بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Bukan Sekadar Gelar:
Gen Z Menuntut Bukti
Oleh:
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain
“Bootcamp 6 bulan lawan kuliah 4 tahun. Generasi muda memilih yang paling masuk akal. Kampus siap berbenah atau ditinggalkan?”
Dulu anak SMA bila ada modal dari ortu hampir otomatis mendaftar kuliah. Setelah lulus, ya daftar kampus, lalu kuliah, titik. Sekarang polanya berbeda, tidak lagi sesederhana itu.
Saat ngobrol dengan anak muda, saya mulai sering mendengar kalimat yang dulu terasa tabu. “Kalau kuliah mahal tapi ujungnya nganggur, ngapain?” Nada bicaranya bukan malas, lebih seperti orang yang sedang kalkulasi untung rugi.
Pada 2026, mayoritas siswa kelas 12 masih termasuk Gen Z. Mereka membandingkan biaya, peluang kerja, dan alternatif lain sebelum memutuskan. Kuliah bagi mereka bukan ritual sosial, melainkan investasi ekonomi yang harus jelas hasilnya.
Mereka buka YouTube, lihat Instagram, tanya senior, dan mengecek kisaran gaji awal. Semua data itu dipakai untuk menimbang masa depan. Kalau hasilnya tidak masuk akal, mereka siap dan berani mundur.
Saya membayangkan seorang siswa kelas 12 di Surabaya, sebut saja Raka. Dia jago desain grafis dan sudah punya klien luar negeri. Dengan tenang dia bilang, “Kalau empat tahun kuliah tapi penghasilan saya berhenti, saya rugi, Pak.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah terasa menampar. Ada kecemasan yang tidak dia ucapkan terang-terangan, takut salah langkah, takut membebani orang tua. Di situ saya sadar, mereka bukan generasi manja, ini generasi yang realistis, penuh kalkulasi.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Times Higher Education dalam artikelnya “Reimagining connection and communication for Gen Z students” (13 Mei 2025) menegaskan bahwa kampus-kampus di seluruh dunia dipaksa menyesuaikan diri dengan gaya belajar Gen Z yang lebih digital, interaktif, dan berorientasi praktik. Model kuliah satu arah dan teori semata tak lagi cukup karena mahasiswa menuntut keterhubungan nyata dengan dunia kerja.
Sinyal yang sama datang dari pemerintah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Fauzan, pada 6 Februari 2026 yang dikutip ANTARA News, mengatakan universitas harus adaptif terhadap kebutuhan Gen Z karena mereka mengharapkan keterampilan praktis, hubungan langsung dengan industri, serta fleksibilitas sistem pendidikan. Artinya, problemnya bukan di anak-anaknya, tapi di cara kampus berproses.
Saya jadi teringat teori lama dari profesor Harvard, Clayton Christensen. Pada 1997 ia memperkenalkan konsep Disruptive Innovation lewat buku The Innovator’s Dilemma, yang intinya lembaga besar sering kalah bukan oleh pesaing kuat, melainkan oleh alternatif baru yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih praktis. Sejarahnya sudah banyak memberi contoh, dari DVD yang digeser streaming sampai taksi konvensional yang dikalahkan ojek online, bahkan toko ritel besar yang tumbang oleh belanja daring.
Hari ini pola itu mengetuk keras pintu kampus. Bootcamp enam bulan, kursus daring gratis via LMS, sertifikasi singkat, bahkan belajar mandiri lewat AI menawarkan hasil yang terasa lebih konkret. Bagi Gen Z, yang penting bukan lamanya belajar, tapi seberapa cepat bisa cari uang.
Secara logika, kalau kampus tidak berubah, kampus akan ditinggal. Bukan karena orang tak mau belajar, melainkan karena orang tak mau membuang waktu. Dunia bergerak terlalu cepat untuk ditukar dengan janji-janji promosi masuk kuliah empat tahun tanpa kepastian hasil.
Dalam diskusi dengan sejawat, saya semakin yakin perguruan tinggi yang masih bangga pada gedung megah tetapi lupa relevansi sedang berjalan pelan menuju museum. Yang dibutuhkan sekarang bukan brosur tebal, melainkan bukti nyata. Bukti lulusan cepat kerja, punya skill, dan dikenal industri. Dan hal ini perlu mindset baru, sistem baru.
Gen Z sebenarnya tidak anti kuliah. Mereka hanya anti sia-sia dan anti harapan palsu. Dan jujur saja, melihat anak-anak seusia Raka harus ragu mengejar mimpi karena takut salah investasi, rasanya menyesakkan dada.
Maka pilihannya sederhana tapi berat. Kampus berbenah atau ditinggalkan. Karena hari ini gelar saja tidak cukup, yang dicari generasi muda hanyalah masa depan yang relevan, yang masuk akal.
Daftar Pustaka
Christensen, C. M. (1997). The innovator’s dilemma: When new technologies cause great firms to fail. Harvard Business School Press.
Fauzan. (2026, February 6). Deputy minister highlights need for higher education revitalization. ANTARA News. https://en.antaranews.com/news/403370/deputy-minister-highlights-need-for-higher-education-revitalization
Times Higher Education. (2025, May 13). Reimagining connection and communication for Gen Z students. https://www.timeshighereducation.com/campus/reimagining-connection-and-communication-gen-z-students
Instagram: @mutupendidikan



