• + SMS/WA: +628123070905
  • info@mutupendidikan.com

Author Archive admin

Membangun Karakter dan Mutu Pendidikan

Membangun Karakter & Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi


Silahkan di unduh file PPT Show dibawah ini:

Membangun Karakter & Mutu Perguruan Tinggi


Setiap lembaga pendidikan secara  realistis pastinya memiliki segudang problematik yang berhubungan antar individu, antara satu individu dengan sekelompok individu yang lain bahkan dengan institusi tempat kerja yang bersangkutan. Problematika yang terjadi   antar individu atau individu dengan lembaga kerap kali menyangkut perbedaan karakteristik masing-masing. Sehingga pembangunan karakter pada institusi perguruan tinggi kini menjadi suatu keniscayaan.

PROBLEMATIKA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KARAKTER
  1. Hubungan antar individu yang kurang harmonis.
  2. Kecenderungan komunikasi yang tertutup.
  3. ketidakjujuran dan kecurangan menjadi perhiasan kegiatan kampus.
  4. Sikap menutup diri serta perhitungan dalam berbagi ide dan pengetahuan.
  5. Rendahnya tradisi disiplin
TUJUAN MEMBANGUN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI
  1. Agar setiap masyarakat ilmiah serta civitas akademika perguruan tinggi tidak terbatas cerdas secara intelektual namun unggul dalam moral, bertanggung jawab serta beretika dalan menjalankan kehidupan.
  2. Pembangunan karakter mengajak manusia untuk berakhlaq mulia, memiliki simpati, empati, kepekaan secara sosial sehingga tumbuh kepedulian dan mampu memahami orang lain secara bijak.
  3. Pembangunan karakter bagi mahasiswa lebih ditekankan pada upaya membekali dan melatih serta membiasakan mereka untuk melaksanakan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran agama maupun norma yang ada guna membekali mereka sebagai akademisi sekaligus calon pemimpin bangsa.
PENGEMBANGAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Definisi “pembangunan Karakter” secara lengkap telah dikemukakan oleh berbagai  ahli. Akan tetapi muara pembangunan karakter secara prinsipil memahamkan seseorang untuk mengetahui berbagai karakter beserta ruang lingkupnya serta menanamkan akhlak al-karimah pada diri sesorang. Pembangunan karakter di perguruan tinggi tidak sebatas diperlukan bagi setiap mahasiswa semata, namun seluruh masyarakat akademis beserta tenaga pendukungnya harus memperoleh pemahaman dan penerapan prilaku yang berkarakter.

Menurut “Florence litteur” Karakter dalam arti watak, perilaku, ataupun kepribadian seseorang. Empat pola dasar karakter yang dimiliki manusia:

  1. Karakter Sanguinis adalah cenderung ingin populer, ingin disenangi orang lain. Hidupnya penuh warna, senang berbicara,emosinya meledak-ledak dan transparan serta suatu saat ia bisa berteriak beberapa saat kemudian bias menangis.
  2. Karater Koleris golongan ini suka mengatur dan memerintah orang. Akibatnya sifat ini, banyak dari mereka yang tidak punya teman.
  3. Karakter Melankolis adalah cenderung teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola.
  4. Karakter Plegmatis adalah kelompok ini tidak suka konflik, jika timbul masalah, maka ia akan berusaha mencari solusi damai.
Tiga IDE Pemikiran Penting
  1. Proses tranformasi nilai-nilai
  2. Ditumbuh kembangkan dalam kepribadian.
  3. Menjadi satu dalam prilaku

Undang-undang no.20 tahun 2000 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional: Bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman  dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Penelitian bidang pendidikan karakter memiliki cakupan yang sangat luas terkait dengan input, berbagai komponen proses dan output serta outcome, bahkan yang terkait dengan kultur lembaga, dan kultur keluarga. Peran kultur sangat menetukan kualitas proses dan hasil pendidikan karakter. Kultur lembaga pendidikan harus selaras dengan nilai-nilai yang dipilih sebagai nilai-nilai target. Kultur positif ini bagaikan ladang yang subur untuk penyemaian dan tumbuh benih-benih moralitas pembangun karakter terpuji.

PEMBANGUNAN KARAKTER DAN PENINGKATAN MUTU PERGURUAN TINGGI

Dengan meningkatkan mutu perguruan tinggi secara implisit harus dilandasi dengan pembangnan pola prilaku yang berkaitan dengan dimensi moral yang baik. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan. Salah satu kriteria utama dari character strength adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain dan bangsanya. Keberhasilan pembangunan karakter di perguruan tinggi sangat tergantung pada ada tidaknya knowing, loving,dan doing atau acting.

Komponen-Komponen Unsur Moral Knowing
  1. Moral Awareness Kesadaran Moral
  2. Knowing Moral Values Pengetahuan tentang nilai-nilai moral
  3. Perspective Taking Penentuan sudut pandang
  4. Moral Reasoning Logika Moral
  5. Decision Making Keberanian mengabil menentukan sikap
  6. Self Knowledge Pengenalan Diri
Bentuk-Bentuk Sikap
  1. Self Esteem Kesadaran akan jati diri,percaya diri
  2. Emphaty Kepekaan terhadap derita orang lain
  3. LovingThe Good Cinta kebenaran
  4. Self Control Pengendaian diri
  5. Humility Kerendahan hati

Pendidikan karakter dinilai sukses bila setiap masyarakat akademik diperguruan tinggi telah menunjukkan kebiasaan berprilaku baik dalam kehidupan  sehari-hari. Hal ini tentu saja memerlukan waktu, kesepatan, dan tuntutan yang berkelanjutan. Perilaku berkarakter tersebut akan muncul, berkembang dan menguat pada diri setiap masyarakat akademik apabila mengetahui konsep dan ciri-ciri perilaku karakter merasakan dan memiliki sikap yang positif pada konsep karakter yang baik dan terbiasa untuk melakukannya.

Demikian semoga uraian singkat ini bermanfaat… Aamiin.

Sumber Literatur: Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, Koreksi & Implementasi Oleh: Safrudin Aziz, M.Pd.I. Penerbit Gava Media, Cetakan 1, 2016

Salam hormat,

Admin,

MutuPendidikan.com

Pendampingan, training & Pelatihan SPMI & AMI


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Menghadirkan informasi terkait: Pelatihan, character building, Training, Training Center, Pelatihan Kerja, , Membangun Karakter & Mutu Perguruan Tinggi, sekolah dan madrasah, pendidikan karakter

Hambatan Manajemen Mutu Sekolah dan Perguruan Tinggi

Penghambat Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi

 


Silahkan diunduh file power point disini:

Penghambat Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi


Dalam kehidupan ilmiah, munculnya tradisi pendukung dan penghambat budaya mutu menjadi sesuatu yang alamiah. Hal ini lahir disebabkan adanya pro dan kontra dari pengelola perguruan tinggi. Dalam kata lain setiap pengelola perguruan tinggi memiliki SDM dan keinginan pribadi masing-masing meskipun sudah jelas dan terpahami visi dan misi yang harus dilakukan guna meningkatkan mutu pada sebuah perguruan tinggi.

Penghambat Budaya Mutu Perguruan Tinggi
  1. Rapat Pengambilan keputusan berdasarkan rapat yudisium
  2. Rekrutmen pegawai berbasis KKN
  3. Rendahnya tradisi disiplin
  4. Pemasungan kreatifitas SDM perguruan tinggi
  5. AJI MUMPUNG (Bersikap Adigang, Adigung dan adiguna)
  6. Orientasi materialitas bukan pengembangan Tradisi akademik
  7. Memandang perpustakaan sebatas pelengkap akreditasi
  8. Mengembangbiakan budaya egois, pesimis, sentiment dan materialitas
  9. Bersikap nyaman dengan kondisi gagap teknologi
  10. Pengambilan keputsan tidak berbasis data
  11. Manipulasi dokumen Akreditasi
  12. Penghabisan anggaran di akhir tahun
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Rapat Yudisium

Pengambilan keputusan lewat yudisium berarti lebih menitikberatkan pada aspek kebijakan rapat rapat pimpinan guna memutuskan pihak siapa saja yang berhak lulus, diterima atau dimuluskan dalam suatu seleksi.

Rekrutmen pegawai berbasis KKN

Hingga saat ini tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme dalam dunia pendidikan tinggi masih menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan. Tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme juga melekat pada rekruitmen pegawai baik profesi untuk profesi tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan pada perguruan tinggi. Tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme pada hakikatnya menjadi penghambat peningkatan mutu perguruan tinggi. Karena pemilihan pejabat, penerimaan dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa bukan melalui ujian secara selektif melalui uji kompetensi, wawancara  maupun tes psikologi.

Rendahnya Tradisional Disiplin

            Disiplin salah satu kunci dari kesuksesan setiap orang. Tidak mungkin sesorang dapat meraih kesuksesan secara gemilang manakala tidak diimbangi dengan sikap disiplin yang tinggi.

  • Dampak rendahnya disiplin ini terlihat pada tenaga pendidik yang terlambat meraih gelar doktor, guru besar, atau bahkan tertinggalnya kapasitas penguasaan keilmuan dengan akademisi lain sehingga ia tidak mampu menebus publikasi ilmiah secara internasional.
  • Rendahnya tradisi disiplin bagi tenaga kependidikan mengakibatkan ia tidak dapat berkembang sekaligus tidak siap bersaing dalam menghadapi dunia global ataupun tuntutan zaman.
Pemasungan kreativitas SDM Perguruan Tinggi

            Pemasungan kreativitas SDM perguruan tinggi kerap terjadi pada pihak sebagai akibat atas gejolak perpolitikan yang tidak sehat.

Contoh

Seorang dosen tidak memperoleh proyek penelitian disebabkan ia bukan menjadi tim sukses dalam pemilihan rektor.

Aji Mumpung

Sikap “Aji mumpung” merupakan Penyakit organisasi perguruan tinggi yang menjadi penghambat bahkan perusak mutu. Aji Mumpung berasal dari bahasa jawa yakni menghandalkan sesuatu yang melekat pada dirinya.

Contoh

Bapaknya menjabat sebagai pemimpin pada suatu perguruan tinggi, secara strategis anak-anaknya termasuk kerabat dengan mudah menjadi seorang PNS dosen atau pejabat struktual lainnya ditempat tersebut .

Baca juga: Penilaian Kinerja Dosen berbasis Peningkatan Mutu Akademik

Orientasi Materialitas Bukan Pengembangan Tradisi Akademik

Sebagian dosen memiliki tradisi  menulis yang cukup rendah khususnya dalm menciptakan karya ilmiah, baik berupa karya riset, maupun buku serta publikasu ilmiah lainnya secara nasional dan internasional.penulisan buku memang diakui sebagai pekerjaan berat yang memerlukan tenaga, konsentrasi dan anggaran yang besar untuk menelusur sumber rujukan yang dipergunakan. Sementara penghargaan yang diperoleh dari pekerjaan menulis buku masih sangat murah. Mungkin hanya memperoleh sekitar10% dari pembagian hasil penjualan melalui perhitungan royalty. Itupun apabila bukunya laku terjual dipasaran.

Memandang Perpustakaan Sebagai Sebatas Pelengkap Akreditasi

Perpustakaan dalam sebuah institusi perguruan tinggi berposisi sebagai jantung pemompa   kehidupan ilmiah yang harus diperhatikan keberadaan dan pengembangannya. Pengembang perpustakaan idealnya dilakukan secara menyeluruh dari aspek gedung, koleksi, SDM, saran dan prasarana yang semua itu   memerlukan dukungan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Contoh

Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dikembangkan melalui komitmen bersama antara pimpinan dan pengelola perpustakaan secara simultan

Mengembangkan Budaya Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis

Dalam organisasi apapun, sikap Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis sebagian besar melekat pada    beberapa orang pegawai. Begitu pula dalm institusi perguruan tinggi, antar pegawai maupun antar dosen.   Penyakit-penyakit hati tersebut kerap kali menjangkiti pribadi mereka.

Contoh

Seorang dosen telah memperoleh tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji setiap bulan merasa iri bahkan sentimen pada tenaga kependidikan yang memperoleh tunjangan kinerja dll.

 

Tradisi Egois, Pesimis, Sentimen Dan Materialitis secara esensi merupakan perbuatan memalukan secara akademis sekaligus penghambat mutu perguruan tinggi. Tradisi ini menjadikan karakter dosen dan tenaga kependidikan menjadi semakin buruk hingga dapat mengakar menjadi kebiasaan yang berkembang setiap saat.

Bersikap Nyaman Dengan Kondisi Gagap Teknologi

Tuntutan seorang dosen harus mampu menciptakan penemuan-penemuan ilmiah sekaligus menyampaikannya dalam forum ilmiah tampaknya tidak terlepas dari peran dan perangkat teknologi. Pembelajaran saat ini lebih bersifat Learning by doing yang mengedepankan  action dari  setiap peserta didiknya.

Pengambilan Keputusan Tidak Berbasis Data

Institusi perguruan secara administratif tinggi identik dengan kepemilikan data yang tercover dalam berbagai dokumen vital, dinamis bahkan dokumen using. Maka pengambilan keputusan diupayakan setepat mungkin melalui sumber data yang lengkap serta analisa yang saling menguntungkan. Namun realita yang terjadi dilapangan berbeda dengan teori yang ada. Perguruan tinggi terkadang miskin data dan dokumen sehigga jumlah total mahasiswa dengan pembagian per fakultas, jurusan, per-prodi saja sering tidak jelas. Dari data yang tidak lengkap tersebut, menjadikan pengambilan keputusan atau hasil penelitian menjadi tidak akurat. Sehingga penetapan keputusan tidak jarang      merugikan pihak-pihak lain disebabkan tidak tersedianya data yang lengkap.

Borang isian akreditasi yang terdiri dari tujuh standar sering kali diplesetkan dengan istilah “boring” (bohong dan ngarang). Istilah tersebut tidak selama dianggap keliru, sebabkan realita dilapangan dokumen pendukung akreditasi disulap jadi dalam semalam dan sebagian besar muatan isinya adalah hasil kebohongan disengaja yang dibuat oleh tim kreativitas pengarang “boring”. Padahal idealnya dokumen pendukung akreditasi sudah harus disiapkan tiga tahun berjalan sebelum akreditasi berlangsung.

Basis-Basis Kebohongan
  1. Kebohongan berbasis dokumen
  2. Kebohongan berbasis fasilitas
  3. Kebohongan berbasis fasilitas

Contoh

Menyulap kantor, ruang dosen, laboratorium, ruang kelas dan sarana fisik lainnya yang statusnya milik jurusan lain diakui menjadi milik prodi.

Menghabiskan Anggaran Di Akhir Tahun

Tradisi yang cukup mengakar bahwa diakhir tahun khususnya lembaga perguruan tinggi negeri mempunyai hajat yang cukup padat guna menghabiskan anggaran diakhir tahun yang sedang berjalan. Orientasi pelaksanaan kegiatan ini sekedar menghabiskan anggaran agar dianggap sukses dalam penyerapan anggaran sekaligus dana yang telah dianggarkan tidak dikembalikan kepada Negara. Disamping pihak pengelola tetap memperoleh keuntungan atas terlaksananya kegiatan tersebut.

Demikian, semoga penjelasan singkat ini bermanfaat…Aamiin.

Salam hormat,

mutupendidikan.com

Pelatihan & Pendampingan SPMI

 


Dapatkan Slideshare Budaya Mutu:

Silahkan di klik: Membangun Budaya Mutu


INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Kata kunci untuk membantu penelusuran: Budaya mutu, Penghambat Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi, Pelatihan & Pendampingan SPMI

 

Mutu Pendidikan & SPMI

Manajemen Mutu Perguruan Tinggi


Silahkan diunduh slideshare PPT berikut ini:

Bab 1: Manajemen Mutu Pendidikan Perguruan Tinggi


Era globalisasi adalah era persaingan mutu atau kualitas. Maka perguruan tinggi di era globalisasi hendaknya berbasis pada mutu. Dalam menyediakan jasa pendidikan dan mengembangkan sumber daya manusia, perguruan tinggi hendaknya memperhatikan bahwa keunggulan merupakan hal yang sangat penting saat ini. Para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi pada dasarnya mengharapkan hasil berlipat yaitu ilmu pengetahuan, gelar, keterampilan, pengalaman, keyakinan dan perilaku berbudi luhur. Semua itu diperlukan dalam rangka mempersiapkan diri memasuki lapangan kerja dengan mengharapkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera secara lahir dan batin

Tautan Penting: Kendala Utama Implementasi SPMI

Menurut Anda, apa itu management atau manajemen? Dan jika Anda diminta menyebut dua macam manajemen yang pernah Anda pelajari dalam keseharian, manajemen apakah tersebut? Mungkin ada di antara Anda yang menjawab manajemen pemasaran dan manajemen keuangan.

Kedua manajemen yang Anda sebutkan bisa jadi memang beberapa dari konsep manajemen. Karena manajemen yang anda ketahui tidak selamanya akan membahas pemasaran dan keuangan akan tetapi dalam contant ini kita akan lebih cenderung untuk membahas manajemen mutu pendidikan perguruan tinggi. Karena manajemen mutu tidak selalu sama dengan tahun sebelumnya melainkan kita harus selalu memperbaikinya.

Lalu, apa definisi hakikat manajemen? Karena semakin banyaknya pendidikan perguruan tinggi yang memiliki kualitas mutu yang bagus, tapi bagaimana sebuah perguruan tinggi tersebut bisa menjadi perguruan tinggi yang memiliki mutu yang bagus jika tidak tahu arti dari ‘pendidikan bermutu’ yang sebenarnya. Ini penting karena jika definisi Anda tentang pendidikan bermutu salah maka semua upaya Anda untuk menjadi perguruan tinggi yang berkembang/ bermutu akan salah sasaran.

Tantangannya, jika Anda mencari definisi manajemen mutu di Google, misalnya dengan menulis ‘manajemen mutu’ akan muncul hasil sekitar 1.240.000,- ini artinya, banyak definisi kepemimpinan. Sebagai contoh, beberapa orang berpikir pendidikan bermutu berarti pendidikan yang mampu melakukan proses pematangan kualitas peserta didik yang dikembangkan dengan cara membebaskan peserta didik  dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran dan dari buruknya akhlaq dan iman.

Dari semua definisi pendidikan bermutu ialah berarti pendidikan yang mampu melakukan proses pematangan kualitas peserta didik yang dikembangkan dengan cara membebaskan peserta didik  dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran dan dari buruknya akhlaq dan iman.

Ruang lingkup perguruan tinggi yang bermutu harus mampu mengantar output lulusan memiliki seperangkat pengetahuan, skill, berkarakter atau memiliki kematangan secara intelektual, emosional dan spiritual serta mampu mengusai dan diterima dalam persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, atau bahkan mampu menciptakan lapangan kerja sacara kreatif dan produktif. Dalam Dalam mengelola mutu, ada sebuah siklus yang disampaikan Deming untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu. Siklus ini terkenal dengan sebutan “Roda Deming”.

Demikian, sekilas informasi tentang Manajemen Mutu Pendidikan Perguruan Tinggi, semoga bermanfaat.

Sumber Literatur: Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, Koreksi & Implementasi Oleh: Safrudin Aziz, M.Pd.I. Penerbit Gava Media, Cetakan 1, 2016

Salam hormat,

Admin,

MutuPendidikan.com

Pendampingan, training & Pelatihan SPMI & AMI


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Menghadirkan informasi terkait: Pelatihan, Training, Training Center, Pelatihan Kerja, , Membangun manajemen Mutu Perguruan Tinggi, sekolah dan madrasah, quality education

Kinerja Dosen

Penilaian Kinerja Dosen Berbasis Peningkatan Mutu Akademik


Silahkan unduh materi power point dibawah ini:

PPT Penilaian Kenerja Dosen


Lembaga pendidikan dari sekolah tinggi menjadi institut atau bahkan universitas tidak sebatas dibuktikan dengan megahnya sarana fisik dan mewahnya alat transportasi yang dimilki setiap dosen. Akan tetapi perbaikan dan pengembangan mutu akademik harus senantiasa dikembangkan secara dinamis guna menghadapi tantangan masa depan. Dalam istilah lain perbaikan dan pengembangan mutu harus dilakukan melalui penciptaan iklim dan tradisi akademik setiap dosen dan mahasiswanya.

Secara analogis mengembangkan  mutu perguruan tinggi pada prinsipnya sama dengan mengembangkan perangkat teknologi informasi yang memerlukan hardware, software dan brainware.

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Pasal 1, UU Dikti 12/2012)

Misi dosen (tugas pokok dan fungsi): Tridharma Perguruan Tinggi
  • Pendidikan
  • Pengabdian kepada Masyarakat
  • Penelitian
Macam-macam kompetensi pendidik
  • Kompetensi Pedagogik
  • Kompetensi Kepribadian
  • Kompetensi Sosial
  • Kompetensi Profesional
  •  
Kompetensi Pedagogik

Pemahaman guru termasuk dosen terhadap peserta didik, perancangan dan  pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi Kepribadian

Kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlaq mulia.

Kompetensi Sosial

Kemampuan pendidik untuk berkomunikasi dan bergaul sacara efektif  dengan  peserta didik, sesama pendidik, tenaga pendidik, orang tua / wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Kompetensi profesional

Penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup     penguasaan materi kurikulum mata pelajaran disekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi   keilmuannya.

Baca juga: Kendala Utama Implementasi SPMI

PENILAIAN KINERJA DOSEN

Penilaian kinerja dosen pada hakikatnya merupakan proses analisis intristik dalam pelaksanaan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkualitas. Pengajaran bermutu  tentunya membantu mahasiswa untuk mencapai pembelajaran berkualitas baik.

KOMPONEN PENILAIAN KINERJA DOSEN  
  1. Persiapan atau Perencanaan Pembelajaran Yang Dilakukan Dosen
  2. Pelaksanaan Pembelajaran
  3. Evaluasi hasil Pembelajaran
BENTUK DAN BOBOT INDEK PENILAIAN KINERJA DOSEN

Penilaian kinerja dosen secara teknis dilakukan oleh petugas gugus  mutu fakultas artinya petugas  gugus mutu fakultas bertugas melakukan pencatatan perhitungan skor sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

KENDALA-KENDALA PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA DOSEN
  1. Kendala dari pihak yang dinilai
  2. Adanya beberapa dosen yang kontra terhadap publikasi penilaian
  3. Kendala secara teknis
  4. Belum adanya reward yang jelas
  5. Kendala program digital online IKD
UPAYA PENGEMBANGAN MUTU AKADEMIK BAGI DOSEN

Seorang dosen dituntut harus mampu mengembangankan diri semaksimal mungkin sehingga senantiasa memberikan sumbangan  ilmiah kepada peserta didik dan masyarakat. Adapun pengembangan akademik setiap dosen dapat dilakukan lembaga melalui workshop,  pelatihan, seminar, studi banding, studi lanjut melalui perguruan tinggi unggulan negeri baik di dalam maupun luar negeri, pemberian reward dan punishment atas prestasi atas  kinerja dosen.

Demikian semoga bermanfaat.

Salam Mutu,

mutupendidikan.com

Pelatihan & Pendampingan


 Info Public Training

Silahkan Klik : Public Training


 

mutu layanan akademik perguruan tinggi

Manajemen Mutu Layanan Akademik Perguruan Tinggi


Dapatkan File PPT Show disini:

Mutu Layanan Akademik


Buruknya layanan administrasi akademik pada institusi pendidikan tinggi sudah menjadi momok yang cukup memprihatinkan. Layanan akademik didominasi oleh sebagian pegawai yang tidak memiliki karakter mulia, mereka juga umumnya memiliki standar kompetensi rendah yakni berijazah rendah, tidak pernah diberikan pelatihan serta tidak diperhatikan sistem reward dan punishment yang baik secara internal maupun eksternal. Selain buruknya layanan akademik, persyaratan yang dituntut lembaga ketika mengurus suatu hal masih bertele-tele dan terasa membebani  mahasiswa dengan sekian lembar persyaratan sebagai harga mati yang harus dipenuhi. Berikut contoh problem layanan akademik:

“Ketika seorang mahasiswa mendaftar ujian skripsi, ia diwajibkan melampirkan kurang dari10 item dokumen  persyaratan terlegalisasi”

MANAJEMEN PELAYANAN AKADEMIK YANG EXCELLENT
  1. Setiap staf memahami nilai kegunaan pelanggan.
  2. Staf memahami bagaimana organisasi bekerja termasuk didalamnya mencakup SDM, teknologi, sistem dan kualitas pelayanan
  3. Memahami bagaimana organisasi harus dikembangan dan dikelola sehingga nilai keunggulan atau kualitas dapat tercapai
  4. Melaksanakan fungsi-fungsi organisasi sehingga nilai kegunaan pelayanan atau kualitas dapat tercapai dan tujuan-tujuan dari mereka yang terlibat dalam pelayanan tersebut tercapai .
Upaya Menjaga Kualitas Layanan Akademik
  1. Perguruan tinggi harus melakukan investasi dalam proses rekrutmen seleksi, pemotivasian, pelatihan dan pengembangan tenaga kependidikan.
  2. Melakukan standarisasi proses pelaksanaan jasa atau industrialisasi jasa dengan cara mempromosikan program-program pendidikan, meningkatkan kualifikasi dan profesionalisme tenaga kependidikan
  3. Melakukan service customization
  4. Melakukan tracer study, monitoring kepuasan pelanggan baik secara pasif maupun dengan penelitian dan survey ke lapangan.
SISTEM LAYANAN ADMINISTRASI AKADEMIK

Pelaksanaan sistem layanan akademik yang berkualitas secara teoritis maupun secara praktis hakikatnya dapat dilakukan dengan mengadaptasi sistem layanan yang dilakukan dalam dunia bisnis.

Sistem layanan administrasi akademik
  1. Total Quality Service
  2. Layanan Akademik Berbasis Elektronik
  3. One Stop Service
  4. Quality work of life
Total Quality Service(TQS)

Secara sederhana “TQS” dapat didefinisikan sebagai sistem manajemen strategik dan integratif yang melibatkan semua manajer dan karyawan serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki secara berkesinambungan proses-proses organisasi, agar setiap institusi memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan serta harapan pelanggan.

Lima Aspek Utama “TQS”
  1. Fokus kepada pelanggan
  2. Keterlibatan total (Total Involvement)
  3. Sistem pengukuran (Measurement)
  4. Dukungan sistem (sistematic support)
  5. Perbaikan berkesinambungan
 Langkah Merealisasikan “TQS”
  1. Mengidentifikasi setiap customer yang dilayani
  2. Mengidentifikasi kebutuhan, keinginan harapan, serta prilaku customer
  3. Merancang sistem jasa yang dapat memberikan nilai yang dapat memenuhi tuntutan tsb.
  4. Mengumpulkan dan memanfaatkan inforasi terbuka berupa masukan dan umpan balik dari pelanggan secar reguler
  5. Menjalin hubungan kemitraan dengan kelompok publik kunci atas dasar win-win solution.
  6. Menerapkan prinsip-prinsip pemasaran yang benar
KETERLIBATAN TOTAL  (TOTAL INVOLVMENT)

Layanan elektronik pada dasarnya merupakan pola layanan yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat online. Dalam perguruan tinggi, layanan akademik berbasis elektronik disebut  academic electronic service merupakan implementasi sistem layanan akademik  dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

ONE STEP SERVICE

One step service adalah bentuk layanan yang dilakukan oleh suatu institusi pendidikan tinggi, dimana keperluan customer  dapat diayani melalui satu kali layanan selesai. Jenis layanan ini selain menekan pada efektifitas dan efesiensi kerja juga menjadikan customer perguruan tinggi memperoleh titik kenyamanan dan kepuasan terhadap pelayanan yang disediakan.

Pelayan terpadu satu pintu one stop service pada institusi perguruan tinggi merupakan sebuah           strategi memberikan pelayanan akademik yang dilakukan oleh setiap lembaga diperguruan tinggi yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen akademik.

QUALITY OF WORK LIFE

Quality work of life pada institusi perguruan tinggi pada prinsipnya dapat dipahami sebagai usaha yang sistematis dari organisasi untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mempengaruhi pekerjaan mereka dan kesempatan untuk berkontribusi terhadap efektifitas organisasi secara keseluruhan.

Selain empat jenis layanan akademik diatas, penyediaan layanan akademik perguruan tinggi seharusnya berbasis data dan dilakukan sesuai prosedur (SOP). Layanan berbasis data mengedepankan data-data up to date yang dimiliki perguruan tinggi baik tersimpan dalam pengelolaan penyimpanan dan temu kembali secara arsip secara cepat, tepat, akurat dan memuaskan pelanggan perguruan tinggi

MANAJEMEN MUTU LAYANAN AKADEMIK

Untuk menciptakan kondisi layanan akademik yang baik dan memuaskan, setiap perguruan tinggi harus menerapkan sistem manajemen layanan yang bermutu melalui berbagai rangkaian kegiatan yang tersusun dalam rencana induk pengembangan layanan perguruan tinggi. Fungsi manajemen tersebut meliputi: pengorganisasian, pengawasan, pembinaan, dan pengembangan kualitas SDM, motivasi secara berkesinambungan, serta diperlukan evaluasi layanan akademik dengan mengungkapkan kekurangan sekaligus alternatif solutif terhadap layanan yang akan diselenggarakan di masa yang akan datang.

Secara teoritik, kualitas output layanan akademik pada perguruan tinggi pada hakikatnya ditentukan oleh aspek input dan proses. Input  SDM yang akan difungsikan sebagai staf layanan akademik harus dilakukan secara selektif baik dari sisi kepribadian, performance, usia, kecerdasan, serta skill dalam melayani. Sedangkan kualitas produk layanan akademik ditentukan oleh faktor desain proses yang memenuhi standar, seperti: mengikuti pelatihan layanan prima, memiliki sertifikat kompetensi, berijazah sarjana, menandatangani perjanjian komitmen, dan sebagainya.

Demikian semoga uraian singkat ini bermanfaat… Aamiin.

Salam hormat,

Admin,

MutuPendidikan.com

Pendampingan, training & Pelatihan SPMI

Sumber Literatur: Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, Koreksi & Implementasi Oleh: Safrudin Aziz, M.Pd.I. Penerbit Gava Media, Cetakan 1, 2016


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Menghadirkan informasi terkait: Pelatihan, Pengembangan, Training, Training Center, Pelatihan Kerja, mutu layanan akademik perguruan tinggi, sekolah dan madrasah

 

Manajemen Mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi

Manajemen Mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi

Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada hakikatnya mencakup kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara realitis dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan dosen dengan mahasiswa. Proses pendidikan ini dijadikan sebagai Tri Dharma perguruan tinggi sebab porsi kegiatan rutin yang sangat tampak secara keseharian adalah kegiatan pendidikan dan mengajar.

MANAJEMEN MUTU TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI
  1. Perencanaan
  2. Kebijakan
  3. Anggaran
  4. Pengawasan
  5. Evaluasi
PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN SEBAGAI DHARMA PERTAMA

Pendidikan dan pengajaran merupakan bagian atau dharma dari pertama Tri Dharma perguran tinggi. Secara yuridis, pendidikan tinggi dapat dipahami sebagai usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Quality Process Domains
  1. Learning objectives (Tujuan pembelajaran)
  2. Curricular desaign (Rancangan Kurikulum)
  3. Teaching and Learning activities (Kegiatan belajar mengajar)
  4. Student learning assessment (Penilaian belajar)
  5. Implementstion quality assurance (Pelaksanaan penjaminan mutu)
PENELITIAN SEBAGAI DHARMA KEDUA

            Hakikat Penelitian Merupakan kegiatan sistematis menurut kaidah dan metode ilmiah guna memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pengertian lain, penelitian dalam dunia perguruan tinggi diartikan sebagai kegiatan mencari kebenaran yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperleh informasi, data dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran  suatu asumsi dan atau hipotesis dibidang ilmu pengetahuan  dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ruang Lingkup
  1. Penelitian dasar atau fundamental merupakan penelitian ilmu dasar yang sangat berkaitan dengan pengembangan teori dan yang mendasari kemajuan ilmu pengetahuan tertentu.
  2. Penelitian penerapan merupakan kegiatan penelitian untuk menerapkan ilmu dasar agar dapat menghasilkan produk teknologi yang kelak bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
  3. Penelitian pengembangan teknologi atas permintaan masyarakat untuk meningkatkan produk yang telah ada agar dapat memenuhi kebetuhan mereka.

 

FUNGSI PENELITIAN BAGI DOSEN

Penelitian ataupun karya tulis ilmiah adalah konsekuensi pokok dari seorang dosen. Melakukan penelitian bagi seorang dosen dikandung maksud kedudukan dosen sebagai seorang ilmuan sekaligus peneliti yang berkewajiban memberikan solusi dan berbagi alternatif lainnya terkait dengan berbagai problem serta pengembangan ilmu pengetahuan  bagi masyarakat secara luas yang salah satunya diperoleh melalui penelitian.

STRATEGI PENGEMBANGAN PENELITIAN

Mengembangkan penelitian bagi setiap dosen diperguruan tinggi diperlukan pengelolaan pengembangan penelitian secara tepat.

  1. Pengembangan SDM
  2. Pengembangan kelembagaan
  3. Pengembangan Program
  4. Pendanaan dan fasilitas
ASPEK PENGEMBANGAN PROGRAM

Penelian institusi

Penelitian yang dilakukan oleh lembaga, atas nama lembaga dan untuk lembaga

Penelitian kelompok

Penelitian yang dilakukan oleh kelompok dosen atau perorangan ilmu maupun peneliti terapan

PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SEBAGAI DHARMA KETIGA

Pengabdian pada masyarakat adalah salah satu bentuk implementasi yang dikembangkan  dalam kegiatan Tri Dharma diperguruan tinggi. Pengabdian dalam istilah lain disebut mengabdi adalah apapun bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Secara umum pengabdian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan tanpa pamrih ataupun tanpa kompensasi apapun (Charity).

Konsep Pengetahuan Dan Pengabdian
  1. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  2. Penyebarluasan ilmu pengetahuan
  3. Penerapan ilmu pengetahuan
  4. Pemberian bantuan keahlian kepada masyarakat
  5. Pemberian jasa layanan professional kepada masyarakat
Tujuan
  1. Mempercepat proses peningkatan kemampuan sumberdaya manusia sesuai dengan dinamika pembangunan
  2. Mempercepat upaya pengembangan masyarakat kearah terbinanya masyarakat dinamis yang siap mengikuti perubahan-perubahan kerah perbaikan dan kemajuan yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat
  3. Mempercepat upaya pembinaan institusi dan profesi masyarakat sesuai dengan perkembangannya dalam proses modernisasi.
  4. Memperoleh umpan balik dan memasukkan lain bagi perguruan tinggi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan penelitian yang dilakukan dengan kebutuhan situasi.
BENTUK-BENTUK PENGABDIAN
  1. Pendidikan kepada masyarakat
  2. Pelayanan kepada masyarakat yakni perguruan tinggi perlu menyediakan SDM khusus untuk memberikan layanan sekaligus pendampingan bagi masyarakat yang memerlukan peran perguaruan tinggi.
  3. Pengembangan hasil penelitian.
  4. Pengembangan wilayah secara terpadu.
  5. Transfer teknologi.
  6. Kuliah kerja nyata yakni memadukan pendidikan dan pengajaran serta penelitan kedalamnya.
MANAJEMEN MUTU TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI

Pelaksanaan kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi dapat berjalan secara berkualitas sesuai dengan visi dan misi perguruan tinggi tentunya diperlukan manajemen Tri Dharma perguruan tinggi secara rapi dan profesional. Sehingga kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi dapat terealisasi secara sesuai dengan mutu, sasaran dan kebutuhan masyarakat akademik khususnya ataupun masyarakat umumnya.

Unsur Manajemen mutu Tri dharma
  1. Perencanaan Agar kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan sesuai prosedur tentunya diperlukan pedoman pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, pemelitian dan pengabdian masyarakat.
  2. Sumber Daya Manusia

Pengelolaan sumber daya manusia pada pelaksanaan kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi dipastikan memerlukan sumberdaya manusia yang unggul, dinamis, serta progresif agar sebuah program dapat terealisasi secara optimal dan tepat sasaran.

  1. Dana dalam pelaksaan Tri Dharma perguruan tinggi tampaknya menjadi problem yang sama antara perguruan tinggi satu dengan lainnya. Dosen khususnya pada perguruan tinggi swasta dapat melakukan terobosan baru yakni institusi atau fakultas dapat menjalin kerjasama penelitian dengan perusahaan asing maupun non asing dalam cakupan dalam atau luar negeri.
  2. Sistem Kontrol realisasi kegiatan dengan anggaran benar-benar terpantau sehingga berbagai kegiatan dapat terlaksana secara optimal dan hasilnya benar-benar bermanfaat sekaligus dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
  3. Evaluasi kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi harus dilakukan pasca pelaksanaan kegiatan. Beberapa problem dan kegiatan yang belum maksimal terlaksana menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang lagi ditahun kegiatan berikutnya.

Berikut kami share PPT (Power Point)  tentang materi ini:

Manajemen Mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi


Demikian semoga uraian singkat ini bermanfaat… Aamiin.

Salam hormat,

Admin,

MutuPendidikan.com

Pendampingan & Pelatihan SPMI

Sumber Literatur: Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, Koreksi & Implementasi Oleh: Safrudin Aziz, M.Pd.I. Penerbit Gava Media, Cetakan 1, 2016


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Menghadirkan informasi terkait: Manajemen Mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi, manajemen mutu, pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat, pelatihan spmi

Manajemen Mutu Perpustakaan Perguruan Tinggi

Manajemen Mutu Perpustakaan Perguruan Tinggi


Silahkan diunduh materi power point berikut:

Manajemen Mutu Perpustakaan Perguruan Tinggi


Perkebangan ilmu pengetahuan, teknologi serta berbagai perteuan riset ilmiah dan mutakhir dalam kehidupan manusia tidak lepas dari kerja keras yang diperankan oleh perguruan tinggi. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara profesional dan berkualitas  selain didukung oleh kucuran dana yang cukup, sarana prasarana yang lengkap, dosen dan tenaga pendidik yang berorientasi pada mutu pendidikan, tidak akan berjalan  sempurna tanpa adanya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki literatur  dan sumber rujukan lengkap serta dikelola secara profesional.

HAKIKAT PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Merupakan salah satu pusat sumber informasi yang berada pada setiap institusi perguruan tinggi yang dikelola dengan menggunakan manajemen baik mencakup manajemen kepemimpinan perpustakaan, manajemen koleksi, manajemen tenaga perpustakaan, manajemen pengelolaan koleksi, serta manajemen layanan informasi yang secara khusus diberikan kepada seluruh civitas akademika dengan tujuan turut mensukseskan kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi.

Analogi Perpustakaan

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian pokok dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi dan secara mutlak tidak boleh disepelekan. Perpustakaan juga bisa dijadikan slogan sebagai jantungnya perguruan tinggi yang berfungsi sebagai pemompa kualitas pendidikan disetiap perguruan tinggi.

TUJUAN PERPUSTAKAAN DISUSUN SECARA HIRARKI
  1. Memiliki Misi (Mission)
  2. Sasaran (Goals)
  3. Tujuan (Objective)
  4. Kegiatan (Activities)
  5. Program (Programmes)
TUJUAN YANG PERLU DICAPAI OLEH PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
  1. Perpustakaan perguruan tinggi harus mampu memenuhi keperluan informasi pengajar dan mahasiswa
  2. Perpustakaan perguruan tinggi harus dapat menyediakan bahan pustaka rujukan pada semua tingkat akademis
  3. Perpustakaan perguruan tinggi harus siap dalam menyediakan ruangan untuk pemakai
  4. Perpustakaan perguruan tinggi harus mampu menyediakan jasa peminjaman serta penyediaan jasa infomasi aktif bagi user
MANAJEMEN MUTU PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Mutu secara teknis dapat didasarkan pada upaya memenuhi kebutuhan pelanggan dengan sebaik-baiknya dalam setiap jenis kegiatan layanan. Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka sebagai pelanggan secara berkualitas  tentu diperlukan  berbagai upaya diantaranya: menciptakan budaya kerja yang bermutu, adanya motivasi peningkatan mutu dll.

Baca juga: Penghambat Budaya Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi

Unsur Pokok Menciptakan Mutu Perpustakaan
  1. Mutu input perpustakaan
  2. Mutu Proses
  3. Mutu Output
Perencanaan Strategis Perpustakaan 

Menurut “Bryson”

  1. Pemikiran Strategis
  2. Perencanaan Jangka Panjang
  3. Perencanaan Taktis
Ciri-ciri Perpustakaan Perguruan Tinggi berkualitas
  • Berfokus pada pelanggan
  • Berfokus pada upaya untuk mencegah masalah
  • Memiliki strategi untuk mencapai kualitas
  • Memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri
  • Memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai perpustakaan yang berkualitas
  • Mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang
  • Membentuk fasilitator yang berkualitas untuk memimpin proses perbaikan
  • Mendorong orang yang dipandang memiliki kreativitas dan mampu menciptakan kualitas
  • Memperjelas peranan dan tanggunjawab setiap orang
  • Memiliki strategi evaluasi yang jelas
  • Memandang kualitas sebagai jalan menuju perbaikan kepuasan layanan
STRATEGI PENINGKATAN MUTU PUSTAKAWAN
  1. Rekrutmen calon pustakwan yang berijazah ilmu perpustakaan dan informasi
  2. Memilki keterampilan computer
  3. Memberikan izin study lanjut
  4. Mengadakan kerjasama dalam perihal pelatihan pustakawan dengan perpustakaan nasional
  5. Kunjungan atau studi banding keperpustakaan  perguruan tinggi yang lebih besar
  6. Peningkatan kompetensi bahasa asing Peningkatan jumlah dan kualitas penelitian terbitan ilmiah
MANAJEMEN MUTU PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu pusat informasi harus mampu menyedikan kinerja secara berkualitas dan terukur sehingga mampu menyediakan jasa layanan informasi secara cepat, tepat, dan akurat.

Dua Belas unsur persyaratan
  1. Misi
  2. Tujuan
  3. Koleksi
  4. Pengorganisasian materi perpustakaan
  5. Pelestarian materi perpustakaan
  6. Sumberdaya manusia
  7. Layanan perpustakaan
  8. Penyelenggaraanperpustakaan
  9. Gedung
  10. Anggaran
  11. Teknologi informasi dan komunikasi
  12. Kerjasama perpustakaan
Tahapan Penerapan ISO 9001
  1. Tahapan Persiapan
  2. Tahapan penyusunan dan pengesahan dokumen
  3. Tahapan impelentasi
  4. Tahapan sertifikasi dan pasca sertifikasi
Tahapan Persiapan
  1. Mengadakan pelatihan atau bimbingan teknis penyusunan dokumen
  2. Kunjungan atau studi banding
  3. Penetapan SK implementasi ISO
  4. Pelaksanaan audit internal
  5. Rapat Tinjauan manajemen
Tahapan Penyusunan Dan Pengesahan Dokumen
  • Kebijakan Mutu
  • Sasaran mutu
  • Pedoman Mutu
  • Prosedur Operasional Standar
  • Intruksi kerja
  • Formulir atau Rekaman
TAHAPAN IMPLEMENTASI
  1. Presentasi proposal kepada tim manajemen
  2. Pembentukan sterring commite dan tim kerja sistem manajemen mutu ISO
  3. Pelatihan kesadaran mutu kepada tim kerja sistem manajemen mutu ISO
  4. Sosialisasi kesadaran mutu
  5. Penyusunan kebijakan mutu dan sasaran mutu
  6. Penyusunan pedoman mutu,prosedur dan instruksi kerja
  7. Peaksanaan,evauasi dan revisi dokumen
  8. Pengesahan dokumen mutu
  9. Penetapan pelaksanaan system manajemen mutu
  10. Sosialisasi pelaksanaan secara internal dan eksternal
  11. Pelatihan audit internal
  12. Pelaksanaan audit internal
  13. Pelaksanaan Rapat Tinjauan manajemen
  14. Pelaksanaan pre-audit oleh lembaga akreditasi
  15. Penyempurnaan dan revisi dokumen dan system
  16. Final audit sertifikasi oleh lemabaga audit
  17. Pencegahan sertifikat system manajemen mutu ISO
Tahapan Sertifikasi Dan Pasca Sertifikasi
  1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pemustaka melalui jaminan mutu yang terorganisasi dan sistematik
  2. Institusi perpustakaan perguruan tinggi yang telah bersertifikasi ISO diijinkan mengiklankan pada media bahwa system manajemen mutu dari institusitelah diakui internasional
  3. Audit system manajemen mutu dari sebuah institusi perpustakaan yang telah memperoleh sertifikat ISO dilakukan secara periodic oleh registrar dari lembaga regristasi
  4. Institusi perpustakaan yang telah memperolehsertifikat ISO secara otomatis terdaftar pada lembaga registrasi
  5. Meningkatkan mutu dan produktivitas dari manajemen
  6. Meningkatkan kesadaran mutu dalam institusi perputakaan perguruan tinggi
  7. Memberikan training secara sistematik kepada seluruh staf perpustakaan,pustakawan
  8. Terjadinya perubahan positif dalam hal kultur mutu dari anggota organisasi
Contoh Aspek-aspek Tinjauan Manajemen
  1. Evaluasi melalui hasil audit
  2. Evaluasi dari upan balik
  3. Evaluasi kinerja proses dan kesesuaian produk
  4. Evaluasi penelaahan terhadap status tindakan korektif
  5. Evaluasi hasil tindak lanjut tinajuan manajemen yang lalu
  6. Evaluasi perubahan yang dapat dipengaruhi
  7. Evaluasi erhadap saran-saran untuk perbaikan

Demikian semoga uraian singkat ini bermanfaat… Aamiin.

Sumber Literatur: Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, Koreksi & Implementasi Oleh: Safrudin Aziz, M.Pd.I. Penerbit Gava Media, Cetakan 1, 2016

Salam hormat,

Admin,

MutuPendidikan.com

Pendampingan & Pelatihan SPMI


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

INFO PUBLIC TRAINING :

 Silahkan di Klik : Public Training


Menghadirkan informasi terkait: Pelatihan, Pengembangan, Training, Training Center, Pelatihan Kerja, manajemen mutu perpustakaan perguruan tinggi, iso 9001, standar perpustakaan

 

 

Jenis-Jenis Temuan dalam Audit Mutu Internal

Temuan Positif & Negatif

Ketika melakukan audit dalam kegiatan AMI, seringkali auditor mendapatkan beberapa temuan (finding). Jenis temuan tersebut dapat bervariasi, seperti:

  1. Temuan Positif
    • Good Practice; Prestasi
    • Conformities; kesesuaian
  2. Temuan negatif
    • Ketidak sesuaian; Non-conformities (NC)
      • Major (berat)
      • Minor (ringan)
  3. Observasi (OB)
    • Peluang untuk perbaikan (Opportunities for Improvement)
Temuan Ketidak sesuaian (KTS) Berat adalah:
  • KTS yang mengancam sertifikasi, akreditasi atau registrasi.
  • KTS yang berpengaruh besar terhadap kualitas produk/pelayanan PT
  • KTS yang menyebabkan risiko kehilangan konsumen/ mahasiswa
  • KTS yang merupakan ancaman/ gangguan terhadap kegiatan atau para pelaksana dalam organisasi.
Temuan Ketidak sesuaian (KTS) Ringan adalah:
  • KTS yang mudah diperbaiki/diralat
  • KTS yang tidak secara langsung mempengaruhi kualitas produk/pelayanan.
  • KTS yang tidak menghambat perolehan sertifikasi/akreditasi/ registrasi.
Baca juga: 12 Kendala Pelaksanaan Audit Mutu Internal

Bagaimana penjelasan detail dari masing-masing temuan audit diatas ?

Bagaimana cara mencatat temuan audit  dengan benar ?

Bagaimana cara menulis PTK (Permintaan Tindakan Koreksi) ?

Untuk mengenal lebih dalam tentang temuan-temuan audit dan aspek-aspeknya, silahkan diunduh file Slideshare berikut ini:


Klik Tautan dibawah ini:

Jenis Temuan dalam AMI


Semoga bermanfaat & salam mutu…

Hormat kami,

admin,

mutupendidikan.com

Pelatihan & Pendampingan SPMI & AMI


INFO PUBLIC TRAINING:

 Silahkan di Klik : Public Training


Untuk informasi Pelatihan/ In-House Training/ Pendampingan:
“Audit Mutu Internal”
Hubungi Customer Service Anda (Klik disini)

Menghadirkan informasi terkait: Pelatihan /Pelatihan Kerja / TQM / PDCA / Pendidikan / Sekolah / SMA / SMP / Sekolah Model / Sekolah SPMI /  Perguruan Tinggi / Sekolah Unggulan / Sekolah rujukan / Monitoring /  Pengembangan / Training / Training Center /Temuan Audit / Audit Mutu Internal / Temuan Mayor / Temuan Minor


tes psikologi sma smp sd

8 Manfaat Psikotes dalam Bidang Pendidikan

Berbagai manfaat tes psikologi /psikotes memang telah terbukti dirasakan oleh berbagai klien. Psikotes/ tes psikologi bertujuan untuk mengetahui kebiasaan & perilaku siswa / mahasiswa terutama pada saat menghadapi berbagai situasi. Melalui psikotes tertentu, siswa bisa diketahui gambaran karakteristiknya. Walaupun belum bisa secara utuh menggambarkan karakter seseorang, namun tes psikologi sangat membantu untuk memberikan informasi yang penting dan menonjol dari siswa.

Dibawah  ini akan diuraikan beberapa manfaat tes psikologi yang bisa menjadi bahan informasi penting, khususnya untuk membantu tim Perguruan Tinggi/ Sekolah dalam memperlancar jalannya proses pendidikan  dan proses belajar mengajar.

Beberapa Manfaat Psikotes (Tes Psikologi):
  1. Memahami Gambaran Umum Karakteristik Siswa. Karakteristik siswa dapat digambarkan dengan menggunakan tes psikologi. Ini juga merupakan salah satu kelebihan tersendiri dari tes psikologi. Gambaran umum seseorang bisa diketahui melalui tes psikologi tertentu dengan mengacu teori-teori psikologi kepribadian.
  2. Memahami Gambaran Umum Kebiasaan Siswa. Psikotes dapat pula digunakan untuk mengetahui gambaran umum kebiasaan siswa. Psikologi itu sendiri sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku seseorang, maka kemudian kebiasaan siswa bisa diidentifikasi melalui beberapa macam tes psikologi. Dengan psikotes dapat pula melihat bagaimana reaksi siswa saat menghadapi permasalahan tertentu.
  3. Mengukur Kemampuan & Potensi Siswa. Potensi dan kemampuan siswa dapat diukur melalui tes psikologi. Dengan tes tertentu dapat diketahui di bagian mana saja siswa lebih unggul dan memiliki potensi. Melalui tes psikologi, siswa dapat diukur minat dan bakat masing-masing.
  4. Menilai Motivasi Siswa. Motivasi siswa pada obyek dan pekerjaan tertentu dapat diukur melalui tes psikologi. Tingkat kemauan siswa yang cenderung berubah-ubah atau stabil dapat disimpulkan melalui beberapa macam tes psikologi.
  5. Manfaat untuk Persiapan Konseling. Sebagai Konselor tentu memerlukan informasi tentang karakteristik siswa. Tes psikologi digunakan untuk mendapatkan data-data tersebut. Hasil dari psikotes akan ditelaah oleh konselor sebagai persiapan dari konseling.
  6. Pemeriksaan Diagnosa Kejiwaan. Psikotes merupakan salah satu bentuk pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan pada siswa yang mengalami masalah kejiwaan. Beragam tes psikologi diagnostik, dapat dipilih yang paling sesuai. Ini akan sangat berguna sekali terutama untuk menentukan diagnosa kejiwaan yang paling sesuai.
  7. Bermanfaat dalam Persiapan Konsultasi. Konsultasi dilakukan untuk membantu siswa menemukan pemecahan masalah. Psikotes dapat membantu untuk mengetahui jenis konsultasi yang tepat yang akan diberikan kepada klien (siswa).
  8. Membantu Menyusun Metode Konseling. Dengan diketahuinya masalah-masalah yang ada, maka akan dapat dirancang strategi konseling yang tepat. Tes psikologi diberikan sesuai dengan kasus atau permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga strategi konseling yang digunakan dapat tepat sasaran.

Demikian informasi singkat tentang manfaat tes psikologi bagi dunia pendidikan. Penggunaan tes psikologi yang tepat akan dapat membantu proses pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi.

Demikian semoga informasi singkat ini dapat bermanfaat.

admin,

mutupendidikan.com


Layanan Jasa Psikotes / Tes Psikologi
>>> Informasi Tes Psikologi untuk Mutu Pendidikan <<<

Kata kunci untuk memudahkan pencarian blog ini:

tujuan tes psikologi, manfaat psikotes bagi siswa, penggunaan hasil tes psikologi, tes psikologi untuk anak, tes psikologi anak, manfaat psikologi dalam pendidikan, penggunaan hasil tes psikologis bagi guru mata pelajaran, tes psikologi pendidikan, penggunaan hasil tes psikologi bagi guru mata pelajaran, manfaat psikologi pendidikan, penggunaan hasil psikotes, penggunaan hasil tes psikotes bagi guru pembimbing,  sma, psikotes untuk smp, psikotes sd

Daftar Pengecekan untuk Audit SPMI

Mengoptimalkan Fungsi CheckList

Seorang auditor seringkali memerlukan checklist (daftar pengecekan) dalam menjalankan tugasnya. Tujuannya agar dalam proses audit yang sedang berjalan, hasilnya dapat lebih terarah, efektif dan efisien.

Daftar pengecekan memiliki kelebihan sekaligus juga punya beberapa kelemahan.

Kelebihan adanya checklist adalah:
  1. Auditor menjadi lebih siap.
  2. Efisiensi waktu.
  3. Lebih sistematis.
  4. Memorisasi/pengingat
  5. Memberi gambaran sistem mutu secara menyeluruh (Big Picture)
Adapun kelemahannya adalah:
  1. Dapat mengabaikan hal-hal yang tidak tercantum dalam daftar pengecekan.
  2. Audit menjadi kaku & Kurang fleksibel.
  3. Dipersiapkan berdasarkan imajinasi/persepsi auditor dan mungkin kurang realistik.

Bagaimana mengoptimalkan fungsi daftar pengecekan (checklist) ?

Untuk itu Bapak Ibu yang berminat mempelajari lebih dalam silahkan diunduh file PDF berikut ini:


Silahkan unduh materi berikut:


Demikian, semoga bermanfaat.

Salam Mutu,

mutupendidikan.com

Pelatihan dan Pendampingan SPMI

 


Dapatkan Slideshare lengkap Audit Mutu Pendidikan:

Silahkan klik disini