Permen 39 Untuk Orang Sibuk

Permen 39 untuk Orang Sibuk: Ringkas, Jelas, dan Bisa Langsung Jalan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Permen 39 untuk Orang Sibuk:
Ringkas, Jelas, dan Bisa Langsung Jalan

Oleh:
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Permen 39 sering terasa rumit karena dibaca sekaligus. Padahal ada pasal-pasal ringan yang bisa langsung dibenahi tanpa bikin kepala penuh.”

Tidak semua orang di kampus punya waktu membaca peraturan dari awal sampai akhir. Banyak yang jujur saja: sibuk. Mengajar, rapat, urusan mahasiswa, aneka laporan yang tidak pernah habis. Ketika Permen 39 Tahun 2025 datang, sebagian langsung berpikir, “Nanti saja, kapan-kapan saya baca”

Masalahnya, menunda justru sering bikin tambah berat. Bukan karena aturannya makin sulit, tapi karena kita menumpuknya di kepala. Dan kepala manusia punya batas. Sementara tugas dan pekerjaan baru terus bertambah.

Di sinilah kajian psikologi belajar memberi penjelasan yang masuk akal. John Sweller, lewat Cognitive Load Theory (1988), menjelaskan bahwa orang gagal memahami bukan karena tidak mampu mencerna, tetapi karena beban berpikirnya terlalu penuh. Informasi datang sekaligus, istilah teknis menumpuk, otak akhirnya menyerah.

Cara banyak orang membaca Permen 39 persis seperti itu. Dibuka pasal dan ayatnya, dibaca semua sekaligus, ingin langsung paham semuanya. Hasilnya bisa ditebak. Lelah duluan, paham belakangan—atau tidak sama sekali.

Padahal Permen 39 tidak menuntut orang untuk menghafal. Ia menuntut implementasi dan kebiasaan. Dan kebiasaan tidak lahir dari membaca panjang, tetapi dari langkah kecil yang berulang.

Karena itu, orang sibuk justru perlu pendekatan yang ringan. Jangan mulai dari pasal. Bisa burnout!

Mulai dari pertanyaan sederhana: apa satu hal kecil yang paling bisa langsung dibenahi? Standar minimal yang mudah? Siklus evaluasi? Atau data yang selama ini asal kirim?

Dengan cara ini, beban kognitif berkurang. Otak tidak dipaksa menelan semuanya sekaligus. Fokus satu titik, jalankan, lalu lanjut ke titik berikutnya. Lakukan dan praktikkan dengan cara step by step.

Tips berikutnya, kita bisa menggunakan pendekatan learning by doing. David A. Kolb dalam bukunya Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development (1984) menegaskan bahwa belajar paling efektif terjadi lewat pengalaman, bukan sekadar membaca, mendengar atau menghafalkan penjelasan.

Saran diatas relevan sekali untuk mengimplementasikan Permen 39. Banyak kampus sudah berkali-kali ikut sosialisasi. Slide diputar, aturan dijelaskan. Tapi pemahaman tidak benar-benar tumbuh, mengapa? Jawabannya jelas, karena tidak disentuh oleh praktik nyata.

Kolb menyebut, orang baru paham ketika mengalami, lalu merenung, lalu mencoba lagi. Polanya berulang. Bukan sekali jalan. Hasilnya jauh lebih efektif.

Itu sebabnya, untuk orang sibuk, nasihat paling jujur soal Permen 39 justru sederhana: jangan tunggu paham dulu, jalan dulu. Ambil satu siklus mutu kecil. Jalankan apa adanya. Lihat hasilnya. Perbaiki sedikit demi sedikit.

Jelas akan langsung untuk merapikan seluruh sistem penjaminan mutu. Strateginya cukup pastikan satu evaluasi pembelajaran benar-benar ditindaklanjuti. Dari situ, pemahaman tumbuh dengan sendirinya.

Hal yang sama berlaku untuk data. Banyak orang stres mendengar kata “data” karena membayangkan pekerjaan besar yang cukup rumit. Padahal Permen 39 tidak meminta data cantik. Ia meminta data jujur dan konsisten.

Mulailah dari data yang sudah ada. Olah dan rapikan sistemnya sedikit demi sedikit. Jangan menunggu lengkap. Dalam bahasa Kolb, pengalaman kecil itu sendiri adalah proses belajar.

Masalah lain yang sering muncul adalah persoalan mindset dan kebiasaan lama. Mutu diposisikan sebagai pekerjaan tambahan. Dikerjakan kalau sempat. Atau kalau sudah diminta. Ini bukan soal niat, tapi soal kesadaran dan pola kerja.

Dua kajian diatas bisa saling melengkapi. Beban berpikir yang terlalu berat (cognitive load) membuat orang cenderung menunda. Dan tanpa pengalaman / praktik nyata (experiential learning), pemahaman tidak pernah benar-benar terbentuk.

Tips implemetasi Permen 39 menuntut kita untuk memutus pola itu. Ia tidak meminta lompatan besar. Ia memberi waktu. Ia memberi arah. Yang diminta hanyalah konsistensi.

Bagi orang sibuk, ini justru kabar baik. Sistem yang berjalan pelan tapi rutin jauh lebih powerful daripada kerja panik di akhir. Mutu yang dijadikan kebiasaan akan terasa ringan, dan tentu saja lebih efektif.

Akreditasi pun akhirnya berubah makna. Bukan lagi tujuan yang menakutkan, tetapi cermin dari apa yang memang sudah dilakukan. Tidak dramatis. Tidak mendadak. Bila SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal) sudan oke, tentu SPME (akreditasi) akan otomatis menjadi mudah.

Permen 39 tidak sedang mencari kampus yang sempurna. Ia mencari kampus yang mau belajar. Belajar mengurangi beban, dan belajar lewat praktik. Cara inilah yang sering disebut continuous improvement, perbaikan terus menerus.

Dan mungkin, di situlah kuncinya. Memahami Permen 39 bukan soal pintar membaca isi klausul dan pasal. Tapi soal berani memulai dari hal kecil, melakukan refleksi, lalu melakukan perbaikan dengan sabar.

Bagi orang sibuk, itu bukan kelemahan. Justru kekuatan—bagian dari time management yang matang. Karena mereka yang benar-benar sibuk biasanya paling paham satu hal: pekerjaan yang dirapikan sejak awal selalu terasa lebih ringan daripada pekerjaan yang terus ditunda. Dan dari situlah, continuous quality improvement bisa mulai berjalan.

Stay Relevant!


Daftar Pustaka

Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285.

Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Jakarta: Kemdikbudristek.

Instagram: @mutupendidikan

Info Pelatihan Mutu Pendidikan

Scroll to Top