بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Instagram: @mutupendidikan
Pendahuluan
Peralihan besar ke pembelajaran daring pasca-pandemi COVID-19 membawa serta perubahan mendasar dalam dinamika kehidupan mahasiswa. Di satu sisi, kemudahan akses dan fleksibilitas waktu menjadi daya tarik tersendiri. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru yang sebelumnya kurang disorot: rasa kesepian, kehilangan koneksi sosial, dan penurunan semangat belajar.
Tidak sedikit mahasiswa yang merasa terasing meskipun berada dalam kelas daring yang ramai—terhubung oleh teknologi, tapi terputus secara emosional.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan generasi digital. Psikologi pendidikan sejak lama menegaskan bahwa motivasi belajar sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan afektif. Teori Social Constructivism dari Vygotsky misalnya, menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi melalui interaksi sosial. Belajar bukan proses individual semata, tetapi kegiatan kolaboratif dalam zone of proximal development yang hanya bisa dijangkau dengan bantuan teman sebaya atau guru. Ketika elemen sosial ini tereduksi dalam lingkungan daring, muncul celah motivasional yang sulit dijembatani hanya dengan teknologi.
Baca juga: Bukan Sekadar Zoom: Merancang Pembelajaran Digital yang Berdampak di Kampus
Teman = Energi
Berteman di kampus lebih dari sekadar hiburan. Hubungan sosial yang sehat dan positif terbukti meningkatkan self-efficacy, atau keyakinan mahasiswa terhadap kemampuannya sendiri (Bandura, 1997). Dalam konteks kuliah daring, mahasiswa yang memiliki kelompok belajar atau komunitas diskusi online cenderung lebih termotivasi dan konsisten mengikuti perkuliahan dibanding yang belajar sendiri tanpa interaksi.
Sayangnya, banyak platform pembelajaran (LMS) daring masih bersifat satu arah: dosen mengajar, mahasiswa mendengar, lalu menyelesaikan tugas individu. Tanpa interaksi bermakna, proses belajar kehilangan elemen emosionalnya.
Kesepian ini berpotensi memicu academic disengagement, atau kondisi di mana mahasiswa tetap hadir online tetapi mentalnya absen—tidak benar-benar terlibat dalam proses belajar.
Isolasi Digital
Kondisi belajar secara daring yang terlalu individualistik berisiko menumbuhkan digital isolation, yakni rasa keterpisahan sosial dalam ruang virtual yang padat tetapi hampa makna.
Psikologi perkembangan menyebutkan bahwa pada usia mahasiswa (18–24 tahun), manusia berada dalam tahap krusial membangun identitas diri melalui relasi sosial (Erikson, 1968).
Maka kehilangan interaksi selama fase ini dapat menimbulkan tekanan emosional yang berdampak langsung pada performa akademik.
Studi-studi terbaru menunjukkan korelasi signifikan antara isolasi sosial dan penurunan kognitif. Dalam eLearning, mahasiswa yang merasa kesepian lebih rentan mengalami cognitive overload dan kelelahan belajar (learning fatigue), yang membuat mereka sulit berkonsentrasi, mudah frustrasi, bahkan memilih mundur dari perkuliahan atau memilih drop out. Dalam jangka panjang, ini berdampak pada retensi mahasiswa, yang menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pendidikan tinggi.
Baca juga: Lifelong Learning: Soft Skill Penting di Tengah Dinamika Zaman
Membangun Komunitas Digital
Solusinya bukan sekadar menambahkan forum diskusi dalam LMS atau memberi tugas kelompok secara acak. Diperlukan desain pembelajaran yang secara sadar membangun interaksi sosial. Dosen dan pengelola pendidikan bisa mulai dengan menyusun sesi virtual coffee talk, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), hingga mentoring antar mahasiswa. Ini akan menciptakan ruang aman untuk saling berbagi, bukan hanya bertukar informasi, tetapi juga energi emosional.
Platform digital pun harus bertransformasi menjadi ekosistem belajar sosial, bukan sekadar repositori materi. Di sinilah SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal) berperan penting dalam mengawal mutu penyelenggaraan pendidikan daring.
Dengan menerapkan SPMI yang berbasis pada PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan), institusi dapat memantau efektivitas interaksi sosial dalam pembelajaran dan mengintegrasikan masukan mahasiswa sebagai bagian dari kaizen, yakni perbaikan berkelanjutan.
Baca juga: Integrasi Nilai-Nilai Mutu: Cara Cerdas Menghidupkan SPMI di Kampus

Penutup
Kuliah daring seharusnya tidak berarti kuliah sendirian. Di balik layar laptop, mahasiswa tetaplah manusia yang membutuhkan dukungan sosial untuk berkembang secara akademik dan emosional.
Ketika interaksi sosial dijaga dan dirancang dengan baik, motivasi belajar akan tumbuh bukan karena tekanan, tapi karena rasa memiliki dan keterhubungan.
Kehadiran SPMI dan pendekatan PPEPP dapat menjadi instrumen strategis dalam menciptakan pengalaman belajar daring yang lebih manusiawi dan bermakna. Sebab pendidikan tinggi bukan hanya soal capaian nilai, tapi juga soal bagaimana mahasiswa tumbuh, terhubung, dan bertahan dalam proses pembelajaran yang terus berubah (disrupsi). Di sinilah letak tantangan dan peluang transformasi pembelajaran digital ke depan. Stay Relevant!
Daftar Pustaka
- Bruner, J. S. (1966). Toward a theory of instruction. Harvard University Press.
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Intrinsic and extrinsic motivations: Classic definitions and new directions. Contemporary Educational Psychology.
- Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. (2024). Pedoman Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi Akademik. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Griffin, R. W. (2022). Fundamentals of management (10th ed.). Cengage Learning.
- Hrastinski, S. (2009). A theory of online learning as online participation. Computers & Education
- OpenAI. (2025). ChatGPT [Large language model]. Diakses melalui https://openai.com/chatgpt
- Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
- Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2024). Organizational behavior (19th ed., Global ed.). Pearson.
- Sallis, E. (2002). Total quality management in education (3rd ed.). Kogan Page.
- Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
- Yukl, G. (2010). Leadership in organizations (7th ed.). Prentice Hall.
Oleh: Bagus Suminar, wakil ketua ICMI Orwil Jatim, dosen UHW Perbanas Surabaya, dan direktur mutupendidikan.com
Instagram: @mutupendidikan




