PTS Tidak Baik-Baik Saja: Saatnya Berpikir Di Luar Sistem
Oleh Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Dosen UHW Perbanas Surabaya
PMB makin sepi, prodi ditutup, mahasiswa enggan daftar—apakah kampus Anda masih pakai logika lama? Sudahkah berpikir di luar sistem?
Mari kita telaah dengan jujur: banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia saat ini sedang megap-megap. Data mungkin belum dibuka resmi, tapi dari cerita rekan-rekan kampus, panitia PMB, pimpinan, hingga staf marketing—semua mengamini hal yang sama: penerimaan mahasiswa baru sedang tidak baik-baik saja, turun drastis. Dan ini bukan sekadar penurunan biasa, tapi penurunan yang bikin cemas dan terjadi di beberapa tahun terakhir ini. Lalu muncul pertanyaan, “apakah kita masih relevan?”
Penyebabnya tentu kompleks, namun dapat ditelusuri. Demografi lulusan SMA menyusut. Generasi Z tidak menganggap kuliah sebagai satu-satunya jalan menuju sukses. PTN semakin agresif, buka jalur mandiri lebar-lebar. Sementara PTS? Masih pakai logika kemarin. Brosur, spanduk, open house, dan kuota prodi yang stagnan. Sementara Gen Z maunya fleksibilitas, digitalisasi, dan pengalaman otentik—bukan basa basi, bukan formalitas akademik.
Inilah saatnya PTS berhenti bermain di kolam yang sama. Blue Ocean Strategy (W. Chan Kim) bukan lagi konsep seminar, tapi harus jadi nyawa strategi kampus. Alih-alih berebut di pasar yang penuh kompetitor—di mana semua PTS dan PTN menjual hal yang mirip: prodi serupa, janji kerja yang itu-itu saja, dan harga yang saling banting—kampus perlu menciptakan ‘lautan biru’-nya sendiri.
Dalam konteks regulasi, pendekatan berbasis misi khas kampus bukan hanya dimungkinkan, tapi justru diamanatkan. Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 Pasal 31 ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) menegaskan bahwa seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan pendidikan harus dilakukan berdasarkan misi masing-masing perguruan tinggi. Ini artinya, kampus tidak dituntut menjadi seragam, tetapi justru didorong untuk mengekspresikan keunggulan dan kekhasannya sendiri. Dalam kerangka ini, mission differentiation bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan fondasi tata kelola akademik yang sah dan diakui negara.
Blue Ocean Strategy mengajarkan kita untuk berhenti bersaing secara langsung dan mulai menciptakan permintaan baru dengan menawarkan sesuatu yang belum pernah ditawarkan sebelumnya. Bukan memperbaiki atau mengulang apa yang sudah ada, tapi menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Dalam konteks PTS, ini berarti membangun pengalaman pendidikan yang unik, tak tergantikan, dan sulit ditiru. Misalnya, alih-alih fokus pada gelar formal, kampus bisa mengembangkan program berbasis portofolio digital, sertifikasi global, dan ekosistem alumni yang aktif memberi peluang kerja.
Kampus juga bisa menargetkan segmen pasar yang belum dilirik pesaing. Misalnya, mahasiswa pekerja, ibu rumah tangga, komunitas kreatif, atau bahkan karang taruna / remaja masjid yang butuh peningkatan skill. Dengan menawarkan fleksibilitas waktu, pembelajaran berbasis proyek nyata, dan mentor industri, PTS bisa menjangkau pasar-pasar yang sebelumnya tidak terlihat. Di situlah letak laut biru—pasar yang belum berdarah karena belum disentuh. Kita harus keluar dari medan rebutan pasar yang sama dengan PTN, dan mulai menciptakan pasar baru. Bukan bersaing, tapi membuat kompetitor jadi tidak relevan.
Bagaimana caranya? Dengan inovasi yang radikal, out of box, bukan sekadar variasi kecil. Saat banyak PTS masih sibuk jualan akreditasi dan prodi unggulan, kita justru harus bicara tentang nilai—siapa kamu nanti, bukan hanya gelar yang kamu bawa. Contoh konkret? Program “Kuliah Bayar Setelah Kerja”. Atau “Prodi Hybrid” yang menggabungkan tuntutan dunia baru, seperti: “Manajemen Kreatif & Kecerdasan Buatan”, “Sosiologi Digital & Cyber Culture”, “Ekonomi Syariah & Blockchain”, “Pariwisata Berkelanjutan & Green Business”, “Sastra Digital & Teknologi Naratif”, “Akuntansi Forensik & Keamanan Siber” dan contoh-contoh lainnya. Kampus juga bisa memilih strategi jadi inkubator: “Kampus Sejuta Kreator”, tempat mahasiswa belajar sambil jadi YouTuber, podcaster, freelancer global. Atau Anda punya ide “gila” lain?
Ini bukan hayalan. Ini cara berpikir baru. Logika baru. Mindset yang menyadari bahwa produk bukan yang utama, tapi experience dan outcome. Bahwa promosi bukan lagi soal pamer fasilitas, tapi soal storytelling dan user-generated content. Bahwa hubungan dengan mahasiswa harus otentik, dibangun dengan kepercayaan dan empati, bukan sekadar tanda tangan dan absensi.
Tentu saja ini butuh keberanian. Dan keberanian itu harus datang dari atas (top management). Kepemimpinan visioner sangat krusial. Rektor dan pimpinan tidak bisa lagi hanya mengelola kampus sebagai birokrasi, tapi harus bertindak sebagai CEO ide—menyala, menghidupkan semangat eksperimentasi, memfasilitasi ruang coba-coba, bahkan siap gagal dan bangkit lagi.
Namun kepemimpinan tidak bisa berjalan di ruang hampa. Perlu kepercayaan yang kokoh dan jalinan komunikasi yang cair dengan Yayasan, kompak seiya sekata. Di banyak PTS, relasi Rektor dan Yayasan sering masih kaku—penuh formalitas, miskin kolaborasi. Padahal, kerja sama harmonis antara pimpinan kampus dan Yayasan adalah syarat mutlak agar inovasi out of box bisa lahir dan tumbuh. Yayasan bukan hanya pelindung hukum, tapi seharusnya berperan aktif sebagai mitra ideologis dalam menyusun arah masa depan institusi.
Coba bayangkan, apa yang bisa dicapai jika Rektor / Direktur / Ketua yang kreatif bergandengan tangan Yayasan yang progresif? Pasti tokcer, InsyaAllah akan muncul keberanian untuk ruang ide-ide “out of box”, seperti membuka jalur PMB berbasis portofolio digital, “Prodi Hybrid” yang mengintegrasikan kurikulum dengan industri kreatif, hingga menciptakan ekosistem pembelajaran sepanjang hayat.
Lalu bagaimana menggerakkan mesin di bawahnya? Jawabannya adalah merancang sistem kerja berdasarkan empat prinsip (new drivers of organizational success) dari Ron Ashkenas: speed, flexibility, integration, dan innovation. Kecepatan dalam merespons tren. Fleksibilitas dan adaptif dalam kebijakan dan pelayanan. Integrasi sistem akademik, keuangan, marketing, dan karier mahasiswa dalam satu ekosistem digital. Dan tentu saja, “inovasi tiada henti” sebagai budaya harian, bukan proyek insidental.
Artinya, biro akademik harus lincah. BAAK tidak bisa lagi hanya jadi meja stempel. Tim marketing harus melek TikTok, bukan hanya brosur dan banner. Dosen perlu kolaborasi, bukan kompetisi atau saling jegal. Mahasiswa harus dilibatkan, bukan disuapi. Semua ini hanya mungkin jika kampus berani melepaskan belenggu struktur lama yang kaku dan mulai membangun organisasi yang menyala, adaptif dan terintegrasi.
Karena masalah PTS hari ini bukan sekadar jumlah mahasiswa yang turun.
Fakta lapangan menunjukkan bahwa krisis ini nyata. Menurut data dari LLDIKTI Wilayah X, tujuh program studi di Sumatera Barat dicabut izinnya pada 2025 karena tidak memiliki mahasiswa sama sekali. Prodi-prodi tersebut antara lain Pendidikan Matematika, PGSD, Pendidikan Bahasa Indonesia, hingga Keperawatan. Di wilayah Jawa Barat dan Banten, lima PTS dalam proses pencabutan izin dan empat lainnya sedang diajukan untuk ditutup, berdampak pada lebih dari 4.000 mahasiswa. (Sumber LLDIKTI & media nasional)
Secara nasional, menurut data BAN‑PT via LLDIKTI, terdapat 84 PTS yang terancam pencabutan izin pada 2024 karena akreditasi lemah dan minimnya mahasiswa baru. Ini bukan wacana kosong—ini realitas yang mengerikan. Banyak kampus bahkan sampai menutup satu per satu prodi karena tidak memperoleh mahasiswa sama sekali. Berdasarkan laporan dari Rektor Universitas YARSI, PMB PTS turun rata-rata 20–30% selama masa pandemi, dan tren ini belum menunjukkan tanda membaik. Logika lama masih kita pakai. Kita tidak bisa terus menyalahkan pemerintah, PTN, atau kondisi ekonomi. Saatnya introspeksi dan bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita berpikir cukup radikal, cukup jauh, cukup berani?
Di era turbulensi, meminjam quote dari Charles Darwin, yang survive tidak harus yang besar. Tapi hadiah itu, tentu saja hanya diberikan untuk yang cepat, lincah, adaptif, terhubung, dan kreatif. Kalau kampus Anda belum mulai berpikir seperti itu, hari ini adalah waktu terbaik untuk mulai.
Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Stay Relevant!




