Langkah Kampus Merebut Hati Gen Z

Berbenah atau Tenggelam: Langkah Kampus Merebut Hati Gen Z dan Gen Alpha

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Berbenah atau Tenggelam:
Langkah Kampus Merebut Hati Gen Z dan Gen Alpha

Oleh:
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Gen Z dan Gen Alpha tak mau janji kosong. Kampus harus lincah, adaptif, dan relevan—atau pelan-pelan kehilangan kepercayaan.”

Artikel pertama berhenti pada satu kenyataan yang tak bisa diabaikan: Gen Z mulai menghitung. Sekarang pertanyaannya bergeser. Bukan lagi kenapa mereka ragu, melainkan langkah strategis apa yang harus dilakukan kampus agar tidak ditinggalkan.

Kampus di Indonesia, khususnya PTS hari ini tidak hidup dalam suasana yang tenang.  Teknologi bergerak cepat, demografi berubah, pasar kerja berbelok arah, dan cara berpikir generasi muda ikut bergeser. Kalau ritme kampus masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu, jarak dengan mahasiswa akan semakin menjauh.

Saya membayangkan seorang calon mahasiswa, sebut saja Dendi. Ia cerdas, terbiasa membuat konten digital, dan sudah menghasilkan uang dari keterampilannya sendiri. Ketika membaca brosur kampus yang penuh kalimat “unggul, berdaya saing global dan kompetitif”, ia hanya bergumam pelan, unggul di bidang apa?

Dalam kesehariannya, sering kali kampus belum menjelaskan dengan jernih nilai apa yang benar-benar ditawarkan. Tanpa value proposition yang spesifik, sulit menggerakkan minat generasi yang sudah terbiasa membandingkan segala sesuatu dalam hitungan detik.

Di dunia manajemen dikenal istilah Organizational Agility. Intinya bukan sekadar cepat, melainkan lincah, adaptif, dan siap menyesuaikan diri tanpa harus menunggu badai datang. Organisasi yang lincah tidak terjebak pada rutinitas panjang yang membuatnya lambat membaca perubahan.

Konsep ini dikembangkan dalam literatur manajemen modern, salah satunya oleh David J. Teece melalui gagasan dynamic capabilities (2007). Intinya sederhana: organisasi harus mampu merasakan perubahan, merespons cepat, lalu menata ulang dirinya sebelum tertinggal. Kampus, suka atau tidak, harus belajar dari logika itu.

Kelincahan itu seharusnya terlihat pada kurikulum. Tidak masuk akal jika revisi dilakukan lima tahun sekali sementara teknologi berubah tiap bulan. Review tahunan, bahkan evaluasi berkala setiap semester, adalah bentuk kesadaran bahwa dunia luar berubah cepat.

Micro-credential juga layak dipertimbangkan serius. Sertifikasi singkat, modul keterampilan praktis, dan proyek nyata memberi rasa konkret bagi mahasiswa. Mereka ingin merasakan kemajuan kompetensi, bukan sekadar menambah lembar teori.

Model pembelajaran pun perlu bernapas lebih lega. Hybrid dan modular bukan tren kosmetik, tetapi jawaban atas tuntutan gaya belajar yang makin fleksibel. Generasi ini nyaman berpindah dari ruang kelas ke layar, dari diskusi langsung ke forum daring.

Tegas saja: kampus yang tak mau lincah dan fleksibel akan ditinggalkan, bukan diserang. Tidak ada drama besar, tidak ada komplain atau demo. Mahasiswa hanya akan memilih jalan lain yang dirasa lebih relevan.

Pilihan alternatif itu bukan isapan jempol. Bootcamp, kursus daring internasional via LMS, bahkan belajar mandiri dengan bantuan AI memberi opsi luas yang terasa lebih praktis. Tantangannya bukan sekadar bersaing dengan teknologi, melainkan membenahi cara kampus bekerja dari dalam.

Namun agility bukan urusan teknologi semata. Ia menyangkut keberanian pimpinan, kelapangan dosen untuk beradaptasi, dan kesediaan organisasi menyederhanakan birokrasi. Tanpa perubahan budaya, perubahan sistem hanya akan jadi formalitas belaka.

Saya percaya kampus yang relevan bukan yang paling megah gedungnya. Kampus yang relevan adalah yang membangun ekosistem hidup: inkubator bisnis, kolaborasi industri, proyek lintas disiplin, dan jaringan alumni yang benar-benar bergerak. Mahasiswa ingin merasa berada di lingkungan yang tumbuh, bukan sekadar hadir di ruang kelas.

Selama ini kita terlalu nyaman dengan simbol. Kampus harus berhenti menjual gelar sebagai komoditas utama. Yang lebih penting adalah kompetensi, jejaring, dan pengalaman nyata yang membuka pintu kerja. Gelar penting, tetapi ia bukan tujuan akhir.

Ada sisi yang lebih personal dari semua ini. Melihat anak-anak muda ragu menentukan masa depan karena takut salah memilih terasa menyesakkan. Pendidikan seharusnya memberi keyakinan, bukan menambah kecemasan.

Sinyal perubahan sebenarnya sudah terdengar. Pada 6 Februari 2026, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menegaskan bahwa universitas harus adaptif terhadap kebutuhan Gen Z karena mereka mengharapkan keterampilan praktis, hubungan langsung dengan industri, serta fleksibilitas dalam sistem pendidikan. Pesan itu jelas: kampus perlu bergerak lebih lentur.

Hal serupa ditegaskan Harvard Business Review dalam artikel “How to Lead in an Era of Continuous Disruption” (2025). Organisasi yang bertahan bukan yang merasa paling aman, tetapi yang terus-menerus menguji ulang model kerjanya. Kampus, suka atau tidak, termasuk di dalam kategori itu.

Berbenah memang butuh energi dan keberanian. Tetapi bertahan dengan cara lama jauh lebih berisiko. Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kampus: menjadi organisasi yang lincah dan relevan, atau perlahan kehilangan daya tariknya.

Karena Gen Z dan Gen Alpha tidak meminta hal yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan masa depan yang masuk akal, yang terasa nyata, dan bisa mereka pegang dengan keyakinan. Jika kampus belum mampu menjawab itu, yang hilang bukan hanya mahasiswa, tetapi kepercayaan yang dibangun puluhan tahun.


Daftar Pustaka

Fauzan. (2026, February 6). Deputy minister highlights need for higher education revitalization. ANTARA News. https://en.antaranews.com/news/403370/deputy-minister-highlights-need-for-higher-education-revitalization

Harvard Business Review. (2025). How to lead in an era of continuous disruption. https://hbr.org

Teece, D. J. (2007). Explicating dynamic capabilities: The nature and microfoundations of sustainable enterprise performance. Strategic Management Journal, 28(13), 1319–1350. https://doi.org/10.1002/smj.640



Instagram: @mutupendidikan

Info Pelatihan Mutu Pendidikan

Scroll to Top