuk mengambil keputusan sendiri juga mendorong mereka berpikir kreatif serta berinovasi.

Pengertian Pemberdayaan Karyawan:
  • Pemberdayaan karyawan (Employee Empowerment) yang dimaksud berarti proses berfikir dari sebuah organisasi menuju cara-cara yang lebih baik.
  • Pemberdayaan dimaksudkan sebagai masukan dari karyawan yang didengarkan dan diimplementasikan, dan itu akan membuat karyawan senang atas pekerjaan mereka dan akan merasa memilikinya.
  • Pemberdayaan mensyaratkan sebuah perubahan dalam sebuah budaya organisasi, tapi bukan berarti  pimpinan melepaskan tanggungjawab dan wewenangnya.

Silahkan diunduh file power point (PDF) berikut ini:

_________________________________

Belajar Mudah dengan PowerPoint (PDF):

Bab 8: Pemberdayaan Karyawan

Follow Instagram: @mutupendidikan

_________________________________

Poin-poin penting tentang Pemberdayaan Karyawan

Pentingnya pemberdayaan karyawan:
  • Meningkatkan kreatifitas berfikir dan inisiatif karyawan yang dampaknya akan meningkatkan daya saing organisasi.
  • Dapat menjadi motivator yang luar biasa bagi karyawan.
Hambatan Pemberdayaan:

Hambatan utama pemberdayaan adalah adanya penolakan untuk berubah. Penolakan bisa saja datang dari karyawan, perserikatan, dan manajemen.

Hambatan-hambatan manajemen termasuk:

  • Rasa tidak aman. Pegawai atau karyawan dapat merasa tidak aman bila tidak ada kejelasan dan ketentuan peraturan. Rasa tidak aman dapat menurunkan motivasi kerja dan menghanbat pencapaian mutu organisasi yang telah ditetapkan. Bagaimana pimpinan lembaga pendidikan menciptakan rasa aman dalam iklim organisasi?
  • Ego, Karakter dan Nilai-nilai pribadi. Nilai-nilai dapat membentuk ego dan keprobadian seseorang. Tantangan bagi pimpinan lembaga pendidikan untuk membangun nilai-nilai positif yang sesuai budaya mutu.
  • Pelatihan manajemen. Sudah barang tentu pelatihan dan pengembangan merupakan unsur penting dalam konsep total quality management. Membangun mutu perlu didukung SDM yang kompeten. SDM yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai kebutuhan organisasi.
  • Pemecatan/exclusion. Unsur keadilan merupakan faktor penting dalam organisasi yg menerapkan sistem mutu. Nilai-nilai keadilan harus dijaga dan diimplementasikan dengan sungguh-sungguh. Penerapan reward dan punishment harus dilandaskan dengan nilai keadilan yang hakiki.
  • Struktur organisasi. Struktur organisasi sangat mempengaruhi efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan organisasi. Struktur organisasi mempengaruhi organisasi untuk bertindak lincah dan cepat (lean & agile). Struktur organisasi mengatur tentang formalitas, kewenangan & kompleksitas organisasi.
  • Praktek manajemen. Bagaimana pimpinan organisasi menjalankan fungsi-fungsi manajemen? Tentu nilai-nilai total quality ( budaya mutu) harus senantiasa dikedepankan.
Catatan untuk Lembaga Pendidikan:

Lembaga Pendidikan (Perguruan Tinggi, Sekolah dan Madrasah) perlu mengembangkan program pemberdayaan karyawan yang tepat sasaran. Dosen, Guru dan Pegawai tenaga kependidikan perlu ditingkatkan partisipasinya agar SDM yang ada dapat lebih produktif bagi pencapaian Visi dan Misi Organisasi.

__________________________________

Pertanyaan Diskusi:

  1. Uraikan contoh-contoh penerapan pemberdayaan karyawan pada lembaga pendidikan?
  2. Bagaimana pemberdayaan karyawan (dosen, guru & tenaga kependidikan) berpengaruh pada implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)?

Demikian uraian singkat tentang TQM, Motivasi & Pemberdayaan Karyawan, semoga bermanfaat.

______________________________

mutupendidikan.com

E-Learning Pengembangan SPMI

Explore: Training & Development

Peran SOP bagi Manajemen Pendidikan / Sekolah

Peran SOP bagi Manajemen Pendidikan / Sekolah

“Mengenal Peran SOP bagi Manajemen Pendidikan / Sekolah”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pertanyaan Pembuka
  1. Bagaimana peran penting STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) bagi manajemen organisasi pendidikan?
  2. Bagaimana kiat membuat SOP yang efektif dan efisien?
  3. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi lembaga pendidikan dalam pembuatan SOP?

Untuk lebih jelasnya, silahkan di unduh file Slideshare berikut ini:

___________________________

Belajar Mudah dengan Power Point (PDF):

Peran SOP bagi manajemen pendidikan

Follow Instagram: @mutupendidikan

___________________________

Organisasi Pendidikan (Madrasah, Perguruan Tinggi, Sekolah Dasar dan Menengah) adalah kumpulan dua orang atau lebih yang tergabung karena ketertarikan, minat, dan niat yang sama.

Kumpulan ini yang kemudian secara sah membentuk badan hukum sebagai wadah untuk mencapai tujuan pendidikan.

Tujuan Organisasi dapat dicapai melalui berbagai aktivitas operasional dan manajerial. Untuk menciptakan kesamaan pemahaman terhadap aktivitas organisasi, Standar, manual dan prosedur operasi harus dibakukan dengan menetapkan Standard Operating Procedures (SOP).

Pengertian SOP (Standard Operating Procedure)

Standard Operating Procedure (SOP) adalah pedoman yang berisi tahapan, langkah-langkah, prosedur-prosedur operasional standar yang ada dalam suatu organisasi.

SOP ini digunakan untuk memastikan bahwa setiap keputusan, langkah, atau tindakan, dan penggunaan fasilitas pemrosesan dilaksanakan oleh orang-orang di dalam suatu organisasi, telah berjalan secara efektif, konsisten, standar, dan sistematis.

Makna Penting SOP
  • Prosedur kerja harus dilakukan secara benar dan konsisten
  • SOP harus menjadi pengendalian mutu terhadap proses kegiatan organisasi. Contoh: SOP Penelitian, SOP Perkuliahan online dll.

Baca juga: Unsur-unsur penting dalam SOP

Siapa Pengguna SOP

SOP menjadi pedoman bagi para pelaksana pekerjaan. Ini bisa berarti para Dosen, Guru, Tenaga Pendidikan, karyawan produksi, resepsionis, office boy, supir, staf administrasi di lembaga pendidikan, staf perpustakaan, supervisor dan manager dll.

Kapan SOP diperlukan?

SOP tidak harus dibuat untuk semua kegiatan/ proses dalam organisasi. SOP cukup dibuat untuk kegiatan-kegiatan tertentu yang penting dan beresiko, seperti:

  • Bila sering terjadi masalah dalam proses penciptaan nilai tambah.
  • SOP digunakan utk menilai apakah pekerjaan tsb sudah dilakukan dgn baik atau tidak.
Pengembangan SOP

Secara garis besar, langkah-langkah pengembangan SOP adalah sbb:

  • Susun draf SOP
  • Lakukan uji coba SOP sebelum dijalankan & lakukan revisi setelah 1-2 bulan trial.
  • Lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja yg bisa diakibatkan oleh adanya tehnologi baru, tambahan pekerja, lokasi berbeda, dan semua yg mempengaruhi lingkungan kerja
  • Mintakan masukan dari para pelaksana untuk menjadi bahan perbaikan SOP

Baca juga: Peran penting SOP bagi Sekolah & PT

Demikian uraian singkat tentang Peran SOP bagi Manajemen Pendidikan / Sekolah. Untuk uraian lengkapnya dapat diunduh power point (PDF) pada tautan diatas. Semoga bermanfaat.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

_____________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

_____________________________

In-House Training Online / Offline:
 “Penyusunan SOP Lembaga Pendidikan”

Customer Service Anda disini

Kendala utama implementasi SPMI

Quo Vadis SPMI

“Mencermati kendala utama implementasi SPMI Lembaga Pendidikan”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tidak sedikit lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi/ Sekolah/ Madrasah) yang menerapkan sistim penjaminan mutu internal (SPMI), tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

Program penjaminan mutu (SPMI) telah dilaksanakan, perangkatnya telah disiapkan, dokumennya telah dibangun, investasi jutaan rupiah telah dikeluarkan, namun perbaikan mutu yang diharapkan tidak kunjung dapat dirasakan dan tidak ada perubahan signifikan, bahkan tragisnya semua pelaksana menjadi apatis, mengapa hal ini dapat terjadi?

SPMI hanya diterapkan secara formalitas belaka, Standar dan dokumen SPMI lainnya disusun sekedarnya, budaya mutu tidak dibangun sesuai kebijakan SPMI yang telah dibangun.

Silahkan diunduh file power point (PDF) berikut ini:


Belajar mudah dengan PowerPoint (PDF):

Quo Vadis SPMI

IG: @mutupendidikan


Dari begitu banyak problem/ kendala implementasi SPMI diantarannya adalah sbb:

  • Lemahnya komitmen dari otoritas institusi pendidikan (PT, Sekolah dan Madrasah)
  • Lemahnya dasar hukum untuk menjamin legalitas pelaksanaan SPMI-PT & SPMP Sekolah /Madrasah.
  • Gaya kepemimpinan yang kurang optimal
  • Keterbatasan jumlah dan kompetensi SDM pada PT/ Sekolah yang paham tentang SPMI secara utuh dan benar.
  • Ketidak-pedulian dari para pemangku kepentingan internal tentang pentingnya budaya mutu dalam penyelenggaraan pendidikan.
  • Budaya penolakan (resistance) yang kuat terhadap setiap perubahan, termasuk perubahan ke arah perbaikan mutu, dari pejabat struktural, dosen, guru maupun tenaga kependidikan.
  • Kelemahan dalam sosialisasi terhadap seluruh pemangku kepentingan, termasuk juga kesalahan strategi pengelolaan organisasi.
  • Sikap dan pendapat bahwa tanggungjawab untuk menjamin, meningkatkan, dan membudayakan mutu hanya terletak pada Pimpinan atau para pejabat struktural, dan bukan pada setiap individu yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
  • Kelemahan dalam merumuskan isi kebijakan, standar dan manual SPMI, termasuk kelemahan dalam perumusan indikator Sasaran keberhasilan yang terukur.
  • Ketidak-siapan sarana dan prasarana di bidang teknologi informasi.

Bagi kawan2  yang berminat mendapatkan bahan lebih lengkap, silahkan diunduh file power point (PDF) diatas.

Baca juga:

Pengelolaan, Kepemimpinan, dan Pemberdayaan

Kebijakan SPMI dan Permasalahannya

Demikian sekilas informasi tentang Kendala utama implementasi SPMI, semoga bermanfaat dan salam mutu.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

Visi Misi Organisasi

TQM Pendidikan: Visi, Misi, Nilai & Tujuan

“TQM Pendidikan: Pembangun Visi, Misi, Nilai & Tujuan”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Membangun Pernyataan Visi, Misi dan Nilai-Nilai suatu Lembaga Pendidikan merupakan hal yang sangat penting.

Visi dan Misi yang baik akan memberi panduan dan arah yang jelas bagi anggota organisasi untuk melangkah mencapai cita-cita bersama.

Dalam perencanaan strategik, tugas pimpinan lembaga pendidikan adalah membangun pernyataan Visi, Misi, Nilai dan Tujuan organisasi.

Silahkan diunduh file power point (PDF) berikut:

_____________________

Belajar mudah dengan PowerPoint (PDF):

Visi, Misi & Tujuan

IG: @mutupendidikan

_____________________

Berikut poin-poin penting tentang Visi, Misi, Nilai & Tujuan
Pengertian Visi:
  • Pernyataan visi mengisyaratkan tujuan puncak dari sebuah institusi & untuk apa visi itu dicapai.
  • Visi harus singkat, langsung, & menunjukkan tujuan puncak institusi, misalnya : “Seluruh pelajar kita akan sukses”
  • Beberapa organisasi membuat visi yang : pendek, singkat, dan mudah diingat
  • Untuk institusi pendidikan, kalimat seperti “Menyediakan Standar Belajar yang Unggul” bisa menjadi sebuah statemen visi yang tepat
Pengertian Misi:

Statemen misi sangat berkaitan dengan visi dan memberikan arahan yang jelas baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Pernyataan Misi yang Efektif:
  • HARUS mudah diiingat
  • HARUS mudah dikomunikasikan
  • Sifat dasar bisnis HARUS diperjelas
  • HARUS ada komitmen terhadap peningkatan mutu
  • HARUS berupa statemen tujuan jangka panjang dari sebuah organisasi
  • HARUS difokuskan pada pelanggan
  • HARUS fleksibel
Pengertian Nilai-Nilai Organisasi:
  • Merupakan prinsip-prinsip yang menjadi dasar operasi dan pencarian organisasi tersebut dalam mencapai visi & misinya.
  • Nilai-nilai tersebut mengekspresikan kepercayaan dan cita-cita institusi.
Contoh Nilai-Nilai Lembaga Pendidikan:
  1. KITA mengutamakan para pelajar kita
  2. KITA  bekerja dengan standar integritas profesional tertinggi
  3. KITA bekerja sebagai tim
  4. KITA memiliki komitmen terhadap peningkatan yang kontinyu
  5. KITA  memberikan kesempatan yang sama pada semua
  6. KITA akan memberikan mutu pelayanan tertinggi
Pengertian Tujuan / Sasaran Lembaga Pendidikan:
  • Sering diekspresikan sebagai sasaran & cita-cita
  • Sebuah tujuan harus: diekspresikan dalam metode yang TERUKUR sehingga hasil akhirnya dapat dievaluasi
  • REALISTIS
  • DAPAT DICAPAI
Pertanyaan Diskusi:
  1. Apakah Lembaga Pendidikan perlu memiliki Visi, Misi, Nilai-Nilai dan Tujuan?
  2. Bagaimana cara menyusun Visi yang realistis namun juga visioner?
  3. Apa yang dimaksud dengan misi lembaga pendidikan?
  4. Dalam pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), bagaimana evaluasi saudara terkait keberadaan Visi, Misi, Nilai-Nilai dan Tujuan?

Baca juga: SPMI & Peran Penting Kepemimpinan

Slideshare (Power Point) visi, misi & nilai-nilai Organisasi yang kami sarikan dari buku Total Quality Management in Education yang di tulis oleh Edward Sallis. Materi tersebut dapat diunduh (download) pada tautan diatas.

Semoga bermanfaat & Sukses Mutu Pendidikan, Sukses SPMI

خَيْرُالناسِأَنْفَعُهُمْلِلناسِ

_________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

Penyusunan Prosedur SPMI Pendidikan

Mengenal Standard Operating Procedure

“Mengenal Standard Operating Procedure “

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pendahuluan

Salah satu tugas penting Tim Penjaminan Mutu adalah memfasilitasi adanya sistem mutu yang efektif dan efisien. Salah satu perangkat yang perlu dikembangkan untuk implementasi SPMI diantaranya adalah Standard Operating Procedure (SOP).

Setiap Organisasi yang memiliki Visi, Misi, dan Tujuan, membutuhkan SOP sebagai upaya untuk mewujudkannya.

Tugas pemimpin lembaga pendidikan adalah memberikan komitmen dan arahan agar SOP yang diperlukan organisasi dapat dikembangkan dengan baik.

Silahkan diunduh file power point (PDF) dibawah ini:

_________________________

Power Point (PDF):

SOP bag 1: Mengenal Sandard Operating Procedure

Follow Instagram: @mutupendidikan

_________________________

Pengertian Standard Operating Procedure
  • SOP adalah suatu panduan yang menjelaskan secara terperinci bagaimana suatu proses harus dilaksanakan (FEMA).
  • SOP adalah 1 set perintah kerja atau langkah langkah yg harus diikuti untuk menjalankan suatu pekerjaan dgn berpedoman pada tujuan yg harus dicapai (www.iso9000store.com)
  • SOP adalah serangkaian instruksi yang menggambarkan pendokumentasian dari kegiatan yang dilakukan secara berulang pada sebuah organisasi (EPA)
  • SOP adalah serangkaian instruksi yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah
SOP dibangun bertujuan untuk:
  • Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas/pegawai terkait.
  • Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.
  • Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi.
Manfaat Standard Operating Procedure
  • SOP yg baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi antara pelaksana dan pengawas, dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten
  • Para pekerja akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yg harus dicapai dalam setiap pekerjaan
  • SOP juga bisa dipergunakan sbg salah satu alat training dan bisa dipergunakan untuk mengukur kinerja karyawan
SOP dibuat panjang atau pendek?
  • Tidak ada aturan yg membatasi panjang pendeknya SOP
  • Walau demikian, SOP yg ringkas akan lebih mudah dilaksanakan. SOP kerja yg panjang bisa dibagi menjadi 2-3 SOP (seperti SOP Tahap Persiapan, SOP Tahap Pelaksanaan dan SOP Tahap Penyelesaian)
Apakah SOP harus dibuat rinci?
  • Prosedur harus berisi semua langkah yg penting yg harus dijalankan dgn seragam oleh semua pekerja. Hilangnya salah satu langkah penting akan menyebabkan terjadinya variasi dalam menjalankan prosedur
  • Prosedur tidak mungkin dibuat sedemikian detil sehingga semua pertanyaan pekerja bisa terjawab. Prosedur tidak untuk menggantikan training dan feedback, oleh karena itu pembuat SOP tidak harus berusaha menjawab semua pertanyaan yg mungkin akan muncul

Baca juga: Peran SOP bagi Manajemen Pendidikan / Sekolah

Bagaimana dengan uraian unsur-unsur yang lain? Untuk penjelasan unsur-unsur yang lain, silahkan diunduh file power point (PDF) pada tautan diatas.

Baca Juga:

Demikian uraian singkat tentang Mengenal Standard Operating Procedure. Semoga bermanfaat.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

____________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development

____________________________

Kepemimpinan, SPMI & Budaya Mutu

SPMI & Peran Penting Kepemimpinan

“SPMI & Peran Penting Kepemimpinan”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Untuk membangun Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) & budaya mutu pada lembaga pendidikan, tentu saja dibutuhkan pola kepemimpinan yang sesuai (Leadership style). Mencetak pemimpin yang efektif tentu saja tidak mudah, perlu proses dalam bentuk pendidikan dan pelatihan.

Edward Sallis dalam bukunya Total Quality Management in Education menjelaskan panjang lebar tentang pola kepemimpinan TQM pada organisasi kependidikan. Bagaimana penjabarannya?


Silahkan diunduh file presentasi berikut ini:

Peran Kepemimpinan Lembaga Pendidikan

IG: @mutupendidikan


Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah sebuah kemampuan atau kekuatan dalam diri seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam hal bekerja, dimana tujuannya adalah untuk mencapai target (Standar) organisasi yang telah ditentukan 

SPMI & Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan unsur penting dalam SPMI. Pemimpin harus membangun visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik.

Perspektif Kepemimpinan Lembaga Pendidikan
  • Membangun Visi dan simbol-simbol
  • MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi institusi
  • Fokus pada kepentingan pelajar
  • Otonomi, eksperimentasi dan antisipasi tergadap kegagalan
  • Menciptakan rasa ’kekeluargaan’
  • Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas dan antusiasme
Komitmen  pada Mutu

Komitmen terhadap mutu harus menjadi peran utama bagi seorang pemimpin.

Mengkomunikasikan Visi
  • Dalam Institusi Pendidikan, seluruh pimpinan harus menjadi pengerak dan pejuang proses mutu. Mereka harus mengkomunikasikan visi dan menggerakkan/ menginspirasi ke seluruh orang dalam institusi.
  • Mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).
  • Mengembangkan segenap potensi tenaga pengajar / tenaga kependidikan dan memberikan mereka kesempatan yang luas untuk berinisiatif.
Fungsi Utama Pemimpin Lembaga Pendidikan
  • Memiliki visi mutu terpadu bagi institusi
  • Memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu
  • Mengkomunikasikan pesan-pesan mutu
  • Memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi
  • Mengarahkan perkembangan & karir karyawan
  • Berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lain saat persoalan muncul tanpa bukti-bukti yang nyata
  • Memimpin gerakan inovasi dalam institusi
  • Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat.
  • Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan, baik yang bersifat organisasional maupun Kultural.
  • Membangun tim kerja yang efektif.
  • Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan

Baca juga: Pengelolaan, Kepemimpinan, dan Pemberdayaan

Untuk uraian selanjutnya, silahkan di unduh file Slideshare power point (PDF) pada tautan diatas.

Demikian semoga uraian singkat tentang SPMI & Peran Penting Kepemimpinan, semoga bermanfaat.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

__________________________

mutupendidikan.com

Explore: Training & Development