بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Apakah SPMI Masih Relevan di Era AI?
Oleh:
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Mentor Budaya Mutu, SPMI dan ISO 21000
“Di era AI, mutu tak bisa lagi hidup di tumpukan dokumen. Saatnya bertanya: masih relevankah SPMI dalam bentuk yang lama?”
Di banyak perguruan tinggi, SPMI terlalu lama hidup sebagai urusan dokumen. Kita paham semua. Kebijakan SPMI disusun, Standar ditulis, formulir diisi, rapat digelar, laporan disusun, lalu semuanya masuk map atau server. Selesai. Rapi, lengkap, dan tampak meyakinkan. Masalahnya, dunia di luar kampus tidak menunggu kerapian itu.
AI datang dengan kecepatan seperti gelombang tsunami. Ia masuk ke ruang kelas, ke meja dosen, ke laptop mahasiswa, bahkan ke cara tugas dikerjakan. Mahasiswa kini bisa merangkum buku dalam hitungan detik, menyusun kerangka tulisan dalam beberapa menit, bahkan menghasilkan jawaban yang tampak tertata indah tanpa benar-benar memahami isi. Dosen pun mulai memakai AI untuk menyiapkan bahan ajar, merancang soal, atau meringkas data. Sementara itu, di banyak kampus, sistem mutunya masih bergerak dengan ritme yang itu-itu saja: periodik, administratif, dan lambat.
Lalu kita bertanya: apakah SPMI masih relevan di era AI?
Jawaban saya tegas: masih, tetapi tidak dalam bentuk yang sekarang banyak dipraktikkan. Yang masih relevan adalah SPMI yang adaptif. Yang mulai usang adalah SPMI yang dokumen-sentris.
Kalimat simpelnya: kalau mutu hanya hidup di dokumen, ia akan selalu tertinggal dari perubahan.
Kita mesti jujur mengakui, banyak praktik SPMI selama ini lebih sibuk membuktikan bahwa sistem berjalan daripada memastikan bahwa mutu benar-benar membaik. Energi habis untuk melengkapi bukti. Kita merapikan istilah, menyamakan format panduan, dan menyesuaikan redaksi. Padahal mutu pendidikan tidak pernah sungguh-sungguh ditentukan oleh tebalnya dokumen. Mutu hidup di kelas, di cara dosen menilai, di cara mahasiswa belajar, di cara program studi membaca masalah, dan di cara pimpinan mengambil keputusan.
Di era AI, berbagai kelemahan itu makin telanjang. AI bahkan bisa memperindah banyak hal. Laporan evaluasi dapat ditulis lebih cepat. Narasi tindak lanjut bisa terdengar lebih canggih. Dokumen mutu dapat tampak lebih rapi daripada sebelumnya. Namun semua itu belum tentu menyentuh masalah inti: apakah pembelajaran benar-benar membaik, apakah asesmen tetap sahih, apakah integritas akademik terjaga, apakah lulusan benar-benar lebih kreatif dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.
UNESCO mengingatkan bahwa AI memang berpotensi membantu pendidikan, tetapi perkembangan teknologinya yang cepat juga membawa banyak risiko dan tantangan yang telah melampaui debat kebijakan serta kerangka regulasi. Itu sebabnya, masalah kita bukan sekadar hadirnya teknologi baru, melainkan ketidakmampuan sistem lama mengejar perubahan yang bergerak sangat cepat.
Di sinilah SPMI seharusnya berubah. Kampus tidak membutuhkan banyak dokumen. Kampus hanya butuh “standar inti” yang jelas sebagai jangkar mutu. Dokumen intinya sedikit dan stabil, tidak sering diubah. Yang perlu lincah justru aturan operasionalnya: singkat, modular, dan mudah diperbarui. Pemantauan harus berbasis data dan dashboard, bukan menunggu laporan naratif panjang. Respons harus digerakkan oleh ambang risiko, bukan oleh kalender RTM (rapat tinjauan manajemen) tahunan. Bukti mutu pun seharusnya diambil dari proses nyata, bukan diproduksi khusus menjelang audit.
Ambil contoh sederhana. Seorang dosen mulai merasa jawaban esai mahasiswanya makin seragam karena dibantu AI. Dalam sistem lama, persoalan seperti ini bisa saja baru dibahas pada RTM dan evaluasi akhir semester. Dalam sistem mutu yang adaptif, program studi mestinya dapat langsung bergerak secepatnya minggu itu juga: mengganti model tugas, menambah presentasi lisan, memeriksa nalar kritis dan proses berpikir mahasiswa, lalu memantau dampaknya. Itu mutu yang bekerja. Bukan mutu yang hanya dicatat.
Sebagai lensa analisis, gagasan dynamic capabilities dari David J. Teece, Gary Pisano, dan Amy Shuen dalam artikel Dynamic Capabilities and Strategic Management tahun 1997 membantu menjelaskan situasi ini. Intinya, organisasi yang hidup di tengah perubahan cepat tidak cukup hanya tertib secara prosedural; ia juga harus mampu membaca arus perubahan, menangkap peluang, lalu menata ulang responsnya dengan cepat. Dalam bahasa kampus, SPMI tidak cukup hanya patuh. Ia juga harus adaptif, ramping dan lincah.
Pandangan itu makin terasa relevan jika melihat kajian mutakhir tentang AI dan penjaminan mutu. Artikel Rima J. Isaifan tahun 2025 di Quality in Higher Education menunjukkan bahwa AI sedang membentuk ulang cara mutu pendidikan tinggi dipantau, dijamin, dan ditingkatkan. Jadi, yang sesungguhnya mulai usang bukan gagasan penjaminan mutunya, melainkan cara lama yang terlalu administratif untuk menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat.
Karena itu, saya tidak melihat masa depan SPMI pada tumpukan dokumen SOP dan standar, melainkan pada kemampuannya menjadi sistem mutu yang hidup. Sistem yang bisa membaca sinyal perubahan lebih dini, merespons risiko lebih cepat, dan menjaga agar mutu tetap substantif di tengah teknologi yang terus bergerak.
Jadi kembali pada pertanyaan, apakah SPMI masih relevan di era AI? Tentu saja masih. Tetapi hanya jika ia berani berhenti menjadi ritual administrasi, lalu berubah menjadi sistem mutu yang adaptif, ringkas, dan responsif.
Stay Relevant!
Kalau Boleh Dirangkum
- SPMI tetap relevan di era AI, tetapi tidak lagi dalam bentuk lama yang terlalu bergantung pada dokumen dan prosedur administratif.
- Mutu pendidikan sejatinya tidak hidup di laporan dan formulir, tetapi di ruang kelas, pada cara dosen mengajar, mahasiswa belajar, dan program studi merespons masalah nyata.
- Perkembangan AI membuat kelemahan sistem mutu yang lambat dan dokumen-sentris semakin terlihat jelas.
- Kampus membutuhkan sistem mutu SPMI yang lebih adaptif: standar inti yang jelas, pemantauan berbasis data, serta respons yang lebih cepat terhadap perubahan.
- Masa depan SPMI bukan pada banyaknya dokumen, melainkan pada kemampuannya menjadi sistem yang hidup, peka terhadap perubahan, dan menjaga mutu pendidikan tetap substantif.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Mulailah menyederhanakan dokumen SPMI. Fokus pada “standar inti” yang benar-benar penting, bukan pada banyaknya formulir dan prosedur administratif.
- Gunakan data dan dashboard sederhana untuk memantau mutu secara berkala, sehingga masalah dapat terlihat lebih cepat tanpa menunggu laporan panjang.
- Beri ruang bagi program studi untuk merespons perubahan dengan lebih lincah, terutama dalam metode pembelajaran dan asesmen di era AI.
- Dorong dosen untuk mengembangkan bentuk evaluasi yang lebih menilai proses berpikir mahasiswa, seperti presentasi, diskusi, atau proyek berbasis masalah.
- Jadikan SPMI sebagai alat belajar organisasi—bukan sekadar kewajiban audit—agar sistem mutu benar-benar membantu kampus beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Instagram: @mutupendidikan




