Mahasiswa bukan bahan baku industri

Mahasiswa Bukan Bahan Baku Industri

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mahasiswa Bukan Bahan Baku Industri

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Mentor Budaya Mutu, SPMI dan ISO 21000

“Jika kampus hanya mengejar serapan kerja, mahasiswa bisa berubah menjadi angka. Padahal di balik angka ada manusia yang sedang tumbuh.”

Belakangan ini, isu tentang masa depan program studi kembali ramai dibicarakan. Salah satunya setelah Prof. Badri Munir Sukoco menyampaikan pandangan dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 di Badung, Bali, Kamis, 23 April 2026. Ia menyinggung perlunya perguruan tinggi melihat kembali prodi-prodi yang ada: mana yang masih relevan, mana yang perlu diperkuat, dan mana yang mungkin tidak lagi sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja masa depan.

Isu itu penting. Bahkan sangat penting. Tidak ada perguruan tinggi yang boleh menutup mata dari perubahan dunia kerja. Kampus tidak hidup di ruang hampa. Industri berubah. Teknologi berubah. Cara orang bekerja berubah. Harapan dan kebutuhan masyarakat juga berubah. Maka wajar kalau prodi diminta lebih peka membaca tanda-tanda zaman.

Namun ada satu hal yang perlu kita jaga: jangan sampai ketika kita bicara relevansi pendidikan tinggi, mahasiswa hanya dilihat sebagai calon tenaga kerja.

Seolah mahasiswa hanya bahan mentah. Kampus menjadi pabrik. Prodi menjadi lini produksi. Kurikulum menjadi mesin. Lulusan menjadi produk akhir. Lalu industri menjadi pasar.

Pelajari Layanan Kami…

Pandangan seperti ini mungkin terdengar efisien. Bahkan terasa masuk akal dalam bahasa kebijakan. Tetapi kalau menjadi satu-satunya cara membaca pendidikan, ada sesuatu yang perlu diwaspadai.

Mahasiswa memang perlu disiapkan, dididik, dilatih untuk bekerja. Itu jelas. Orang tua mengirim anaknya ke kampus tentu berharap anaknya punya masa depan yang lebih baik. Mahasiswa kuliah juga berharap ilmunya bermanfaat, bisa membuka jalan hidup, dan membantu mereka mandiri.

Namun, mahasiswa bukan bahan baku industri.

Mereka datang ke kampus bukan hanya membawa KRS, tas, dan daftar mata kuliah. Mereka membawa harapan. Membawa kebingungan. Membawa cita-cita yang kadang masih samar.

Mereka membawa rasa takut pada masa depan. Ada yang ingin mengangkat derajat orang tua. Ada yang ingin keluar dari keterbatasan dan kemiskinan. Ada yang ingin menemukan jati dirinya. Ingin menemukan potensi terbaiknya.

Manusia tidak sesederhana angka serapan kerja. Tidak sesederhana angka statistik.

Data lulusan tetap penting. Masa tunggu kerja penting. Kesesuaian bidang kerja penting. Kepuasan pengguna juga penting. Tetapi mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai angka. Sebab di balik setiap angka ada wajah, ada nurani, ada cerita, ada pergulatan, ada manusia yang sedang bertumbuh.

Dalam tradisi pendidikan humanistik, Carl Rogers mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan. Pendidikan adalah ruang yang membantu manusia bertumbuh, mengenali dirinya, belajar bertanggung jawab, dan menjadi pribadi yang lebih utuh.

Kalau gagasan Carl Rogers dibawa ke kampus, tugas prodi bukan hanya membuat mahasiswa lulus mata kuliah. Prodi juga perlu membantu mahasiswa menemukan arah dan jadi diri: ilmu ini akan digunakan untuk apa, dan kepada siapa ia akan memberi manfaat.

Amartya Sen dan Martha Nussbaum mempunyai gagasan yang cukup menarik. Capability Approach. Ukuran keberhasilan manusia tidak cukup dilihat dari gaji, pendapatan atau pekerjaan. Yang lebih mendasar adalah apakah pendidikan memperluas kemampuan manusia untuk berpikir, memilih, bekerja, berpartisipasi, menjaga martabat, dan menjalani hidup yang bernilai.

Maka istilah “siap pakai” perlu dipakai dengan hati-hati. Manusia bukan alat yang tinggal dipakai. Mahasiswa bukan komponen yang dipasang ke mesin industri. Mereka perlu siap bekerja, itu tidak kita pungkiri. Tetapi mereka juga perlu siap berpikir. Siap memilih. Siap berkreasi. Siap berbeda pendapat. Siap mengabdi. Siap hidup bermartabat.

Dalam khazanah pemikiran Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui The Concept of Education in Islam menempatkan adab atau ta’dib sebagai inti pendidikan. Pendidikan bukan hanya soal menambah informasi, tetapi membentuk manusia agar tahu tempat dirinya, ilmunya, dan tanggung jawabnya. Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia baik dan beradab, bukan sekadar manusia yang terampil secara teknis. Ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang cerdas, tetapi tidak selalu bijaksana. Terampil, tetapi tidak selalu berarah. Produktif, tetapi belum tentu membawa kebaikan.

Pandangan ini penting untuk pendidikan hari ini. Kampus bisa saja berhasil melahirkan lulusan yang cepat menjawab kebutuhan pasar, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia yang tahu untuk apa kepintarannya digunakan. Belum tentu paham ke mana ilmunya harus diarahkan, untuk siapa keterampilannya diabdikan, dan nilai apa yang harus dijaga ketika ia memasuki dunia kerja. Sebab kepintaran tanpa arah mudah berubah menjadi sekadar alat, sedangkan ilmu yang disertai adab akan membantu manusia bekerja dengan martabat dan memberi manfaat.

Dr. Adian Husaini, dalam artikel Pendidikan Tinggi Bukan Pabrik, Ini Masalah Serius Bangsa (2025), mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak bisa diperlakukan seperti pabrik atau industri. Dalam pemberitaan lain, gagasan itu juga dirumuskan dengan kalimat yang lebih tajam: sekolah bukan pabrik, murid bukan produk. Kalimat ini menusuk. Begitu pendidikan diperlakukan seperti pabrik, yang dicari biasanya hanya efisiensi, standar, prosedur, dan keluaran yang seragam. Padahal mahasiswa tidak pernah seragam. Mereka datang dari rumah yang berbeda, luka yang berbeda, mimpi yang berbeda, panggilan hidup yang berbeda, dan jalan hidup yang tidak sama.

Kampus memang perlu dekat dengan dunia kerja. Tetapi dekat tidak berarti tunduk patuh sepenuhnya. Kampus perlu mendengar industri dan stakeholder lainnya, tetapi tidak boleh kehilangan nuraninya sendiri. Kampus perlu bicara kompetensi, tetapi juga harus bicara karakter. Perlu bicara keterampilan, sikap dan soft skills. Kampus juga harus bicara kebijaksanaan (wisdom).

Stefan Collini, dalam What Are Universities For? (2012), mengingatkan bahwa universitas tidak bisa dipersempit menjadi mesin ekonomi jangka pendek. Kampus memang perlu menyiapkan lulusan untuk bekerja, tetapi tugasnya tidak berhenti di sana: ia juga membentuk manusia pemikir, memahami problem dunia, dan hidup lebih bermartabat.

Karena itu, ketika kita membicarakan relevansi prodi, jangan berhenti pada pertanyaan: lulusan ini akan terserap di industri mana? Pertanyaan ini penting. Tapi belum cukup.

Kita juga perlu bertanya: apakah kampus membantu mahasiswa berpikir lebih jernih? Apakah ia belajar berempati pada masyarakatnya? Apakah ia memiliki keberanian moral? Apakah ia mampu melihat manusia lain bukan hanya sebagai pesaing, tetapi sebagai sesama?

Pendidikan tinggi yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan yang cepat bekerja. Pendidikan tinggi yang baik membantu mahasiswa menjadi manusia yang sanggup bekerja, sanggup berpikir jernih, beradab, dan memberi makna.

Jadi, mahasiswa memang perlu disiapkan menghadapi tantangan dunia kerja. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai bahan baku industri. Mereka bukan sekadar input-proses-output dalam sistem ekonomi. Mereka adalah anak-anak merdeka yang sedang dibantu untuk tumbuh.

Masa depan bangsa tidak hanya membutuhkan tenaga kerja. Ia membutuhkan manusia.


Referensi

Al-Attas, S. M. N. (1991). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. International Institute of Islamic Thought and Civilization. https://books.google.com/books/about/The_Concept_of_Education_in_Islam.html?id=hfxwnQAACAAJ

ANTARA News. (2026, April 23). Kemdiktisaintek bakal tutup prodi yang tak relevan dengan kebutuhan. https://www.antaranews.com/berita/5539337/kemdiktisaintek-bakal-tutup-prodi-yang-tak-relevan-dengan-kebutuhan

Collini, S. (2012). What are universities for? Penguin. https://www.penguin.co.uk/books/182024/what-are-universities-for-by-collini-stefan/9781846144820

Husaini, A. (2025, September 21). Pendidikan tinggi bukan pabrik, ini masalah serius bangsa. https://www.adianhusaini.id/detailpost/pendidikan-tinggi-bukan-pabrik-ini-masalah-serius-bangsa

Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The human development approach. Harvard University Press. https://books.google.com/books/about/Creating_Capabilities.html?id=Gg7Q2V8fi8gC

Rogers, C. R. (1969). Freedom to learn: A view of what education might become. C. E. Merrill Publishing Company. https://books.google.com/books/about/Freedom_to_Learn.html?id=qJxpAAAAMAAJ

Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press. https://sen.scholars.harvard.edu/publications/development-freedom

Instagram: @mutupendidikan

Scroll to Top