بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Instagram: @mutupendidikan
Disrupsi atau perubahan besar jarang datang dengan suara keras. Ia sering hadir tanpa pengumuman, tanpa seremoni, bahkan tanpa kita sadari. Dunia kerja hari ini berubah dengan cara seperti itu: sunyi, pelan, tapi efeknya terasa sampai ke dalam. Kita masih datang ke kantor yang sama, membuka laptop yang sama, ikut rapat yang sama, mengejar target yang sama. Namun ada satu hal yang bergeser tanpa banyak dibicarakan: rasa aman tidak lagi otomatis mengikuti kerja keras.
Banyak orang merasa sibuk, tetapi diam-diam bertanya apakah semua ini benar-benar mengarah ke sesuatu bermakna. Bukan karena kehilangan semangat atau malas beradaptasi, melainkan karena arah terasa makin kabur. Seperti berjalan dengan peta lama, sementara wilayahnya sudah berubah. Kita bergerak, tapi tidak selalu yakin sedang mendekat atau justru berputar.
Perubahan ini sering terasa tiba-tiba. Padahal, dalam kajian organisasi, gejala semacam ini sudah lama dikenali. Sejak 1985, Michael Tushman dan Elaine Romanelli menjelaskan adanya discontinuous change, fase ketika perubahan tidak berjalan bertahap, tetapi meloncat dan mematahkan pola lama sekaligus. Dunia kerja hari ini terasa sedang berada di fase itu. Banyak kebiasaan masih dipertahankan, tetapi tidak lagi sepenuhnya bekerja. Yang dulu terasa wajar, kini sering terasa janggal.
Validasi globalnya pun semakin jelas. Menurut artikel “9 Trends That Will Shape Work in 2025 and Beyond” yang dimuat di Harvard Business Review edisi Januari 2025, struktur kerja, peran manajer, dan kebutuhan keterampilan kini sangat berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Dunia kerja tidak lagi bergerak pelan, tetapi meloncat, berubah drastis. Dan lompatan itu sering terjadi lebih cepat daripada kemampuan manusia menyesuaikan diri.
Di ruang-ruang kerja, lompatan ini terasa membingungkan. Kita diminta adaptif, gesit, dan relevan, sering kali dalam waktu yang nyaris bersamaan. Belum sempat memahami satu perubahan, perubahan berikutnya sudah datang tanpa permisi. Kita rajin ikut pelatihan, sertifikat bertambah, tapi kadang rasa bingungnya ikut naik kelas. Ini bukan lelucon, tapi kenyataan yang banyak dialami.
Di titik ini, masalahnya bukan semata teknologi. Yang berubah bukan hanya alat kerja, tetapi hubungan kita dengan pekerjaan itu sendiri. Jauh sebelum AI dan digitalisasi ramai dibicarakan, psikolog organisasi Chris Argyris menulis pada 1960 tentang psychological contract, janji tak tertulis antara pekerja dan organisasi. Janjinya sederhana: bekerja dengan baik, loyal, dan sabar, maka rasa aman akan mengikuti. Ketika janji ini terasa retak, yang muncul bukan perlawanan terbuka, melainkan kegelisahan sunyi, yang lama-lama semakin meresahkan.
Itulah sebabnya kelelahan di dunia kerja kini terasa berbeda. Bukan hanya lelah fisik, tetapi lelah batin. Bekerja terasa seperti menjaga keseimbangan di atas papan yang terus bergerak. Kita sekarang belajar seumur hidup. Bedanya, dulu belajar untuk naik kelas. Sekarang belajar supaya tidak ketinggalan.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di perusahaan teknologi atau startup. Ia terasa juga di birokrasi, BUMN, kampus, hingga organisasi yang selama ini dikenal stabil. Sistem evaluasi berubah, target makin rinci, ruang salah makin sempit. Ukuran kinerja bergeser, sering kali tanpa sempat dijelaskan dengan tenang.
Di Indonesia, perubahan ini mulai disadari di tingkat kebijakan. Menteri Tenaga Kerja Yassierli menegaskan bahwa pemerintah tengah memperkuat kemampuan sumber daya manusia agar lebih kompeten dan adaptif, terutama di tengah percepatan teknologi dan transisi menuju ekonomi hijau, agar tidak ada pekerja yang tertinggal. Pesan ini penting, tetapi di lapangan kegelisahan tetap terasa, karena perubahan menyentuh lebih dari sekadar keterampilan.
Yang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga rasa percaya. Percaya bahwa pengalaman masih berarti. Percaya bahwa kontribusi masih dihargai. Hari ini, banyak orang merasa pengalamannya masih utuh, tetapi posisinya terasa goyah. Bukan karena pengalaman itu usang, melainkan karena ukuran keberhargaan ikut berubah.
Dunia kerja baru tidak sepenuhnya menghapus peran penting manusia. Ia justru menuntut manusia hadir dengan cara berbeda: lebih jernih dalam berpikir, lebih sadar dalam mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi ketidakpastian. Mungkin yang paling berat dari perubahan ini adalah kesunyiannya. Tidak ada penanda jelas bahwa kita sudah berhasil beradaptasi. Tidak ada garis akhir yang tegas.
Ketika dunia kerja berubah diam-diam, kita sering terlambat menyadarinya. Namun menyadari bahwa kita sedang berada di tengah perubahan itu sendiri sudah merupakan langkah penting. Barangkali dari sanalah cara bekerja yang lebih ideal bisa mulai kita cari kembali, pelan-pelan, tanpa gegap gempita.
Stay Relvant.
Oleh: Bagus Suminar
Direktur mutupendidikan.com
Instagram: @mutupendidikan




