• 08123070905
  • mutupendidikan.info@gmail.com

Daily Archive 22/12/2023

SPMI dan Peran Kaizen

SPMI dan Peran Penting Kaizen

SPMI dan Peran Penting Kaizen

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Pendidikan Tinggi adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi oleh setiap perguruan tinggi secara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan.

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Dikdasmen adalah sistem penjaminan mutu yang berjalan di dalam satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen dalam satuan pendidikan yang mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya untuk mencapai SNP.

Pengertian Kaizen

Awal mula Kaizen muncul dari Jepang. Kaizen terdiri dari kata “kai” yang bermakna perubahan dan “zen” yang bermakna baik atau ke arah yang lebih baik. Kaizen dapat diartikan sebagai upaya perbaikan tanpa henti, ini dilakukan untuk mencapai kinerja yang lebih baik.

SPMI dan Kaizen

Kaizen adalah metode perbaikan tanpa henti yang fokus pada meningkatkan mutu, inovasi, dan produktivitas kerja. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah suatu pendekatan manajemen untuk meningkatkan mutu dan kepuasan stakeholder melalui partisipasi semua anggota lembaga pendidikan. 

Implementasi Kaizen sangat penting bagi keberhasilan SPMI, baik SPMI untuk Pendidikan Tinggi maupun SPMI untuk Dikdasmen pendidikan dasar dan menengah). Kaizen membantu institusi pendidikan dalam mencapai target-target mutu (pencapaian standar) melalui perbaikan berkelanjutan. Contoh dalam dikdasmen dikenal 8 indikator standar mutu SNP. Untuk Pendidikan tinggi tertuang dalam standar pendidikan dan pengajaran, standar penelitian dan standar pengabdian pada masyarakat.

Kaizen juga mempromosikan budaya perbaikan tanpa henti dalam institusi pendidikan, setiap anggota organisasi diminta untuk berpartisipasi penuh dalam upaya setiap perbaikan. Semua karyawan didorong untuk memberikan ide dan saran bagi meningkatkan mutu dan efisiensi. 

Langkah-Langkah Kaizen

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk melakukan kaizen. Dalam lembaga pendidikan, upaya ini sering dilakukan pada saat kegiatan Monitoring dan AMI (audit mutu internal):

  1. Identifikasi masalah: Melalui monitoring, penilaian dan AMI, organisasi melakukan identifikasi masalah dan mencari peluang perbaikan yang ingin dicapai.
  2. Analisis masalah: Lakukan analisis mendalam untuk mengenal penyebab masalah atau peluang-peluang perbaikan yang ada. Cari akar masalah dengan baik, bedakan antara akar masalah sesungguhnya atau hanya simptom (gejala).
  3. Cari solusi: Temukan solusi atau ide-ide kreatif yang dapat membantu lembaga pendidikan mengatasi masalah atau menangkap peluang-peluang perbaikan. Libatkan seluruh anggota tim dalam mencari solusi atau ide-ide out of box. Gunakan tools manajemen mutu seperti brainstorming, bertanya why sebanyak 5 kali, atau pakai diagram tulang ikan (fishbone)
  4. Implementasi: Lakukan perbaikan, terapkan solusi atau ide yang telah sepakati. Tetapkan siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya. Kapan dilaksanakan, bagaimana pelaksanaannya. Lakukan tindakan koreksi, korektif dan preventif.
  5. Kegiatan Evaluasi: Lakukan evaluasi atas hasil-hasil yang telah dicapai. Lakukan pengukuran, apakah target mutu telah tercapai atau tidak. Kegiatan ini sering juga dilakukan pada saat kegiatan tinjauan manajemen (management review)
  6. Kaizen: Terus menerus meningkatkan proses dalam lembaga pendidikan, lakukan pertemuan dan evaluasi secara berkala. Cari terus peluang-peluang untuk menjadi lebih baik (opportunity for improvement).

Demikianlah uraian singkat tentang SPMI dan Peran Kaizen, semoga bermanfaat dan Stay Relevant !


Instagram: @mutupendidikan

Info Pelatihan Mutu Pendidikan

Minat Membaca Dokumen SPMI

Minat Membaca Dokumen SPMI

Mengapa Minat Membaca Dokumen SPMI begitu rendah?

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Pendidikan Tinggi adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi oleh setiap perguruan tinggi secara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan.

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Dikdasmen adalah sistem penjaminan mutu yang berjalan di dalam satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen dalam satuan pendidikan yang mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya untuk mencapai SNP.

Baca juga: SPMI dan Peran Motivasi

Dalam percakapan dan diskusi dengan beberapa dosen, guru dan karyawan, sering dijumpai mereka tidak begitu tertarik membaca dokumen SPMI. Mengapa? Ya karena seringkali dokumen SPMI disajikan sarat narasi, panjang dengan bahasa formal yang membosankan. Bila permasalahan ini tidak segera dicarikan solusinya, maka yang menjadi pertanyaan apakah mereka paham dengan instruksi dan panduan yang ada dalam dokumen SPMI? Tentu ini menjadi kekuatiran tersendiri bahwa SPMI hanya sekedar dokumen formalitas saja, tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Mengapa Minat Baca Rendah?

Ada beberapa alasan mengapa sebagian pelaksana SPMI kurang berminat atau tidak tertarik membaca dokumen SPMI, di antaranya:

  1. Bahasa Formal yang Sulit Dipahami: Dokumen SPMI seperti kebijakan, manual atau standar mungkin ditulis dalam bahasa yang formal dan teknis, yang sulit dimengerti oleh dosen, tendik atau pelaksanan SPMI yang kurang berpengalaman atau tidak terbiasa dengan bahasa tersebut. Kondisi ini dapat membuat tim SPMI merasa bosan atau tidak tertarik untuk membaca dokumen tersebut.
  2. Tidak Relevan dengan Pekerjaan: Dokumen SPMI seperti kebijakan atau prosedur mungkin sudah tidak relevan dengan pekerjaan pegawai atau mungkin tidak berkaitan dengan tugas-tugas yang sedang mereka lakukan. Ini dapat menyebabkan pegawai skeptis, merasa bosan atau tidak tertarik untuk membaca dokumen SPMI tersebut.
  3. Dokumen Terlalu Panjang: Dokumen SPMI dengan narasi yang terlalu panjang dan bertele-tele tentu membuat pegawai pelaksana SPMI merasa bosan atau tidak tertarik untuk membacanya. Para pegawai mungkin merasa tidak memiliki waktu atau energi yang cukup untuk membaca dokumen tersebut dengan cermat.
  4. Penampilan yang Tidak Menarik: Dokumen SPMI yang disajikan dengan cara yang kering dan membosankan dapat membuat pegawai (pelaksana SPMI) merasa bosan atau tidak tertarik untuk membacanya. Dokumen yang disajikan dengan model  infografik atau ilustrasi yang menarik, atau dengan bahasa yang lebih mudah dipahami & menarik perhatian, mungkin lebih mungkin untuk dibaca oleh para pegawai.
  5. Lemahnya insentif: Para pegawai (dosen, guru atau tendik) mungkin tidak melihat manfaat atau insentif dalam membaca dokumen-dokumen SPMI. Mereka mungkin merasa bahwa membaca dokumen tersebut tidak berpengaruh yang signifikan pada pekerjaan mereka atau pada karir. Dapat juga disebabkan karena sistem remunerasi yang kurang adil dan layak. Sistem reward & punishment mungkin kurang diterapkan secara efektif dan efisien.

Demikian uraian singkat tentang problematik rendahnya minat membaca dokumen SPMI, bagaimana solusinya? Silakan diikuti artikel-artikel pada posting berikutnya. Stay Relevant !


Instagram: @mutupendidikan

Info Pelatihan Mutu Pendidikan

×

Layanan Informasi

× Hubungi Kami