• +628123070905
  • mutupendidikan.info@gmail.com

Manajemen

SPMI, budaya mutu dan employee engagement

Employee Engagement dalam Organisasi Pendidikan

 


Silahkan diunduh materi dibawah ini:

(Employee Engagement dalam Organisasi Pendidikan)


Istilah employee engagement diperkenalkan oleh Kahn (1990), beliau menjelaskan bahwa employee engagement sebagai keterikatan anggota organisasi dengan organisasi itu sendiri. Keterikatan disini bukan hanya secara fisik & kognitif tetapi juga secara emosional.

Employee Engagement merupakan bentuk fisik, kognitif, dan emosi yang “penuh dan positif” yang diberikan karyawan lembaga pendidikan (dosen/guru/ tenaga pendidikan) terhadap pekerjaan dan organisasi.

Beberapa pertanyaan:

  1. Bagaimana Employee Engagement Dosen, Guru & tenaga kependidikan
  2. Bagaimana Motivasi Kerja Dosen, Guru & tenaga kependidikan
  3. Bagaimana Komitmen Kerja Dosen, Guru & tenaga kependidikan
  4. Bagaimana Kepuasan Kerja Dosen, Guru & tenaga kependidikan
  5. Bagaimana Budaya Kerja Dosen, Guru & tenaga kependidikan
Tipe-Tipe Pegawai
  1. Engaged : pegawai yang bekerja dengan passion dan menemukan hubungan yang erat dengan perusahaanya.
  2. Not engaged : pegawai yang menghabiskan waktu tanpa memberikan passion atau energi untuk organisasi.
  3. Actively disangaged : pegawai yang tidak hanya membenci pekerjaannya namun juga menutupi ketidak bahagiaanya.
Pengertian Sikap kerja

Kumpulan perasaan, kepercayaan, dan pemikiran yang dipegang tentang bagaimana cara berperilaku mengenai pekerjaan dan organisasi.

Bentuk Sikap pegawai
  • kejujuran dan integritas : selalu menjunjung tinggi sikap jujur serta tidak melakukan kecurangan dalam hal apapun.
  • keterampilan interpersonal : mampu mendengarkan dan memahami orang lain. Mampu berkomunikasi dengan baik.
  • sikap positif : percaya diri, optimis dan selalu berfikir kreatif.
  • keterbukaan : mampu berbagi perasaan kepada orang lain (rekan kerja).
  • menghargai & menghormati rekan kerja : mampu menerima pendapat serta dapat beradaptasi dengan lingkungan maupun perubahan yang ada.
Pengertian Job Involvement

Pekerjaan yang menjadi identitas dari pegawai lembaga pendidikan. Job Involvement secara psikologis terdiri dari aspek kogntif dan belief (aspek fisik dan emosi).

Faktor-faktor yang mempengaruhi job involvement dalam lembaga pendidikan
  1. Aktif & proaktif berpartisipasi dalam pekerjaannya
  2. Memandang pekerjaannya sebagai suatu yang penting bagi harga diri
  3. Membuktikan bahwa pekerjaannya sebagai yang utama
 
Komitmen

Sikap setia dan tanggung jawab yang ditunjukkan oleh pegawai (pimpinan dan bawahan) yang telah memutuskan untuk bergabung dalam suatu keanggotaan tertentu.

 
Pilar yang membangun Komitmen Organisasi
  • Rasa antusias
  • Rasa memiliki
  • Kepercayaan manajemen
7 Key drivers membuat pegawai lembaga pendidikan menjadi “engaged”
  1. Feedback dan dialog berkala dengan pimpinan lembaga pendidikan (Rektor, Ketua, Kepala Sekolah)
  2. Hubungan kerja yang berkualitas/ harmonis antar rekan kerja
  3. Persepsi positif pegawai mengenai pentingnya pekerjaan mereka
  4. Kejelasan informasi mengenai harapan atas pekerjaan dalam organisasi pendidikan
  5. Peluang dan peningkatan karier
  6. Komunikasi yang efektif antar anggota organisasi (formal dan informal)

Silahkan diunduh Slide Presentasi dibawah ini:

(Employee Engagement dalam Organisasi Pendidikan)


Semoga ringkasan point-point singkat ini bermanfaat.

Salam hormat

admin,

mutupendidikan.com


Informasi Pelatihan :

Pelatihan & Pendampingan


Kata kunci untuk penelusuran: employee engagement, komitmen pegawai, motivasi karyawan, pelatihan pegawai, training sdm, pelatihan manajemen, workshop pegawai, manajemen sumber daya manusia, mutu pendidikan, spmi, standar spmi

 

Memberi Solusi bagi Pengembangan Mutu Pendidikan & SPMI

Gugus Kendali Mutu (GKM)


Silakan di unduh:

Gugus Kendali Mutu Institusi Pendidikan


GKM adalah sekelompok kecil karyawan (Dosen, Guru, Pegawai) yang terdiri dari 3-8 orang dari unit kerja/ pelaksana proses yang sama, yang dengan sukarela secara berkala dan berkesinambungan mengadakan pertemuan untuk melakukan kegiatan pengendalian mutu di tempat kerjanya dengan menggunakan alat kendali mutu dan proses pemecahan masalah.

Saat ini dalam lingkup Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), institusi pendidikan (Perguruan Tinggi/ Sekolah/ Madrasah) dapat meningkatkan kualitas sistem penjaminan mutu dengan menambahkan peran GKM (Gugus Kendali Mutu).

Tentu tidak mudah untuk membangun Tim KGM yang handal, perlu komitmen, kesadaran mutu prima dan sistem manajemen yang tepat dengan didukung standar dan SOP yang benar.

Nah.. bagaimana bentuknya, mekanisme kerjanya, tupoksinya? Silahkan diunduh file PPT berikut ini:

Gugus Kendali Mutu Institusi Pendidikan

Tetap semangat dan Salam Mutu…

Hormat kami,

mutupendidikan.com

 


Dapatkan Slideshare Budaya Mutu Pendidikan:

Silahkan di klik: Membangun Budaya Mutu Pendidikan


INFO PUBLIC TRAINING:

 Silahkan di Klik : Public Training


Kata kunci untuk memudahkan pencarian: Bimtek, Bimbingan Teknis, Quality Circle, GKM untuk Pendidikan, Gugus Kendali Mutu, Penjaminan Mutu Pendidikan, Nasional, SPMI, SPMP, Manajemen Mutu Terpadu, TQM, Team Work, Quality circle, Training Gugus Kendali Mutu, Pelatihan Gugus Kendali Mutu

Ketrampilan auditor mutu internal Perguruan Tinggi

Statuta sebagai Peraturan Dasar Perguruan Tinggi


Penyusunan Statuta PTS

Permenristek Dikti No 16 tahun 2018


Mutupendidikan.com – Institusi perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi swasta (PTS), pada hakikatnya merupakan satuan pendidikan tinggi yang mengemban misi mulia, yakni mencari, menemukan, menyebarluaskan, dan menjunjung tinggi kebenaran. Perguruan tinggi swasta (PTS) memiliki tugas mulia yakni menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui mekanisme penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi tersebut, perguruan tinggi swasta (PTS) harus mampu berperan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, inovasi, dan mampu berperan aktif, baik dalam kegiatan pembangunan nasional, maupun dalam meningkatkan kemampuan daya saing bangsa (nation competitiveness).

Agar perguruan tinggi swasta (PTS) mampu menjalankan peran-peran penting di atas, maka PTS harus dikelola dengan baik (good university governance). Tata kelola PTS yang baik merupakan serangkaian mekanisme untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan suatu perguruan tinggi agar berjalan sesuai dengan target harapan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder), dengan menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, bertanggungjawab, kemandirian, kesetaraan, adil dan kewajaran.

Tata kelola PTS yang baik dan profesional dituangkan dalam statuta PTS. Statuta merupakan peraturan dasar pengelolaan perguruan tinggi yang akan digunakan sebagai landasan penyusunan semua peraturan dan prosedur operasional (SOP) di masing-masing perguruan tinggi (PTS).

Statuta Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditetapkan oleh Badan Penyelenggara (dapat berbentuk yayasan, perkumpulan, persyarikatan, dan badan hukum nirlaba lain) yang telah berstatus badan hukum. Statuta PTS tersebut hendaknya disusun sesuai dengan tata nilai budaya, perkembangan, dan kebutuhan masing-masing PTS, selaras dengan Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Referensi:

  • Permenristek Dikti No 16 tahun 2018
  • Edaran Ristekdikti
Budaya Mutu, SPMI dan Sikap Kerja

Budaya SPMI & Sikap Kerja Produktif


Tips Sukses SPMI #8:

“Akuilah Kesalahan Anda…”

Bolehkah karyawan dalam organisasi melakukan kesalahan dalam kegiatannya? Tentu hal ini menarik untuk dikaji. Kita tahu bahwa semua orang tentu pernah membuat kesalahan, hal ini merupakan kewajaran. Fenomena yang sering dijumpai adalah banyak karyawan yang takut membuat kesalahan. Mereka takut menjadi gunjingan teman-temannya, mereka takut mendapat hukuman, mereka takut diberhentikan sebagai pegawai. Sehatkah ini?

Adakah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam kehidupannya? Tentu saja tidak. Setiap orang sejak kecil melakukan kesalahan dan terus berproses sampai mereka dewasa. Mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Dalam organisasi, tentu saja proses itu terus berlangsung. Pimpinan Institusi Pendidikan, perlu memberi toleransi pada bawahan untuk melakukan kesalahan dalam  pekerjaan. Pegawai sulit akan bisa berkembang apabila tidak ada ruang gerak untuk mencoba, berkreasi dan belajar. Pegawai akan sulit untuk bisa berkembang apabila mereka dirasuki perasaan takut melakukan kesalahan.

Apabila organisasi ingin budaya mutu & Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) berjalan baik, tentu prinsip-prinsip Total Quality Management perlu terus-menerus dikembangkan.

 

Salah satu dari 14 point Deming:

Keluarlah dari ketakutan. Banyak karyawan takut untuk mengajukan pertanyaan, bahkan ketika mereka tidak memahami apa pekerjaan mereka, atau apa yang benar, atau apa yang salah. Mereka takut bertanya karena tidak ada ruang komunikasi yang nyaman bagi mereka.

Apa akibatnya, karyawan akan terus melakukan segala sesuatu dengan cara yang salah, atau mereka menjadi pasif tidak melakukannya sama sekali. Kerugian ekonomi dan produktifitas dari ketakutan ini sangat besar. Organisasi tidak dapat berkembang dengan baik, sinergi tidak diperoleh, biaya pengelolaan SDM menjadi besar.

“Untuk memastikan mutu dan produktivitas yang lebih baik, karyawan harus merasa nyaman dan aman”.

 

DAFTAR PERIKSA APAKAH ANDA SIAP PENGAKUAN KESALAHAN

  • Apakah Anda pernah merasa perlu “menutupi” satu kesalahan yang Anda lakukan pada pekerjaan Anda, karena takut akan konsekuensinya?
  • Bagaimana mengubahnya?
  • Sebutkan beberapa manfaat yang di dapatkan, karena Anda mampu mengakui kesalahan?

Demikian, semoga uraian singkat ini bermanfaat.

Salam hormat,

admin,

mutupendidikan.com

Workshop, Training, Pelatihan & Pendampingan


Hubungi Customer Service Kami untuk info:

“Pelatihan Memangun Budaya Mutu & SPMI”

 

Memberi Solusi bagi Pengembangan Mutu Pendidikan & SPMI

Jadilah Bagian Dari Solusi…


Tips Sukses SPMI #7:

“Jadilah Bagian dari Solusi…”

Pepatah mengatakan “Jika Anda bukan bagian dari solusi, Anda bagian dari masalah.” Ya, ide ini berlaku bagi tim kerja dan juga sejumlah solusi lain dalam kehidupan. Tim mengandalkan masukan dan usaha dari semua anggota.

Menjadi “bagian dari solusi” berarti bahwa Anda datang di kantor tiba tepat pada waktunya, siap dan berkeinginan untuk bekerja, mendengarkan ide orang lain, berbagi ide Anda sendiri dan terfokus pada kerja tim.

Dalam menjalankan tugas-tugas pencapaian Standar SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal). Sering kali kita dituntut untuk bekerja dengan sekuat tenaga untuk  pencapaian target-target standar pendidikan. Sinergi akan diperoleh bila masing-masing anggota tim (unit kerja) bisa menjadi bagian dari solusi.

Pertemuan rapat mungkin berlangsung pada waktu yang tidak tepat bagi Anda, atau Anda mungkin merasa bosan atau tidak termotivasi oleh tugas-tugas yang diberikan. Sikap Anda benar-benar mempengaruhi efektivitas Anda. Ya, hanya Anda yang dapat mengendalikan sikap Anda. Bangunlah sikap yang positif, kembangkan sikap empati pada kesulitan-kesulitan tim anda.

Apabila standar sudah ditetapkan, maka Anda dan tim anda harus fokus pada upaya pencapaian target standar tersebut. Tim kerja laksana satu tubuh, dimana masing-masing anggota tubuh berkontribusi pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Jangan menjadi “free rider” atau pembonceng gratis. Free Rider adalah anggota tim yang tidak ikut memberi solusi, tidak ikut bekerja, tidak ikut berkontribusi namun ikut menikmati hasil yang diperoleh anggota tim.

Apa yang perlu Anda lakukan? Buatlah standar pendidikan yang SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Relevant, Timed). Berkontribusilah dengan senang hati untuk pencapaian standar tersebut. Jadilah bagian dari solusi, berikan ide-ide dan pemikiran terbaik. Kerjakan tugas-tugas Anda tepat waktu dengan hasil yang unggul, bantulah anggota tim yang mengalami kesulitan,  rayakan dan syukuri keberhasilan tim Anda.

APAKAH ANDA BAGIAN DARI SOLUSI?
  • Bagaimana Anda, secara khusus, dapat menggunakan waktu pertemuan tim Anda untuk memastikan bahwa Anda adalah “bagian dari solusi”?
  • Apa pengertian menjadi “bagian dari solusi” bagi tim Anda, bagi departemen Anda dan bagi organisasi Anda?

 

Demikian semoga bermanfaat.

Salam Mutu,

admin,

mutupendidikan.com


Hubungi Customer Service kami untuk info:

Pelatihan Membangun Budaya Mutu Pendidikan


 

Kiat sukses keberhasilan SPMI

Mengenal Diri, Mengenal Tim, Kunci Keberhasilan SPMI


Tips Sukses SPMI #6:

“Temukan Kekuatan dahsyat dalam Diri & dalam Tim Anda…”

Untuk mencapai sasaran & keberhasilan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal), lembaga pendidikan perlu terus melakukan evaluasi diri untuk mengenal kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT Analysis).

Anda dapat berlatih untuk mengenal kekuatan diri Anda dan kekuatan tim (unit kerja) Anda. Ingin mencoba?

Berikut latihan sederhana yang bisa Anda coba. Dengan latihan ini, Anda diharapkan dapat mengetahui strategi yang tepat untuk mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang Anda miliki dan dimiliki oleh Tim Anda. Dengan optimalisasi potensi tersebut tentu akan sangat membantu dalam pencapaian standar-standar kinerja lembaga pendidikan. Mari kita coba:

MENEMUKAN KEKUATAN DIRI ANDA

Kenalilah Kekuatan/ Keunggulan/Kelebihan Diri Anda Sendiri. Untuk bahan renungan, Anda dapat mengevaluasi 3 hal berikut ini:

  • Hasil (Outcome) dari pekerjaan Anda
  • Cara Anda mendekati masalah
  • Umpan balik yang Anda dapatkan dari pelanggan internal dan eksternal Anda.
kekuatan/ Keunggulan/ Kelebihan Diri Pribadi  Sbb:

_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

Setelah Anda mengenal kekuatan/ kelebihan/ keunggulan diri, sekarang silahkan Anda mencoba merumuskan sasaran pekerjaan yang sesuai/sejalan dengan kekuatan/keunggulan diri. Dalam merumuskan sasaran pekerjaan, Anda dapat mengacu pada hal-hal sbb:

  • Apakah Anda akan membutuhkan bantuan atau sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran pekerjaan Anda?
  • Kapan Anda ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut?
  • Bagaimana cara mengukur pencapaian prestasi Anda?

 

Menetapkan Sasaran/target Pribadi:
  1. _____________________________________________________________________
  2. _____________________________________________________________________
  3. _____________________________________________________________________

 

Setelah Anda telah menetapkan beberapa kekuatan/kelebihan diri pribadi dan sasaran/target pribadi, kini waktunya untuk berbagi semuanya dengan tim Anda.

 

MENEMUKAN KEKUATAN/ KELEBIHAN/ KEUNGGULAN TIM ANDA

Bahaslah kekuatan/kelebihan diri pribadi dengan tim Anda. Ingat ini hanyalah satu kesempatan untuk berbagi informasi dan pengertian, tidak ada definisi yang “lebih baik” atau “lebih buruk”.

Dapatkah tim Anda mencapai konsensus dengan satu definisi tentang “keunggulan” tim? definisi tim ini mungkin sangat berbeda dari definisi pribadi Anda, tetapi sebagai individu juga Anda sangat berbeda dari tim Anda, bukankah demikian?

Kekuatan/ Keunggulan/ Kelebihan Tim Kerja Anda:

_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Seperti sebelumnya, menetapkan Sasaran Tim Kerja adalah langkah berikut. Rumuskan sekurang-kurangnya 3 Sasaran Tim Kerja Anda. Sasaran ini akan menjadi langkah unit kerja dalam menciptakan kegiatan/ program kerja yang sesuai.

Sasaran yang baik hendaknya disusun mengikuti kaidah ABCD, yaitu ada Audience, Behavior, Competence dan Degree. Sasaran yang baik dapat juga mengikuti kaidah KPI (Key Performance Indicator) yang meliputi: Target, Indikator dan mekanisme pengukuran (measure).

Sasaran Tim  Kerja Anda (Unit Kerja) :
  1. ____________________________________________________________________
  2. ____________________________________________________________________
  3. ____________________________________________________________________
  4. ____________________________________________________________________
  5. ____________________________________________________________________
  6. ____________________________________________________________________

 

Demikian, semoga latihan singkat ini bermanfaat… Aamiin Yaa Rabb.

Salam mutu,

admin,

mutupendidikan.com


Hubungi Customer Service kami untuk informasi:

Pelatihan & Outbound Training Membangun Budaya Mutu Pendidikan


 

Kepemimpinan, budaya mutu & manajemen SPMI

Kepemimpinan, budaya mutu & manajemen SPMI


Tips Sukses SPMI #5:

“Pimpinlah! bila diperlukan seorang Pemimpin…”


Implemantasi SPMI memerlukan figure pemimpin yang dapat memandu kelompok (unit kerja) dengan baik. Lembaga Pendidikan (Perguruan Tinggi/ Sekolah/ Madrasah) diharapkan dapat melaksanakan SPMI dengan baik sehingga mempu menjadi lembaga pendidikan yang terakreditasi unggul.

Apakah siap bila mendengar bahwa Anda mendapat tugas/amanah baru menjadi bagian dari tim di unit kerja baru? Apakah Anda menyadari bahwa konsensus akan menjadi metode pengambilan keputusan, dan selanjurnya bahwa “kepemimpinan” adalah proritas tinggi dalam Manajemen SPMI? Siapkah Anda memimpin tim Anda?

Mengapa dibutuhkan pemimpin, bukankah setiap orang dalam tim itu memiliki suara yang sama dan semua keputusan akan diambil sebagai kelompok? Jawabannya terletak dalam definisi kata “pemimpin”. Seorang pemimpin pada standar TQM adalah orang yang “memandu kelompok”. Ini tidak berarti “mengatur kerjaan kelompok” atau “mendikte kelompok”.

Seorang pemimpin dapat menjadi seorang anggota kelompok yang memiliki pengalaman pribadi atau keahlian teknis dalam bidangnya. Sebagai contoh, andaikan tim Anda diputuskan untuk mempublikasikan satu laporan berkala dua-bulanan, untuk mengkomunikasikan apa yang terjadi dalam departemen Anda kepada anggota lain dari institusi Anda. Salah satu dari anggota tim Anda cakap dalam dekstop publishing dan berharap ada “peran kepemimpinan yang memandu dalam membuat laporan berkala itu agar siap dicetak. Anggota tim lain memiliki ide-ide dan akan membantu membuat laporan berkala itu siap, tetapi orang yang mempunyai keahlian akan “memandu” kelompok melalui keputusan-keputusan yang perlu dilakukan menyangkut tata letak, dan selanjutnya barangkali akan bertanggung jawab untuk mengawasi bahwa itu sudah dilakukan dengan benar.

Inisiatif dan kesiapan untuk memimpin sangat diperlukan dalam pelaksanaan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal). SPMI tidak akan dapat berjalan baik bila tidak didukung Leadership yang kokoh. Ketrampilan untuk memandu anggota tim lain untuk bersama-sama mencapai target-target standar Dikti yang telah ditetapkan.

Ketrampilan Kepemimpinan dapat dilatih dan dikembangkan. Seorang pemimpin yang baik diharapkan memiliki lima karakteristik penting yakni:

  1. Mempunyai keterampilan komunikasi yang baik, pemimpin yang baik harus bisa menyampaikan ide-idenya secara ringkas dan jelas, serta dengan cara yang tepat. Mampu mengkomunikasikan target dan standar-standar SPMI dengan baik dan benar.
  2. Memiliki pengaruh positif, pemimpin yang baik memiliki pengaruh dan menggunakan pengaruh tersebut untuk hal-hal yang positif. Mampu menggerakkan dan memberi motivasi agar mampu melampaui target dan standar pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan.
  3. Memiliki tanggung jawab seimbang, keseimbangan disini adalah antara tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Memahami manual PPEPP dalam mengembangkan dan meningkatkan Standar SPMI.
  4. Model peranan yang positif, peranan disini adalah tanggung jawab, perilaku, atau prestasi yang diharapkan dari seseorang yang memiliki posisi khusus tertentu. Menjadi role model dalam kelompoknya. Menjadi teladan dan panutan.
  5. Memiliki kemampuan untuk meyakinkan (mempersuasi) orang lain, pemimpin sukses adalah pemimpin yang dapat menggunakan keterampilan komunikasi dan pengaruhnya untuk meyakinkan orang lain terhadap sudut pandangnya serta mengarahkan mereka pada tanggung jawab total terhadap sudut pandang tersebut. Menetapkan metode dan cara-cara yang tepat dalam mencapai target standar mutu yang telah ditetapkan.

Praktek Latihan:

APAKAH ANDA SIAP MEMIMPIN?
  • Pikirkan tentang keahlian atau pengalaman yang Anda bawa ke dalam tim. Tuliskan satu atau dua bidang atau situasi di mana Anda dapat memimpin.
  • Bagaimana tim Anda menyeleksi orang untuk mengandaikan peran kepemimpinan pada satu proyek?

Demikan, semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat…Aamiin Yaa Rabb.

Salam Mutu,

Admin

Mutupendidikan.com


Hubungi Customer Service Kami untuk:

Pelatihan/ workshop Kepemimpinan & Budaya Mutu SPMI


 

Membangun Tim Kerja budaya mutu SPMI

Tolong menolong, Kerjasama & Bersinergi dalam SPMI


Tips Sukses SPMI #4:

“Bangun Budaya Saling Tolong Menolong dan Bersinergi…”


Membangun tim kerja yang handal merupakan keniscayaan dalam pelaksanaan SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal). Tolong menolong, bantu membantu merupakan tuntutan kerja yang sering terjadi. Beban kerja yang berfluktuasi sesuai tanggal dan bulan-bulan tertentu, mengharuskan Anda untuk siap menolong dan siap ditolong.

Sinergi pencapaian Standar Pendidikan merupakan tuntutan dalam pelaksanaan SPMI. Menggabungkan kekuatan dan keahlian dari masing-masing anggota organisasi bertujuan untuk meningkatkan produktifitas & menumbuhkan sinergi positif. Membangun sinergi positif secara terus menerus merupakan bagian & tuntutan dari budaya organisasi. Apakah Anda siap memberi bantuan pada tim kerja Anda?

Kadang-kadang, sulit untuk menerima pertolongan/bantuan dari orang lain, karena Anda berpikir itu membuat Anda tidak efektif atau lemah. Dalam organisasi TQM, menawarkan dan menerima bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari budaya dan kerja tim.

Tidak menerima bantuan dan kemudian menghadapi tenggat waktu atau harus mencari alasan karena tidak menyelesaikan satu tugas Rencana Tindakan, menimbulkan stigma yang lebih besar daripada menerima bantuan.

Meminta bantuan itu bukan stigma kegagalan, itu adalah suatu afirmasi bahwa Anda memiliki komitmen yang Anda buat pada tim Anda dan organisasi Anda. Anda ingin melihat bahwa tujuan nya tercapai, tenggat waktunya terpenuhi, pekerjaan diserahkan sesuai janji. Sebagai anggota tim Anda dapat merasa bebas untuk meminta bantuan dan mengetahui  bahwa kemudian Anda akan sebaliknya dimintai bantuan juga.

Jika Anda menemukan diri Anda sendiri terus-terus mencari bantuan dari orang lain untuk mengetahui tugas dan tenggat waktu Anda, berbicaralah dengan penyelia Anda atau anggota tim lain tentang bagaimana Anda mungkin meningkatkan produktivitas Anda, atau mengorganisasikan beban kerja Anda.

Periksalah apakah ada hal-hal berikut yang berlaku pada Anda:
  • Apakah Anda terlalu banyak meminta tolong orang lain?
  • Apakah proses perkiraan Anda terlalu optimis?
  • Apakah Anda membutuhkan beberapa bantuan menyangkut manajermen waktu?

Sekali lagi, meminta bantuan adalah langkah pertama dalam mengatasi ketidakefisian.

 

SEBERAPA BAIKNYA ANDA MENERIMA BANTUAN?

Pikirkan tentang saat ketika Anda ingin meminta bantuan, tetapi masih prihatin tentang bagaimana orang lain akan melihatnya. Kapan Anda meminta bantuan dan ditolak?

Mengapa itu terjadi?

Diskusi:

Diskusikan dalam tim Anda proses pemberian beban kerja dan permintaan bantuan jika dibutuhkan

 

Demikan, uraian singkat tentang budaya tolong menolong dalam organisasi, semoga bermanfaat.

Salam mutu,

admin

mutupendidikan.com


Hubungi Customer Service Anda untuk:

Outbound & Pelatihan Membangun Budaya Mutu Pendidikan /SPMI

Pelatihan SPMI & Membangun “Team Work” dalam Organisasi Pendidikan


 

Manajemen Waktu untuk sukses SPMI Lembaga Pendidikan

Manajemen Waktu untuk keberhasilan SPMI


Tips Sukses SPMI #3:

“Buatlah Daftar “Apa yang Harus Dilakukan” Setiap Hari”


Keberhasilan SPMI sangat terkantung dari sejauh mana pimpinan lembaga pendidikan dan kepala unit kerja berhasil mencapai target-target yang telah ditetapkan. Standar-standar Dikti, disusun sedemikian rupa bukan untuk sekedar pajangan atau memiliki dokumen dalam lemari, tetapi merupakan target indikator yang harus dicapai secara efektif dan efisien.

Untuk itu pembekalan “time management“, merupakan ketrampilan penting yang harus dimiliki segenap pimpinan lembaga pendidikan. Dengan manajemen waktu yang baik, tentu saja pemanfaatan waktu yang ada dapat dilakukan secara lebih produktif.

Penting untuk mendisiplinkan diri Anda agar selalu sesuai target setiap hari. Banyak dari kita membuat daftar ketika kita sudah kewalahan, tetapi tidak sungguh-sungguh untuk melakukannya ketika kita berhadapan hanya dengan masalah-masalah harian.

Daftar “apa yang harus dilakukan setiap hari (To Do List)” membantu Anda melihat bagaimana menghabiskan waktu Anda, apakah Anda mencapai atau tidak tujuan Anda. Waktu adalah satu hal yang tak pernah tampak cukup, dan itu harus dikelola dengan baik untuk digunakan secara bijaksana.

Dalam atmosfer perbaikan terus-menerus, daftar “apa yang harus dilakukan” merupakan satu potret dari tugas dan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Anda mungkin ingin menyimpan daftar harian Anda dalam sebuah buku catatan kecil atau kalender, sehingga Anda dapat menengok kembali dan melihat berapa banyak yang sudah Anda selesaikan selama satu periode waktu tertentu. Ini memberikan Anda kepercayaan bahwa Anda melakukan kemajuan dan bahwa perbaikan sudah merupakan satu proses yang berlanjut bagi Anda. Dapatkah Anda melihat bagaimana daftar harian itu dapat membantu Anda menjadi lebih terorganisir dan efisien?

Dalam situasi kerja Anda, hal macam apa yang akan ada pada daftar “apa yang harus dilakukan” setiap hari?

  • _________________________________________________
  • _________________________________________________
  • _________________________________________________
  • _________________________________________________
  • _________________________________________________

 

Dengan menggunakan contoh berikut, rancanglah sebuah “Daftar Apa yang Harus Dilakukan” yang dapat Anda salin dan gunakan untuk menjaga diri Anda tetap pada sasaran.

 

(Sampel)

DAFTAR APA YANG HARUS DILAKUKAN

Tanggal: _____________

___________________________________________________________________________

Prioritas Tugas Status/Selesai
1 Standar A In-Progress
2 Standar B Closed
3 Sasaran A Open
4 Sasaran B Closed
….. ….
….. ….

Dapatkah Anda melihat bagaimana sebuah daftar ‘apa yang dilakukan” mingguan bagi tim Anda, mungkin merupakan perluasan yang bermanfaat dari proses ini?

Demikian semoga uraian singkat ini bermanfaat…Aamiin.

Salam Mutu,

Admin

mutupendidikan.com


Hubungi Kami untuk:

Pelatihan & Pendampingan Membangun Budaya Mutu SPMI

Pelatihan Manajemen Waktu untuk Lembaga Pendidikan


 

Kaizen perbaikan terus menerus & mutu pendidikan

Bangun Komitmen untuk Perbaikan terus-menerus


Tips Sukses SPMI #1:
“Buatlah Komitmen untuk Perbaikan yang Tanpa Akhir”


Dr. Edwards Deming, penulis dari Out of the Crisis, dikenal sebagai “ayah” dari gerakan Total Quality Management (TQM). Dr. Deming mengajurkan “mendekatan mutu” dengan cara melakukan kaizen” atau perbaikan terus-menerus. Ini harus menjadi cara sebuah organisasi  melakukan bisnis. Barangkali merupakan bagian dari alasan Amerika Serikat kehilangan pasar dunia, yakni bahwa ia sudah puas dengan status-quo-nya. Amerika Serikat melihat dirinya pada puncak kapabilitasnya, tanpa ruang untuk perbaikan.

“Keunggulan – Entah dalam Upaya Nasional, perusahaan, Persaingan Atlet, atau Tujuan Pribadi – berasal dari Pengejaran Perbaikan yang Tanpa-Akhir”

Perhatikan beberapa cara bahwa perbaikan terus-menerus (continuous improvement) telah mempengaruhi kehidupan kita: Pada tahun 1950-an, virus polio membunuh dan membuat pincang ribuan anak setiap tahun. Apa yang akan terjadi jika para periset medis setelah mencoba salah satu pengobatan, dan menemukan bahwa obat itu tidak berfungsi, lalu berhenti eksperimen? Atau perhatikan program “orang pergi ke bulan”. Jika para insinyur NASA puas dengan kalkulasi yang “cukup baik”, rintangan apa yang dialami para astrounout ketika benar-benar tiba di bulan?

Mungkin sulit untuk melihat pekerjaan Anda dalam spirit yang besar atau bersaing semacam itu, tetapi pasar global dewasa ini menuntut perbaikan terus menerus. Negara-negara lain mengejek perusahaan-perusahaan Amerika yang mundur pada tahun 1970-an dan membiarkan pasar mereka diambil alih oleh para pesaing, yang berkeinginan untuk melakukan pekerjaan yang sama namun sedikit lebih baik, sedikit lebih efisien, dan dengan lebih banyakperhatian pada pelanggan.

Dr. Deming berpendapat bahwa “tidak ada hal yang harus ditingkatkan terus seperti halnya mutu…” Kapan pun anda menjangkau satu titik kepuasan dengan produk atau layanan, sudah waktunya untuk mendorong ke perbaikan berikutnya. Bagaimana Pendapat Anda?

DAFTAR PERIKSA KOMITMEN TERHADAP MUTU:
  1. Kapan kali terakhir Anda memperbaiki produk atau layanan?
  2. Apa yang merupakan perbaikan berikut yang Anda yakin harus dilakukan?
  3. Apa yang mencegah Anda melakukan perbaikan itu sekarang?

Demikian semoga bermanfaat dan salam mutu.

admin

mutupendidikan.com

Pendampingan & Pelatihan Mutu Pendidikan SPMI

12