• + SMS/WA: +628123070905
  • info@mutupendidikan.com

Uncategorized

Kiat sukses keberhasilan SPMI

Mengenal Diri, Mengenal Tim, Kunci Keberhasilan SPMI


Tips Sukses SPMI #6:

“Temukan Kekuatan dahsyat dalam Diri & dalam Tim Anda…”

Untuk mencapai sasaran & keberhasilan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal), lembaga pendidikan perlu terus melakukan evaluasi diri untuk mengenal kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT Analysis).

Anda dapat berlatih untuk mengenal kekuatan diri Anda dan kekuatan tim (unit kerja) Anda. Ingin mencoba?

Berikut latihan sederhana yang bisa Anda coba. Dengan latihan ini, Anda diharapkan dapat mengetahui strategi yang tepat untuk mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang Anda miliki dan dimiliki oleh Tim Anda. Dengan optimalisasi potensi tersebut tentu akan sangat membantu dalam pencapaian standar-standar kinerja lembaga pendidikan. Mari kita coba:

MENEMUKAN KEKUATAN DIRI ANDA

Kenalilah Kekuatan/ Keunggulan/Kelebihan Diri Anda Sendiri. Untuk bahan renungan, Anda dapat mengevaluasi 3 hal berikut ini:

  • Hasil (Outcome) dari pekerjaan Anda
  • Cara Anda mendekati masalah
  • Umpan balik yang Anda dapatkan dari pelanggan internal dan eksternal Anda.
kekuatan/ Keunggulan/ Kelebihan Diri Pribadi  Sbb:

_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

Setelah Anda mengenal kekuatan/ kelebihan/ keunggulan diri, sekarang silahkan Anda mencoba merumuskan sasaran pekerjaan yang sesuai/sejalan dengan kekuatan/keunggulan diri. Dalam merumuskan sasaran pekerjaan, Anda dapat mengacu pada hal-hal sbb:

  • Apakah Anda akan membutuhkan bantuan atau sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran pekerjaan Anda?
  • Kapan Anda ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut?
  • Bagaimana cara mengukur pencapaian prestasi Anda?

 

Menetapkan Sasaran/target Pribadi:
  1. _____________________________________________________________________
  2. _____________________________________________________________________
  3. _____________________________________________________________________

 

Setelah Anda telah menetapkan beberapa kekuatan/kelebihan diri pribadi dan sasaran/target pribadi, kini waktunya untuk berbagi semuanya dengan tim Anda.

 

MENEMUKAN KEKUATAN/ KELEBIHAN/ KEUNGGULAN TIM ANDA

Bahaslah kekuatan/kelebihan diri pribadi dengan tim Anda. Ingat ini hanyalah satu kesempatan untuk berbagi informasi dan pengertian, tidak ada definisi yang “lebih baik” atau “lebih buruk”.

Dapatkah tim Anda mencapai konsensus dengan satu definisi tentang “keunggulan” tim? definisi tim ini mungkin sangat berbeda dari definisi pribadi Anda, tetapi sebagai individu juga Anda sangat berbeda dari tim Anda, bukankah demikian?

Kekuatan/ Keunggulan/ Kelebihan Tim Kerja Anda:

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Seperti sebelumnya, menetapkan Sasaran Tim Kerja adalah langkah berikut. Rumuskan sekurang-kurangnya 3 Sasaran Tim Kerja Anda. Sasaran ini akan menjadi langkah unit kerja dalam menciptakan kegiatan/ program kerja yang sesuai.

Sasaran yang baik hendaknya disusun mengikuti kaidah ABCD, yaitu ada Audience, Behavior, Competence dan Degree. Sasaran yang baik dapat juga mengikuti kaidah KPI (Key Performance Indicator) yang meliputi: Target, Indikator dan mekanisme pengukuran (measure).

Sasaran Tim  Kerja Anda (Unit Kerja) :
  1. ____________________________________________________________________
  2. ____________________________________________________________________
  3. ____________________________________________________________________
  4. ____________________________________________________________________
  5. ____________________________________________________________________
  6. ____________________________________________________________________

 

Demikian, semoga latihan singkat ini bermanfaat… Aamiin Yaa Rabb.

Salam mutu,

admin,

mutupendidikan.com


Hubungi Customer Service kami untuk informasi:

Pelatihan & Outbound Training Membangun Budaya Mutu Pendidikan


 

Hambatan Manajemen Mutu Sekolah dan Perguruan Tinggi

Penghambat Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi

 


Silahkan diunduh file power point disini:

Penghambat Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi


Dalam kehidupan ilmiah, munculnya tradisi pendukung dan penghambat budaya mutu menjadi sesuatu yang alamiah. Hal ini lahir disebabkan adanya pro dan kontra dari pengelola perguruan tinggi. Dalam kata lain setiap pengelola perguruan tinggi memiliki SDM dan keinginan pribadi masing-masing meskipun sudah jelas dan terpahami visi dan misi yang harus dilakukan guna meningkatkan mutu pada sebuah perguruan tinggi.

Penghambat Budaya Mutu Perguruan Tinggi
  1. Rapat Pengambilan keputusan berdasarkan rapat yudisium
  2. Rekrutmen pegawai berbasis KKN
  3. Rendahnya tradisi disiplin
  4. Pemasungan kreatifitas SDM perguruan tinggi
  5. AJI MUMPUNG (Bersikap Adigang, Adigung dan adiguna)
  6. Orientasi materialitas bukan pengembangan Tradisi akademik
  7. Memandang perpustakaan sebatas pelengkap akreditasi
  8. Mengembangbiakan budaya egois, pesimis, sentiment dan materialitas
  9. Bersikap nyaman dengan kondisi gagap teknologi
  10. Pengambilan keputsan tidak berbasis data
  11. Manipulasi dokumen Akreditasi
  12. Penghabisan anggaran di akhir tahun
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Rapat Yudisium

Pengambilan keputusan lewat yudisium berarti lebih menitikberatkan pada aspek kebijakan rapat rapat pimpinan guna memutuskan pihak siapa saja yang berhak lulus, diterima atau dimuluskan dalam suatu seleksi.

Rekrutmen pegawai berbasis KKN

Hingga saat ini tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme dalam dunia pendidikan tinggi masih menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme juga melekat pada rekruitmen pegawai baik profesi untuk profesi tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan pada perguruan tinggi. Tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme pada hakikatnya menjadi penghambat peningkatan mutu perguruan tinggi. Karena pemilihan pejabat, penerimaan dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa bukan melalui ujian secara selektif melalui uji kompetensi, wawancara  maupun tes psikologi.

Rendahnya Tradisional Disiplin

            Disiplin salah satu kunci dari kesuksesan setiap orang. Tidak mungkin sesorang dapat meraih kesuksesan secara gemilang manakala tidak diimbangi dengan sikap disiplin yang tinggi.

  • Dampak rendahnya disiplin ini terlihat pada tenaga pendidik yang terlambat meraih gelar doktor, guru besar, atau bahkan tertinggalnya kapasitas penguasaan keilmuan dengan akademisi lain sehingga ia tidak mampu menebus publikasi ilmiah secara internasional.
  • Rendahnya tradisi disiplin bagi tenaga kependidikan mengakibatkan ia tidak dapat berkembang sekaligus tidak siap bersaing dalam menghadapi dunia global ataupun tuntutan zaman.
Pemasungan kreativitas SDM Perguruan Tinggi

            Pemasungan kreativitas SDM perguruan tinggi kerap terjadi pada pihak sebagai akibat atas gejolak perpolitikan yang tidak sehat.

Contoh

Seorang dosen tidak memperoleh proyek penelitian disebabkan ia bukan menjadi tim sukses dalam pemilihan rektor.

Aji Mumpung

Sikap “Aji mumpung” merupakan Penyakit organisasi perguruan tinggi yang menjadi penghambat bahkan perusak mutu. Aji Mumpung berasal dari bahasa jawa yakni menghandalkan sesuatu yang melekat pada dirinya.

Contoh

Bapaknya menjabat sebagai pemimpin pada suatu perguruan tinggi, secara strategis anak-anaknya termasuk kerabat dengan mudah menjadi seorang PNS dosen atau pejabat struktual lainnya ditempat tersebut .

Baca juga: Penilaian Kinerja Dosen berbasis Peningkatan Mutu Akademik

Orientasi Materialitas Bukan Pengembangan Tradisi Akademik

Sebagian dosen memiliki tradisi  menulis yang cukup rendah khususnya dalm menciptakan karya ilmiah, baik berupa karya riset, maupun buku serta publikasu ilmiah lainnya secara nasional dan internasional.penulisan buku memang diakui sebagai pekerjaan berat yang memerlukan tenaga, konsentrasi dan anggaran yang besar untuk menelusur sumber rujukan yang dipergunakan. Sementara penghargaan yang diperoleh dari pekerjaan menulis buku masih sangat murah. Mungkin hanya memperoleh sekitar10% dari pembagian hasil penjualan melalui perhitungan royalty. Itupun apabila bukunya laku terjual dipasaran.

Memandang Perpustakaan Sebagai Sebatas Pelengkap Akreditasi

Perpustakaan dalam sebuah institusi perguruan tinggi berposisi sebagai jantung pemompa   kehidupan ilmiah yang harus diperhatikan keberadaan dan pengembangannya. Pengembang perpustakaan idealnya dilakukan secara menyeluruh dari aspek gedung, koleksi, SDM, saran dan prasarana yang semua itu   memerlukan dukungan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Contoh

Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dikembangkan melalui komitmen bersama antara pimpinan dan pengelola perpustakaan secara simultan

Mengembangkan Budaya Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis

Dalam organisasi apapun, sikap Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis sebagian besar melekat pada    beberapa orang pegawai. Begitu pula dalm institusi perguruan tinggi, antar pegawai maupun antar dosen.   Penyakit-penyakit hati tersebut kerap kali menjangkiti pribadi mereka.

Contoh

Seorang dosen telah memperoleh tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji setiap bulan merasa iri bahkan sentimen pada tenaga kependidikan yang memperoleh tunjangan kinerja dll.

 

Tradisi Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis secara esensi merupakan perbuatan memalukan secara akademis sekaligus penghambat mutu perguruan tinggi. Tradisi ini menjadikan karakter dosen dan tenaga kependidikan menjadi semakin buruk hingga dapat mengakar menjadi kebiasaan yang berkembang setiap saat.

Bersikap Nyaman Dengan Kondisi Gagap Teknologi

Tuntutan seorang dosen harus mampu menciptakan penemuan-penemuan ilmiah sekaligus menyampaikannya dalam forum ilmiah tampaknya tidak terlepas dari peran dan perangkat teknologi. Pembelajaran saat ini lebih bersifat Learning by doing yang mengedepankan  action dari  setiap peserta didiknya.

Pengambilan Keputusan Tidak Berbasis Data

Institusi perguruan secara administratif tinggi identik dengan kepemilikan data yang tercover dalam berbagai dokumen vital, dinamis bahkan dokumen using. Maka pengambilan keputusan diupayakan setepat mungkin melalui sumber data yang lengkap serta analisa yang saling menguntungkan. Namun realita yang terjadi dilapangan berbeda dengan teori yang ada. Perguruan tinggi terkadang miskin data dan dokumen sehigga jumlah total mahasiswa dengan pembagian per fakultas, jurusan, per-prodi saja sering tidak jelas. Dari data yang tidak lengkap tersebut, menjadikan pengambilan keputusan atau hasil penelitian menjadi tidak akurat. Sehingga penetapan keputusan tidak jarang      merugikan pihak-pihak lain disebabkan tidak tersedianya data yang lengkap.

Borang isian akreditasi yang terdiri dari tujuh standar sering kali diplesetkan dengan istilah “boring” (bohong dan ngarang). Istilah tersebut tidak selama dianggap keliru, sebabkan realita dilapangan dokumen pendukung akreditasi disulap jadi dalam semalam dan sebagian besar muatan isinya adalah hasil kebohongan disengaja yang dibuat oleh tim kreativitas pengarang “boring”. Padahal idealnya dokumen pendukung akreditasi sudah harus disiapkan tiga tahun berjalan sebelum akreditasi berlangsung.

Basis-Basis Kebohongan
  1. Kebohongan berbasis dokumen
  2. Kebohongan berbasis fasilitas
  3. Kebohongan berbasis fasilitas

Contoh

Menyulap kantor, ruang dosen, laboratorium, ruang kelas dan sarana fisik lainnya yang statusnya milik jurusan lain diakui menjadi milik prodi.

Menghabiskan Anggaran Di Akhir Tahun

Tradisi yang cukup mengakar bahwa diakhir tahun khususnya lembaga perguruan tinggi negeri mempunyai hajat yang cukup padat guna menghabiskan anggaran diakhir tahun yang sedang berjalan. Orientasi pelaksanaan kegiatan ini sekedar menghabiskan anggaran agar dianggap sukses dalam penyerapan anggaran sekaligus dana yang telah dianggarkan tidak dikembalikan kepada Negara. Disamping pihak pengelola tetap memperoleh keuntungan atas terlaksananya kegiatan tersebut.

Demikian, semoga penjelasan singkat ini bermanfaat…Aamiin.

Salam hormat,

mutupendidikan.com

Pelatihan & Pendampingan SPMI

 


Dapatkan Slideshare Budaya Mutu:

Silahkan di klik: Membangun Budaya Mutu


INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Kata kunci untuk membantu penelusuran: Budaya mutu, Penghambat Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi, Pelatihan & Pendampingan SPMI

 

Six Sigma

Pengenalan Six Sigma

Six Sigma pertama kali diperkenalkan oleh Motorola pada tahun 1987 oleh seorang ahli teknik yang bernama Bill Smith. Program perbaikan Six Sigma mendapat dukungan sepenuhnya oleh Bob Galvin (CEO Motorola) sebagai Strategi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses serta pengendalian kualitas di perusahaannya.

Metode Six Sigma mulai terkenal dan menjadi populer di seluruh dunia setelah CEO General Electric (GE) Jack Welch mempergunakannya sebagai Bisnis Strategi pada tahun 1995. Secara garis besar, Six Sigma adalah metodologi yang dipergunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan proses yang berkesinambungan atau terus menerus.

Baca juga: Quality Function Deployment

Makna SIX SIGMA

Six Sigma berasal dari kata SIX yang artinya enam (6) dan SIGMA yang merupakan satuan dari Standard Deviasi (dilambangkan dengan simbol σ). Six Sigma juga sering di simbolkan menjadi 6σ. Makin tinggi Sigma-nya, maka akan semakin baik pula kualitasnya. Semakin tinggi Sigma-nya semakin rendah pula tingkat kecacatan atau kegagalannya.

Strategi Six Sigma adalah :

  • Fokus terhadap Kepuasan dan Kebutuhan Konsumen
  • Menurunkan tingkat kecacatan produk
  • Berkisar di sekitar Pusat Target
  • Menurunkan Tingkat Variasi

Konsep dasar dari Six Sigma sebenarnya merupakan gabungan Konsep TQM (Total Quality Management) dan Statistical Process Control (SPC). Kedua konsep tersebut berasal dari pemikiran-pemikiran para Guru seperti Deming, Ishikawa, Walter Shewhart dan Crosby. Selanjutnya, Six Sigma yang mulanya adalah sebuah metric berkembang menjadi sebuah  metodologi dan saat ini sudah menjadi sebuah Sistem Manajemen.

Untuk memahami lebih dalam tentang metodologi Six Sigma, berikut dapat di unduh/ download ppt materi berikut ini:

Six Sigma & Perbaikan berkelanjutan

Demikian, semoga bermanfaat dan berkah selalu.

Salam Mutu,

mutupendidikan.com


Dapatkan Slideshare Budaya Mutu:

Silahkan di klik: Membangun Budaya Mutu


INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Dapatkan informasi terkait: six sigma, tqm, spc, statistical process control, kaizen, training, pelatihan, workshop, lokakarya, bimtek, mutu, pendidikan, sekolah, madrasah, sma, smp, sd, ppt, power point

Tes Psikologi, manfaat & aplikasinya

Pemeriksaan Psikologis & Aplikasinya


Dapatkan slideshare disini:
Pemeriksaan Psikologi dan Aplikasinya

Aplikasi pemeriksaan psikologi dapat diterapkan untuk berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, bidang unit usaha /organisasi dan bidang klinis. Berikut beberapa contoh aplikasi:

Aplikasi Untuk Pendidikan:
  • Placement test, membagi kelas siswa berdasarkan kapasitas intelektual.
  • Tes minat bakat, memberikan masukkan kepada pelajar mengenai minat bakat yang dimilikinya sehingga dapat membantunya menentukan pilihan akademik yang sesuai
  • Ujian masuk, menentukan siswa mana yang diperkirakan mampu mengikuti pelajaran dengan baik berdasarkan karakteristik dan tingkat kesulitan pelajaran/perkuliahan
  • Membantu kesiapan belajar anak
  • Membantu mendiagnosa penyebab kesulitan belajar para siswa.

 

Aplikasi untuk Organisasi & Perkantoran:
  • Perpanjangan kontrak karyawan
  • Promosi & mutasi karyawan
  • Identifikasi potensi karyawan
  • Mendiagnosa permasalahan karyawan di tempat kerja
  • Seleksi karyawan baru

 

Aplikasi Dalam bidang Klinis:
  • Pemeriksaan untuk masalah individual
  • Deteksi dini gangguan pada individu
  • Pemeriksaan psikologis untuk kriminologi
  • Kesiapan mental dan kepribadian untuk persyaratan mencalonkan diri dalam legislatif/ eksekutif
  • Diagnosa perkembangan tingkat gangguan/kesembuhan penderita gangguan jiwa

 

Untuk penjelasan detailnya, silahkan di unduh pada tautan slideshare (ppt) diatas, demikian semoga bermanfaat.

Salam Hormat,

Admin,

mutupendidikan.com


Layanan Jasa Psikotes
>>> Informasi Tes Psikologi untuk Mutu Pendidikan <<<

Kata Kunci untuk penelusuran: tes psikotes untuk sma, hasil psikotes sma, biaya psikotes anak, konsultasi psikologi, biro psikologi jakarta, biro psikotes di surabaya, biro psikologi malang, contoh proposal psikotes, proposal psikotes sekolah, tempat tes psikotes di bandung, mutu pendidikan, power point materi, ppt

SPMI

Membangun Budaya Mutu Pendidikan

BUDAYA MUTU UNGGUL

Membangun Budaya Mutu Unggul merupakan tantangan terberat bagi Institusi Pendidikan (Perguruan Tinggi/ Sekolah/ Madrasah) saat ini.

Organisasi Pendidikan yang memiliki budaya mutu unggul memiliki ciri-ciri:

  • Berorientasi pada kepuasan stakeholder.
  • Obsesi terhadap perbaikan terus menerus (continuous improvement)
  • Keinginan yang tulus untuk mendapatkan masukan dan umpan balik.
  • Pendekatan kerja tim (team work) terhadap masalah dan proses.
  • Kemitraan yang saling mendukung.
  • Rekan kerja dipandang sebagai konsumen internal.
  • Pelibatan dan pemberian wewenang karyawan secara luas (empowerment)
  • Pendidikan dan pelatihan disediakan untuk dosen/ guru/ karyawan pada semua level.
  • Memiliki standar kerja yang tinggi.
  • Penghargaan atas prestasi pekerja

Untuk penjelasan lebih lengkap, silahkan di klik pada tautan slideshare berikut ini:

Membangun Budaya Mutu Pendidikan

Demikian, semoga bermanfaat…

Salam mutu,

mutupendidikan.com


Dapatkan Slideshare lengkap tentang Budaya Mutu

Silahkan di klik: TQM & Budaya Mutu


 

quality tools

Overview of Total Quality Tools

Total Quality Tools

Dalam implementasi Total Quality Management, tentu saja anggota organisasi/institusi pendidikan dihadapkan pada banyak persoalan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang tepat. Untuk membuat keputusan yang baik, dalam TQM harus didasarkan pada data-data dan analisis yang tepat.

Ada beberapa tools/ alat yang biasa digunakan dalam proses pengambilan keputusan diantaranya:

  • The Pareto Chart
  • Cause-and-Effect Diagrams
  • Check Sheets
  • Histograms
  • Scatter Diagrams / diagram tebar
  • Run Charts and Control Charts / diagram kontrol /peta kendali
  • Stratification
  • Five S /  5R
  • Survey
  • Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
  • Design of Experiments (DEO)
  • Beberapa Tools Lainnya

Untuk lebih jelasnya, silahkan di download file ppt berikut ini:

Overview of Total Quality Tools

Demikian, semoga bermanfaat

Salam hormat,

admin,

MutuPendidikan.com

Pendidikan/ Pelatihan / In-House Training


Untuk In-House Training:
“Menerapkan Total Quality Tools dalam dunia pendidikan”
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)


 

iso 9000

Hubungan ISO 9000 dengan TQM

Bagaimana hubungan ISO 9000 dengan Total Quality?

Hubungan antara ISO 9000 dengan TQM merupakan topik yang patut dicari titik terangnya, karena  setiap organisasi / institusi dapat menerapkan kedua hal tersebut (TQM dan ISO 9000) dalam waktu yang bersamaan.

Berikut slideshare yang kami sarikan dari Buku Quality Management dari David L. Goetsch.

Silahkan di unduh Slideshare file ppt berikut ini:

Hubungan ISO 9000 dengan Total Quality

Demikian semoga bermanfaat.

Salam Hormat,

admin

mutupendidikan.com


Untuk Pelatihan / In-House Training:
Implementasi ISO 9001 : 2015 bagi Lembaga Pendidikan
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

 

Mutu Pendidikan

Pendidikan dan Pelatihan

Training & Education programs

Menurut Prof. Sondang P. Siagian, pengertian pendidikan adalah keseluruhan proses, teknik dan metode mengajar dalam rangka mengalihkan sesuatu pengetahuan dari seseorang kepada orang yang lain dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan pelatihan adalah juga proses belajar mengajar dengan memakai teknik dan metode tertentu.

Sementara John Suprihanto menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses pembinaan pengertian dan pengetahuan terhadap kelompok fakta, aturan serta metode yang terorganisasikan dengan megutamakan pembinaan, kejujuran dan ketrampilan.

Pendapat pakar lain Wijaya, “Pendidikan dimaksudkan untuk membina kemampuan atau mengembangkan kemampuan berpikir para pegawai, meningkatkan kemampuan mengeluarkan gagasan-gagasan pada pegawai sehingga mereka dapat menunaikan tugas kewajiban dengan sebaik-baiknya”. Waktu yang diperlukan untuk pendidikan bersifat lebih formal. Sedangkan latihan lebih mengembangkan ketrampilan teknis sehinga pegawai dapat menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Latihan berhubungan dengan pengajaran tugas pekerjaan dan waktunya belajarnya lebih singkat,  dan tidak terlalu formal formal.

Pelatihan dimaksudkan untuk membantu meningkatkan kemampuan pegawai melaksanakan tugas sekarang, sedangkan pendidikan lebih berorientasi pada peningkatan produkktivitas kerja pegawai di masa depan. Namun demikian perbedaan itu tidak perlu ditonjolkan karena kedua pengertian itu umumnya sering digunakan bersama-sama.

Menurut Soekidjo Natoatmodjo, berbedaan antara pendidikan dan pelatihan secara teoritis dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

Parameter Pendidikan/Education Pelatihan/Training
1 Pengembangan kemampuan Menyeluruh (komprehensif) Khusus (spesific)
2 Area kemampuan Area Kognitif, afektif Area Psikomotorik
3 Jangka waktu pelaksanaan Panjang /lama Pendek /singkat
4 Materi yang diberikan Lebih umum Lebih khusus
5 Penekanan penggunaan Metode Belajar Mengajar Konvensional Inkonvensional
6 Penghargaan akhir proses Gelar (degree) Sertifikat (Non gelar)

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulkan bahwa pelakasanaan pendidikan (education) dan pelatihan (training) menitikberatkan pada :

  • Membantu karyawan guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
  • Pengetahuan  dan ketrampilan yang diperoleh sangat erat hubungannya dengan pekerjaan sekarang maupun pekerjaan di masa yang akan datang.

Pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan hendaknya direncanakan dan diorganisasikan sebaik mungkin untuk mendapatkan efektivitas program kerja.

Berikut penjelasan detail tentang implementasi program pendidikan dan pelatihan  menurut pakar manajemen mutu /TQM, Silahkan diunduh pada file ppt berikut ini:

Pendidikan dan Pelatihan

Demikian semoga bermanfaat,

Salam hormat,

Admin,

mutupendidikan.com

Pelatihan & Pendampingan

Leadership

Kepemimpinan & Perubahan

Kepemimpinan, Total Quality & Perubahan

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menginspirasi orang lain untuk membuat mereka totalitas, bersedia, dan sukarela berkomitmen untuk mencapai atau melebihi tujuan organisasi.

Menjadi pemimpin yang baik harus mempunyai kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi seseorang untuk membuat komitmen.

Elemen-elemen kunci dari kepemimpinan untuk kualitas adalah:

  • Fokus pada pelanggan
  • Terobsesi dengan kualitas
  • Pengakuan struktur kerja
  • Kebebasan melalui kontrol
  • Kesatuan tujuan
  • Mencari kesalahan di sistem
  • Kerja sama tim
  • Melanjutkan pendidikan dan pelatihan
  • Penekanan pada praktek-praktek terbaik / kinerja puncak

Bagaimana penjelasan detail tentang kepemimpian? Silahkan diunduh slideshare sbb:

Bab 9: Kepemimpinan & Perubahan

Demikian semoga bermanfaat.

Salam Hormat,

admin

mutupendidikan.com

Kepuasan Pelanggan

Kepuasan Pelanggan

Membangun Kepuasan Pelanggan

Lembaga Pendidikan perlu sekali berorientasi pada kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction). Pelanggan yang puas akan layanan pendidikan, akan meningkatkan keberhasilan lembaga, loyalitas dan retensi stakeholder.

Ada beberapa langkah untuk membangun kepuasan pelanggan diantaranya:

  1. Tentukan siapa pelanggan Anda.
  2. Tentukan apa saja atribut dari produk atau layanan yang paling penting untuk pelanggan Anda.
  3. Mengatur atribut ini dalam urutan kepentingan.
  4. Menentukan tingkat kepuasan pelanggan Anda dengan setiap atribut.
  5. Tampung umpan balik pelanggan untuk perbaikan proses Anda.
  6. Mengembangkan satu set metrik (pengukuran) yang memberitahu bagaimana Anda akan melakukan perbaikan.
  7. Melaksanakan pengukuran pada tingkat terendah dalam organisasi.
  8. Bekerja pada proses-proses yang berhubungan dengan atribut yang memiliki kepentingan tinggi namun peringkat kepuasan pelanggan yang rendah.
  9. Bekerja pada proses yang menawarkan kesempatan terbesar untuk ditingkatkan.
  10. Memperbarui masukan pelanggan dan umpan balik secara terus menerus.
  11. Menjaga, komunikasi terus-menerus, terbuka dengan semua pemangku kepentingan.
  12. Metrik agregat seluruh organisasi ke dalam format untuk tinjauan manajemen

Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan diunduh slideshare berikut ini:

Bab 7: Kepuasan Pelanggan

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam hormat,

mutupendidikan.com

12